Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) kini menjadi salah satu penyakit metabolik yang paling banyak dialami masyarakat dunia. Laporan International Diabetes Federation menyebutkan bahwa 537 juta orang hidup dengan diabetes, dan angka ini diperkirakan melonjak hingga 783 juta orang pada tahun 2045. Kondisi ini bukan hanya soal tingginya kadar gula darah, tetapi juga mengenai berbagai komplikasi yang mengikutinya mulai dari kerusakan saraf, gangguan ginjal, hingga gangguan fungsi hati. Salah satu penyebab percepatan komplikasi tersebut adalah stres oksidatif, kondisi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan antara radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. 淚ni seperti karat pada logam. Lambat laun merusak jaringan tubuh, ujar para peneliti.
Dalam konteks inilah, sebuah tanaman lokal Kalimantan yang sering digunakan masyarakat Dayak – Bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) – mulai mencuri perhatian ilmuwan, termasuk peneliti dari Fakultas Kedokteran 51动漫. Bajakah tampala sejak lama dikenal dalam pengobatan tradisional sebagai ramuan untuk stamina dan pemulihan tubuh. Namun, dunia ilmiah membutuhkan bukti objektif: apakah tanaman ini memang memiliki efek biologis nyata?
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Tim Departemen Faal dan Biokimia FK Unair bersama mahasiswa S2 Ilmu Kedokteran Dasar FK Unair mencoba menjawab pertanyaan ini dengan pendekatan ilmiah modern. Fokus penelitian terletak pada kemampuan bajakah dalam mengurangi stres oksidatif, dan efeknya terhadap fungsi hati, salah satu organ yang paling terdampak dalam penyakit diabetes.
Pada penderita diabetes, kadar gula yang tinggi memicu peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS). Ketika jumlah ROS ini melebihi kapasitas antioksidan tubuh, terjadilah stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan sel. Hati, sebagai pusat metabolisme tubuh, menjadi salah satu sasaran utama penumpukan lemak, terjadi inflamasi, penurunan fungsi detoksifikasi, serta kerusakan sel akibat peroksidasi lipid. Untuk mengukur tingkat kerusakan tersebut, peneliti menggunakan biomarker bernama F2-isoprostane. Semakin tinggi kadarnya, semakin berat stres oksidatif yang terjadi.
Dalam penelitian ini, tikus Wistar jantan diinduksi menjadi diabetes menggunakan streptozotocin (STZ), yang merusak sel beta pankreas hingga tikus mengalami kondisi mirip pasien diabetes. Kelompok percobaan dibagi menjadi lima kelompok, termasuk kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak bajakah 150 mg/kg BB, 300 mg/kg BB dan 450 mg/kg BB. Ekstrak bajakah diberikan secara oral setiap hari selama 21 hari, lalu jaringan hati diperiksa untuk mengukur kadar F2-isoprostane.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan coba diabetes tanpa perlakuan memiliki kadar F2-isoprostane paling tinggi, menandakan stres oksidatif berat. Hewan coba yang mendapat ekstrak bajakah tampala mengalami penurunan signifikan kadar F2-isoprostane, dengan dosis 150 mg/kg dan 450 mg/kg menunjukkan penurunan paling besar. Semua kelompok percobaan yang mendapat ekstrak mengalami peningkatan berat badan, sebuah tanda perbaikan kondisi metabolik. Dengan kata lain, ekstrak bajakah tampala berpotensi menghambat peroksidasi lipid, melindungi hati dari kerusakan, serta membantu pemulihan metabolik pada kondisi diabetes.
Kandungan metabolit aktif dalam bajakah tampala memiliki beberapa mekanisme penting diantaranya Flavonoid membantu menangkap radikal bebas dan meningkatkan enzim antioksidan tubuh, Tanin melindungi sel dari kerusakan DNA dan Saponin membantu mengatur kadar gula darah, melindungi sel pankreas, serta menurunkan peradangan. Sinergi dari ketiga senyawa ini diduga membuat bajakah bekerja sebagai pelindung sel, terutama pada organ hati yang rentan pada kondisi diabetes. Temuan ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan produk herbal antidiabetes berbasis bahan alam lokal. Selain melestarikan biodiversitas Kalimantan, hasil penelitian ini juga memperkuat bukti ilmiah mengenai potensi tanaman tradisional yang selama ini digunakan masyarakat lokal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan solusi bagi berbagai masalah kesehatan global攁sal digali dengan pendekatan ilmiah yang modern. Dengan dukungan penelitian lanjutan dan pengembangan formulasi yang tepat, bajakah tampala dapat menjadi salah satu ikon herbal Indonesia untuk kesehatan dunia.
Penulis : Dr. Siti Khaerunnisa, M.Si





