UNAIR NEWS – Fokus tingkatkan potensi ekonomi lokal, tim mahasiswa yang tergabung dalam program 51动漫 (UNAIR) mengembangkan produk sirup buah naga. Bersama perangkat desa, ibu-ibu PKK, dan warga setempat, tim BBK di Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi itu memanfaatkan sisa kulit buah naga sebagai pewarna alami untuk olahan pancake dan puding. Kegiatan tersebut terlaksana pada Kamis (15/1/2026).
Hasilkan Produk Bernilai Jual
Naifa Khaliya Aryani selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa pengolahan buah naga itu menjadi program kerja utama timnya. Program tersebut, ia rancang untuk menghasilkan produk bernilai jual serta mendorong peningkatan pendapatan UMKM desa.
淚bu-ibu PKK memiliki antusias yang tinggi. Dengan adanya olahan sirup buah naga, mereka juga antusias belajar olahan lain seperti selai buah naga yang bisa dihasilkan dari sisa ampas sari buah naga. Ujar Naifa, panggilan akrabnya.
Selama kegiatan berlangsung, ibu-ibu PKK turut serta dalam praktik pengolahan buah naga dengan pendampingan langsung dari mahasiswa BBK. Melalui kegiatan tersebut, ibu-ibu mempelajari tahapan pengolahan secara terstruktur. Lebih lanjut, hasil olahan itu juga dapat diterapkan secara mandiri sebagai peluang usaha berkelanjutan.
Dorong Pemasaran Digital
Selain menjadi produk sirup, pengolahan buah naga juga dimanfaatkan oleh mahasiswa BBK untuk menghasilkan selai dari sisa ampas buah naga. Menurut Romi Gavra Anugrah, salah satu perwakilan tim, menilai seluruh bagian buah dapat bernilai guna. Sebagai mahasiswa Manajemen, Romi menjelaskan bahwa produk olahan buah naga memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama jika dipasarkan melalui platform digital seperti e-commerce dan TikTok.
淒engan memanfaatkan teknologi, pelaku UMKM di desa terpencil dapat menjangkau konsumen lebih luas melalui TikTok Affiliate, sehingga nilai ekonomi desa dapat meningkat, ujarnya.
Melalui program pengolahan buah naga menjadi sirup sekaligus selai, tim BBK itu berupaya mendukung target dalam ke 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Hal tersebut, untuk mendorong industrialisasi secara inklusif dan berkelanjutan, serta meningkatkan inovasi maupun akses teknologi dalam rangka membangun kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Muhamad Maulana Saputro (Ketua BBK 7 UNAIR Desa Ringintelu)





