51

51 Official Website

BBK 7 Gumeng Dorong Inovasi Porang Rendah Kalsium Oksalat untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Pemaparan Materi Pengelolaan Porang Rendah Kalsium Oksalat oleh Prof. Pratiwi Pudjiastuti (Foto: Dok. Tim BBK 7 Gumeng)

UNAIR NEWS – Potensi porang sebagai komoditas unggulan lokal terus dikembangkan melalui pendekatan berbasis riset dan pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi bertajuk Peningkatan Nilai Guna Porang melalui Produksi Porang Rendah Kalsium Oksalat yang diselenggarakan oleh mahasiswa BBK 51 di Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pemanfaatan porang yang lebih aman, bernilai tambah, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran desa dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Fakultas Sains dan Teknologi 51, yaitu Prof. Dr. Dra. Pratiwi Pudjiastuti dan Prof. Dr. Muji Harsini, serta dihadiri oleh dosen-dosen lain yang tergabung dalam tim porang fakultas tersebut. Peserta kegiatan terdiri atas masyarakat dan petani porang Desa Gumeng yang selama ini mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan, khususnya dari komoditas porang yang memiliki potensi pasar luas namun masih menghadapi tantangan dalam aspek pengolahan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 22 Januari 2026 ini berfokus pada pemaparan ilmiah mengenai karakteristik tanaman porang, khususnya kandungan kalsium oksalat yang berpotensi menimbulkan rasa gatal, iritasi, dan gangguan kesehatan apabila tidak diolah dengan benar. Para narasumber menjelaskan berbagai metode baik secara fisika maupun kimia yang tepat guna dapat diterapkan untuk menurunkan kadar kalsium oksalat melalui proses pascapanen dan pengolahan yang terstandar, sehingga porang dapat dimanfaatkan secara lebih aman dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Produksi porang rendah kalsium oksalat tidak hanya berorientasi pada keamanan pangan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi hilirisasi porang dan peningkatan daya saing produk lokal, ungkap Prof. Pratiwi Pudjiastuti. Ia menekankan bahwa penerapan hasil riset di tingkat masyarakat merupakan kunci agar porang tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Muji Harsini menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat agar inovasi pengolahan porang dapat diterapkan secara konsisten di lapangan. Menurutnya, keberhasilan pengembangan porang tidak cukup hanya melalui satu kali sosialisasi, melainkan memerlukan pendampingan, transfer pengetahuan yang berkelanjutan, serta keterbukaan masyarakat untuk mengadaptasi teknologi sesuai dengan kondisi lokal. Kolaborasi ini penting agar ilmu tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat desa, ujarnya.

Selain sosialisasi porang, kegiatan ini juga menyinggung sosialisasi pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme sebagai produk multifungsi. Edukasi ini memperkuat pesan bahwa peningkatan nilai guna sumber daya lokal dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan limbah rumah tangga, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Gumeng diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman baru terkait keamanan dan pengolahan porang, tetapi juga terdorong untuk mengembangkan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab dan berorientasi jangka panjang. Secara lebih luas, kegiatan ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan kualitas dan keamanan pangan berbasis komoditas lokal, serta berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong inovasi dan produksi berkelanjutan di tingkat desa.

Penulis: BBK 7 UNAIR Desa Gumeng

AKSES CEPAT