51动漫

51动漫 Official Website

BBK 7 Purwodadi Dorong Publikasi Kerajinan Kerang Simping Berbasis SDGs 8 dan 12

Pak Atho檜l Khasib, seorang pengrajin kerajinan berbahan dasar kerang simping berusia 45 tahun, menyampaikan bahwa usaha yang dirintisnya telah berjalan sejak tahun 2015. Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai oleh BBK 7 Purwodadi di kediamannya yang sekaligus menjadi tempat produksi kerajinan kerang simping.

Dalam wawancara tersebut, Beliau menjelaskan bahwa bahan baku kerang simping diperoleh dari bonggolan kerang yang tersedia secara musiman, umumnya pada bulan Maret hingga April, bergantung pada hasil tangkapan nelayan. Proses produksi diawali dengan pencucian untuk menghilangkan lumpur, kemudian pemotongan menggunakan mesin agar berbentuk bulat sempurna. Selanjutnya, kerang dicuci menggunakan air keras dan bahan kimia seperti HCL untuk menghilangkan sisik, lalu dikeringkan dan diwarnai menggunakan cat mobil.

Menurut Bapak Atho檜l Khasib, kerajinan berbahan kerang tersebut diolah menjadi berbagai produk, seperti kaca hias, tempat tisu, dan tempat lilin. Harga produk bervariasi, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp1 juta, tergantung tingkat kesulitan dan permintaan konsumen. Pengiriman produk dilakukan menggunakan kontainer dan telah menjangkau pasar internasional, di antaranya Amerika, Malaysia, dan Australia. Untuk pasar luar negeri, harga jual produk dapat mencapai Rp150 ribu per unit. Lebih lanjut, Beliau menuturkan bahwa dalam menjalankan usahanya ia mempekerjakan sekitar tiga orang karyawan yang direkrut sesuai jumlah pesanan. Sistem produksi dilakukan berdasarkan pre-order dengan estimasi pengerjaan yang menyesuaikan tingkat kesulitan permintaan pelanggan. Dari sisi pemasaran, produk kerajinan ini awalnya dipasarkan melalui Tokobagus dan Bukalapak dengan iklan gratis di e-commerce, serta promosi melalui Facebook. Saat ini, usaha tersebut juga telah memiliki akun Shopee dan melayani pemesanan melalui WhatsApp. Atho檜l menambahkan bahwa usaha yang dirintis bersama keluarga tersebut mampu menghasilkan omzet sekitar setengah miliar rupiah per tahun. Usaha kerajinan kerang simping ini juga telah memiliki surat keterangan usaha dari desa serta sertifikat untuk pengiriman ekspor.

Keberadaan usaha kerajinan kerang simping ini dinilai relevan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi lokal, serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan pemanfaatan bahan baku alam secara bernilai tambah dan berkelanjutan.



Penulis : Mahasiswa BBK Purwodadi

AKSES CEPAT