Kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah dasar masih menjadi isu yang kerap terabaikan, meskipun berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang dan proses belajar anak. Berdasarkan pernyataan Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) yakni Dr. Eva Fauziah, drg., Sp.KGA(K), DKI Jakarta, bahwa prevalensi karies gigi pada anak di Indonesia masih berada pada angka di atas 90 persen. Angka ini tentunya sangat tinggi dan memerlukan perhatian lebih. Kondisi tersebut juga tercermin di sekolah dasar, termasuk di Desa Sekarbagus, di mana edukasi kesehatan gigi belum menjadi aspek yang perlu diintegrasi.
Dalam upaya perbaikan kualitas kesehatan gigi anak sekolah dasar yang merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif yang selaras dengan indikator Sustainable Development Goals (SGSs) 3 tentang Good Health and Well Being yang diharap menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia, mahasiswa BBK 7 51动漫 (Unair) desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan menyelenggarakan Elementary Dental Education di SD Negeri 2 Sekarbagus. Program ini meliputi edukasi pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut diikuti dengan praktik menggosok gigi dengan teknik yang benar bersama-sama. Program edukasi ini merupakan kegiatan yang pertama kali ada di SDN 2 Sekarbagus dengan antusiasme yang besar dari siswa dan guru.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode edukasi interaktif yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan gigi siswa dari kelas 1 hingga 3 SD. Materi disampaikan secara sederhana dan komunikatif menggunakan flipchart dan alat peraga yakni phantom sambil menyanyikan lagu berjudul 淕osok Gigiku bersama-sama. Setelah menyimak tata cara menggosok gigi, siswa melanjutkan dengan praktik menyikat gigi menggunakan teknik yang benar. Kegiatan ini berlangsung menyenangkan karena siswa tampak bersemangat mendapat ilmu dan sikat gigi baru dari mahasiswa BBK 7 Unair. Siswa yang dapat menjawab pertanyaan juga diberi hadiah tambahan yakni bundle sikat dan pasta gigi sehingga siswa lebih bersemangat menjaga kesehatan gigi. Tak lupa siswa diajarkan cara mencuci tangan yang sesuai standar kesehatan di akhir kegiatan.
Melalui kegiatan ini diharapkan agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, kegiatan Elementary Dental Education dapat berjalan dengan baik, namun masih memiliki keterbatasan, terutama dalam durasi pelaksanaan yang singkat sehingga belum memungkinkan dilakukan evaluasi jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan keberlanjutan program melalui peran sekolah dan puskesmas setempat agar edukasi gigi dapat diterapkan secara konsisten dalam pembelajaran sehari-hari.





