UNAIR NEWS – Dalam menghadapi tantangan peradaban di tengah dinamika sosial dan politik Indonesia, mahasiswa perlu memiliki ruang untuk berdialog dan berpikir kritis. Hal itulah yang melatar belakangi Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) 51 (UNAIR) menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Wawasan Kebangsatan bersama sosiolog dan sastrawan Okky Puspa Madasari, SIP, MSc., pada Sabtu (6/11/2025) secara online.
Pentingnya Mempelajari Wawasan Kebangsaan
Mengusung tema Menelusuri Peradaban Lewat Narasi, acara ini menjadi wadah mahasiswa untuk menelaah peran narasi, budaya, dan kebebasan berpikir dalam membentuk kesadaran bangsa. Project Officer kegiatan, Asfassofiy Al Mubarok, menjelaskan bahwa kegiatan ini hadir sebagai ruang dialog kritis untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap realitas sosial yang terjadi.
Peradaban Indonesia kini menghadapi tantangan besar di tengah dinamika sosial-politik. Melalui dialog seperti ini, kami ingin mendorong mahasiswa agar tumbuh sebagai generasi yang kritis dan berani berpikir, ujar Asfassofy.
Dalam pemaparannya, Okky menjelaskan bahwa buku Wawasan Kebangsatan adalah kumpulan dari esai yang pernah ia tulis dari hasil observasi sepuluh tahun terakhir terhadap fenomena sosial di Indonesia. Tulisan-tulisan tersebut, yang sebelumnya dimuat di media berita seperti Jawa Pos dan beberapa media nasional lainnya, sebagai refleksi atas kegelisahan dan analisisnya sebagai sosiolog dan penulis.
Benang merah dari esai ini adalah komentar terhadap peristiwa yang terjadi di masyarakat. Saya menganalisisnya dari sudut pandang sosial, politik, dan kultural, jelas Okky.
Ia menyoroti bagaimana kekuasaan seringkali menciptakan narasi yang berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Dengan mempelajari wawasan kebangsaan, dapat melatih kemampuan berpikir kritis seseorang terhadap segala sesuatu yang terjadi. Membaca Wawasan Kebangsaan berarti menyusun mozaik dan puzzle dari beberapa tahun terakhir, tambahnya.
Pentingnya Kebebasan Berpikir dan Menulis
Okky juga mengajak para generasi muda untuk berani menyuarakan kebebasan berpikir lewat tulisan. Menurutnya, kebebasan berpikir dan menulis adalah fondasi peradaban. Karya sastra tidak akan lahir tanpa kebebasan berpikir. Anak muda harus diberi ruang untuk bersuara dan menulis, tegasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pada generasi muda untuk terus mempertanyakan setiap informasi guna melatih kemampuan berpikir kritis. Tidak hanya itu, Okky juga mengingatkan untuk senantiasa melindungi diri dengan fakta dan data ketika bersuara.
Aktualitas dan faktualitas adalah tameng untuk melindungi diri saat menulis. Kuasai teknik menulis, perkuat dengan data, dan jangan melanggar hukum, pesannya.
Sebagai penutup, Okky menegaskan bahwa orang yang berani menyuarakan pendapat adalah tanda bahwa orang tersebut memiliki kesehatan mental yang baik. Orang yang berani bersuara justru memiliki mental yang lebih sehat daripada mereka yang putus asa, pungkasnya.
Penulis: Muhammad Nabil Fawaid
Editor: Ragil Kukuh Imanto





