51动漫

51动漫 Official Website

Bedah Film Spring at Takano Tofu Shop oleh Native Jepang UNAIR dan Konjen Jepang

Diskusi dan bedah film Spring at Takano Tofu Shop oleh (dari kiri ke kanan) Muchamad Zinuri staf Bagian Pendidikan Konjen Jepang Surabaya bersama Nepa-san, Ura-san, dan Katsuhama Sensei native speaker Jepang Prodi Bahasa dan Sastra Jepang, FIB, UNAIR di Aula Konsulat Jenderal Jepang Surabaya (Rabu, 25/6/2025). Foto: Konsulat Jenderal Jepang Surabaya
Diskusi dan bedah film Spring at Takano Tofu Shop oleh (dari kiri ke kanan) Muchamad Zinuri staf Bagian Pendidikan Konjen Jepang Surabaya bersama Nepa-san, Ura-san, dan Katsuhama Sensei native speaker Jepang Prodi Bahasa dan Sastra Jepang, FIB, UNAIR di Aula Konsulat Jenderal Jepang Surabaya (Rabu, 25/6/2025). Foto: Konsulat Jenderal Jepang Surabaya

UNAIR NEWS?– Program studi Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Jepang Surabaya dan Japan Foundation menggelar pemutaran dan bedah film Spring at Takano Tofu Shop. Bedah film bersama ini berlangsung di Aula Konsulat Jenderal Jepang, Jalan Sumatra, Surabaya, Rabu (25/6/2025). Acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan “Butai 2025” yang bertujuan untuk mengisi liburan pelajar sekolah dengan menambah wawasan mengenai kebudayaan Jepang.

Spring at Takano Tofu Shop mengisahkan Takano, seorang produsen tahu rumahan berusia 76 tahun yang tinggal bersama putrinya, Haru, di kota Hiroshima sebelum masa pandemi Covid-19. Setiap hari mereka menjalani rutinitas membuat tahu secara tradisional, namun kehidupan sederhana itu mulai berubah ketika Takano yang mengidap penyakit jantung mulai khawatir akan masa depan Haru yang belum menikah. Tekanan dari teman-temannya untuk mencarikan jodoh bagi Haru dan pertemuannya dengan Nakano, sesama pasien jantung yang selamat dari bom atom, membuat Takano merenungkan arti keluarga, kesendirian, dan harapan.

Kegiatan diskusi dan bedah film dipandu oleh Muchammad Zinuri dari Bagian Pendidikan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, dengan menghadirkan tiga narasumber asal Jepang. Antara lain Katsuhama Michiko, sukarelawan pengajar JICA yang bertugas di Prodi Bahasa dan Sastra Jepang; serta Yabe Urara dan Koizumi Mitsharu, mahasiswa dari program Ashinaga Foundation yang tengah menjadi sukarelawan mengajar di prodi yang sama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk mengenal salah satu budaya Jepang yang dikenal dengan Omiai dan masa tua di Jepang.

Omiai (お見合い) adalah tradisi perjodohan formal di Jepang, di mana dua orang yang belum saling mengenal diperkenalkan satu sama lain untuk mencari pasangan hidup. Dalam film, ditayangkan teman-teman Takano yang mengumpulkan CV dari pria-pria terpilih, kemudian dicek dan diwawancara, untuk dijodohkan dengan Haru.

Katsuhama menceritakan, saat ini di Jepang Omiai sudah jarang ditemukan. Menurutnya, orang-orang di zaman sekarang menemukan pasangan melalui teman sekolah atau kuliah. Namun, orang tua dan kakek-nenek Katsuhama menikah lewat perjodohan. Sementara itu, Koizumi dan Yabe yang berusia lebih muda daripada Katsuhama, berpendapat bahwa akhir-akhir ini banyak juga anak muda yang mencari pasangan melalui aplikasi kencan atau pencari jodoh.

Di Indonesia orang-orang banyak mengajukan pertanyaan seputar pernikahan. Hal tersebut juga masih sering terjadi di Jepang, meskipun dibungkus dengan ungkapan candaan. Mengenai hal tersebut, Katsuhama sendiri mengungkapkan bahwa tidak ingin menanyakan hal seperti itu kepada anak muda, karena khawatir menjadi tidak kekerasan.

Dalam film Spring at Takano Tofu Shop juga menggambarkan masa tua di Jepang di mana Takano dan Nakano diceritakan menjadi lansia yang saling mendukung satu sama lain di hari tua. Nakano yang terdampak bom atom Hiroshima puluhan tahun lalu, mengalami masalah kesehatan dan harus rutin ke rumah sakit. Dia tinggal sendirian tanpa pasangan, anak, maupun saudara. Hal itu membuat Takano dilema. Dia ingin membiarkan Haru menikah dan berbahagia, namun itu berarti dia akan kesepian dan harus melanjutkan toko tahunya sendirian. Sementara itu, Haru juga terlihat tidak terlalu menunjukkan keinginannya menikah lagi, karena ingin terus mendampingi ayahnya dan tidak memikirkan kehidupannya sendiri.

Masing-masing narasumber menceritakan bagaimana kondisi keluarga mereka yang berbeda-beda, menghadapi anggota keluarga yang berusia lanjut. Katsuhama mendorong orang tuanya untuk selalu dekat dengan teman-teman mereka, karena anak-anaknya semua sudah menikah dan memiliki keluarga, sehingga tidak tinggal lagi bersama orang tua di rumah. Masing-masing keluarga membentuk kemandirian. Sementara Koizumi mengungkapkan bahwa keluarganya mengupayakan untuk tetap tinggal berdekatan satu sama lain di wilayah yang sama, agar dapat saling mengetahui apabila terjadi sesuatu.

Di Jepang, fenomena lansia yang tinggal sendirian sudah menjadi rahasia umum. Menurut Yabe, hal tersebut terjadi karena pengaruh karakter orang Jepang yang selalu ingin mandiri dalam segala hal, bahkan tidak ingin merepotkan anak atau keluarganya sendiri. Saat seseorang sudah menikah, mereka sudah menjadi keluarga yang terpisah dan memiliki urusannya masing-masing. Mungkin hanya pada keadaan darurat, mereka meminta bantuan dari keluarga dan sanak saudara.

Spring at Takano Tofu Shop merupakan film yang tidak hanya menceritakan sebuah tahu, melainkan juga potongan cerita kehidupan yang sederhana namun menyentuh. Selain itu, melalui percakapan antar karakter juga dijelaskan adegan pembuatan tahu dan bagaimana rasanya yang enak. Hal itu memancing keinginan peserta untuk merasakan seperti apa tahu Jepang.

Umumnya tahu Jepang sesuai dengan adegan dalam film, yakni berwarna putih, bertekstur lembut, serta dengan rasa kedelai yang sangat kuat dan tawar. Katsuhama  dan Yabe mengaku mengonsumsi tahu sebagai menu sehari-hari di rumah, terutama dalam bentuk hiyayakko. Satu balok tahu ukuran kecil yang dingin diletakkan di piring, diberi irisan daun bawang, jahe dan shoyu atau kecap asin. Terkadang potongan kecil tahu juga ditambahkan dalam sup miso bersama rumput laut. Ada juga kembang tahu dengan tekstur lembut yang ditambahkan dalam sup. Adanya kegiatan bedah film Spring at Takano Tofu Shop, para peserta harapannya dapat memahami dan memiliki wawasan mengenai budaya dan kehidupan sosial Jepang.

Penulis: Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB
Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT