51动漫

51动漫 Official Website

BEM FIB Diskusikan Tema Kebangsaan Bersama Budayawan Unhas

SUASANA diskusi kebangsaan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Buday (FIB) 51动漫 di Sekretariat BEM KM Pada Rabu (1/8). (Foto: Fariz Ilham Rosyidi )
SUASANA diskusi kebangsaan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Buday (FIB) 51动漫 di Sekretariat BEM KM Pada Rabu (1/8). (Foto: Fariz Ilham Rosyidi )

UNAIR NEWS Berdasar data persebaran penduduk Indonesia Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, Jawa menempati posisi pertama persebaran suku terbanyak. Yakni, mencapai angka 95,2 juta jiwa atau sekitar 40,2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Jumlah itu terlampui lebih tinggi dibanding suku Sunda yang menempati posisi kedua. Yakni, dengan jumlah 36,7 juta jiwa alias mencapai 15,5 persen. Terdapat jarak sekitar 24,7 persen. Atas persebaran penduduk yang banyak itu, lalu muncul satu pertanyaan. Apakah benar, Indonesia adalah Jawa?.

Untuk membahas itu, diskusi kebangsaan digelar sejumlah mahasiswa lintas suku dan budaya beberapa waktu lalu. Bertempat di Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) 51动漫, hadir dalam diskusi tersebut Presiden BEM UNAIR 2018 Galuh Teja Sakti, Ketua BEM FIB UNAIR Yunaz Ali Akbar Karaman, dan Budayawan Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar Abdi Mahesa.

Diskusi oleh BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR itu bukan bermaksud mempertegas kotak-kotak isu kesukuan. Melainkan, hal tersebut ditujukan untuk mempererat dan memperkukuh nilai kebinekaan serta kebangsaan Indonesia.

Teja menyatakan, sebanyak 70 persen atau 戮 kekuasaan, legitimasi, dan tata cara pemerintahan Indonesia berada di Jawa. Namun, hal itu bukan serta merta memunculkan pandangan bahwa Indonesia hanyalah Jawa.

滺al ini (anggapan Indonesia adalah Jawa, Red) tidak bisa dibenarkan. Sebab, Indonesia adalah bentuk ke-plural-an bangsa yang bisa dilihat dari jaman (Alm.) Presiden Gus Dur (Abdurahman Wachid), kata mahasiswa FH UNAIR tersebut dalam diskusi pada Rabu (1/8).

Sejak masa beliau, lanjut dia, Indonesia bukan hanya Jawa. Semua golongan minoritas di Indonesia dipersatukan dalam paham yang mengedepankan (nilai) kebersamaan dan kebangsaan dalam bentuk kenegaraan.

Keberagaman

Di sisi lain, kegiatan ILMIBSI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya Seluruh Indonesia) di Bali beberapa waktu lalu, turut memberikan pengalaman kebangsaan yang luar biasa bagi Yunaz. Di sana, ungkap dia, nilai kebersamaan dan kebangsaan dalam keberbedaan begitu terasa bak miniatur kebinekaan yang dimiliki Indonesia.

漇aya di Bali benar-benar merasakan menjadi Indonesia, ucapnya.

滲agaimana tidak? Selama seminggu saya rapat bersama mahasiswa seluruh Indonesia dengan logat, bahasa, dan intonasi yang berbeda-beda. Mulai Universitas Ar-Raniri (Aceh) sampai Unipa (Universitas Papua) hadir, imbuhnya.

Kesan itu juga dirasakan Yunaz ketika di Labuan Bajo. Dia menceritakan, seratus persen penduduk sana beragama Katolik. Namun, dalam penyambutan yang biasanya menggunakan babi, lauknya diganti dengan ayam karena mereka tahu (sebagian) kami muslim.

滲ahkan, kelompok kami yang terdiri atas 9 orang, 8 Muslim, dan 1 Hindu disuruh bersama-sama untuk menyembelihnya dengan cara kami masing-masing, ungkapnya.

Bukan hanya itu. Masyarakat di sana sangat menghargai perbedaan. Kesan itu didapati Yunaz saat warga menyediakan ruang Sholat dengan satu sajadah dari kain tradisional mereka (ulos).

漇angat senang dan tidak mempersalahkan agama kita. Mereka bungkus dengan senyum hangat dengan penuh keramahan asli orang timur Indonesia, ungkap mahasiswa pehobi bersepeda tersebut.

Jawa dan Bugis

Sementara itu, Abdi membuka paparannya dengan tiga bahasa sambutan dari suku Makassar, Bugis, dan Toraja. Orang Makassar asli tersebut mengakui begitu kagum dengan kebudayaan Jawa. Berbagai daerah, sebut dia, sangat tertarik dengan Jawa.

漇aya tertarik dengan Jawa karena tata krama. Bagi saya, itu adalah batasan untuk berperilaku. Namun, di dalamnya juga terdapat nilai positif serta kebermanfaatan yang tidak terbatas, ucap Mahasiswa Sastra Bugis UNHAS tersebut.

Mengenakan pakaian merah khas Sulawesi dengan hiasan pin tanda kebudayaannya, Abdi menyatakan bahwa di dalam suku Bugis, kebudayaan tertua adalah Jawa. Dia mencontohkan, di Jawa, ada Cerita Panji dan seni pertunjukkan.

漈erdapat 2 kapal dengan 7 tiang di (relief) Candi Borobudur tentang Jawa. Yaitu tentang Wanapati, sebuah Cerita Panji yang berasal dari (Kerajaan) Daha Kediri, katanya.

Pehobi penelitian kebudayaan itu menjelaskan karya sastra Makassar, Kitab (Serat) La Ga Ligo. Kitab yang dinobatkan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai Memories of the World pada 2011 tersebut, kata dia, memuat perjalanan terakhir seseorang menuju ke negeri Jawa.

滼adi, saya berkesimpulan Jawa adalah miniatur agung dari Indonesia. Sebab, panggung (Indonesia, Red) berada di Jawa, ucapnya. (*)

Dan, pada akhirnya, semuanya mesti menyadari bahwa nilai keberbedaan merupakan sebuah kekuatan yang dimiliki bangsa Indonesia. Termasuk persatuan dan kesatuan. Sebab, semangat keberbedaan dan persatuan itulah bangsa Indonesia mampu berdiri hinggi kini. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa檌

AKSES CEPAT