n

51动漫

51动漫 Official Website

Berpesta Dengan Duka I

Ilustrasi caseygriffin.com
Ilustrasi caseygriffin.com

UNAIR NEWS – Ia mengundangku ke rumahnya. Laki-laki itu memang gemar sekali berpesta, bahkan ia tak pernah melihat situasi saat berpesta. Baru saja seminggu yang lalu ia mengundangku untuk berpesta, atas kenaikan gajinya di sebuah perusahaan, tempat ia bekerja selama tiga tahun belakangan. Pesta itu dilangsungkan di sebuah cafe, yang sepertinya sudah ia kosongkan khusus untuk tamu-tamu pestanya. Istrinya tak turut hadir di sana, katanya ini khusus.

Satu bulan yang lalu kami juga berpesta, saat itu ia baru saja pindah rumah. Ke tempat ia mengundangku sekarang. Masih sama, tak ada yang berubah dari rumah ini. Hanya kuingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumah barunya, aku melihat sebuah pigora foto. Di dalamnya terbingkai dua orang suami istri berbalut baju pernikahan adat Jawa.Pigora itu tak terpasang lagi ketika tadi aku masuk. Dindingnya lebih lengang dari sebelumnya, tapi masih ada satu lukisan yang di dalamnya ada kuda-kuda yang berlari di pantai, dengan warna cat agak muram, pasir hitam, dan langit mendung.

Hari ini pestanya lebih ramai dari dua pesta yang kuhadiri sebelumnya.Mau pesta apa lagi dia, pikirku.

Seperti biasa saat aku datang di sana sudah banyak tamu lainnya. Ada yang asyik berbincang dengan lawan jenisnya, ada yang bergerombol membincangkan politik dan tetek bengek, ada yang memilih menyendiri di pojok dan menikmati minumannya di samping jendela, ada juga yang berdiri di sebelah meja makanan, sibuk memperhatikan makanan apa yang akan dicomotnya. Usia mereka rupa-rupa. Jadi pesta ini tak sama sekali identik dengan reuni SMA satu angkatan. Mirip reuni akbar, tempat para orang tua berusaha menjodohkan anak-anak mereka.

Tak semua tamu aku kenal. Aku kenal Durja, pria bertubuh besar, tinggi, dan tegap, kulitnya coklat terbakar. Ia memakai kemeja denim dan melambaikan tangannya ke arahku ketika aku datang. Aku kenal Lukas, yang sedang berbincang dengan Durja. Lukas bertubuh lebih pendek dari Durja, tapi perutnya sedikit membumbung ke depan dari pada perut Durja yang rata. Rambutnya botak. Kutahu dari pemilik rumah bahwa ia orang yang tak pernah absen dari pesta. Aku bergabung bersama mereka. Mereka sedang membicarakan pesta ini saat aku tiba.

渁ku nggak ngerti apa sih maksud dia, masak suasana hati kayak gimana pun dipestain sama dia?

淒urja..durja..dia memang suka pesta. Mau tidak mau kita juga harus datang sebagai teman. Hitung-hitung makan gratis.

淪oal makanan bukan perkara, tiap hari aku masih bisa beli makanan pakai hasil kerjaku.

測a mau gimana lagi, dia itu kan nggak suka sepi. Hura-hura terus memang. Apa kau lupa sewaktu kita kuliah, dia yang paling banter ngajak kita ke klub.

渢entu nggak, Kas. Aku bertemu istriku di sana. Meskipun harus mabuk dulu.

Kubiarkan mereka berbicara dulu, sebelum aku masuk dan ikut pembicaraan mereka. Sambil kuperhatikan sekelilingku, barang kali istri pemilik rumah muncul tiba-tiba di tengah pesta. Di pesta ini jumlah perempuan tak sebanyak tamu laki-laki. Beberapa dari mereka merokok. Maria, mengenakan gaun hitam selutut, rambutnya hitam berkilau, kukunya dikutek hitam, jari-jarinya yang lentik menggenggam sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya. Aku mengenal Maria di pesta rumah baru satu bulan yang lalu. Baru hari ini aku melihatnya kembali. Badannya semakin berisi, dadanya menyembul keluar seperti ingin tumpah, rambutnya dipotong menyerupai laki-laki, bibirnya bergincu merah, semakin cantik saja ia.

淜alian sudah lama datang?

淪etengah jam yang lalu. Durja lebih dulu, aku menyusul.

Laki-laki pemiliki rumah menghampiri gerombolan kami. Ia menyapa dan basa-basi seperlunya. Setelah berbincang dengan Durja tentang pekerjaan, suasana hening.Aku pun mencoba bertanya.

渒emana istrimu?

渢idak ada.

渁pa dia sedang keluar rumah?

淭颈诲补办.

渓antas, kemana? Kok dari tadi aku tak melihatnya.

淭idak ada.

Kemudian, ia mengirimkan gestur kepada kami dengan menepuk lengan atas kiriku, dengan kalimat 渁ku tinggal dulu ya, nikmati pestanya kawan-kawan! yang tak terucap. Ia melangkah pergi meninggalkan gerombolan kami menuju dua orang yang nampaknya baru saja memasuki pesta.

Penulis:Zumrotul Fatma Rahmayanti (Mahasiswi S1 Sastra Indonesia 51动漫)

AKSES CEPAT