n

51动漫

51动漫 Official Website

Bersama UNAIR, IAKMI Jatim Gelar Konferensi Nasional Tembakau 2018

Konferensi
Konferensi Pers soal kegiatan The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018 di Aula Sabdoadi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR pada Jum檃t (4/4). (Foto: Feri Fenoria Rifai)

UNAIR NEWS Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Timur (Jatim) bekerja sama dengan 51动漫 (UNAIR) menggelar kegiatan tahunan bertajuk The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018. Konferensi tersebut merupakan agenda rutin oleh Tobacco Control Support Center (TCSC).

Yakni, sebuah badan khusus pengendalian tembakau di bawah struktur organisasi IAKMI sebagai pengembangan dari kelompok kerja (pokja) Pengendalian Masalah Tembakau. Digelar pada Minggu揝elasa (68/5) di Hotel Bumi Surabaya, konferensi tersebut mengangkat tema 滻ndonesia Bersatu Menciptakan Generasi Tanpa Tembakau.

Ketua Pengda IAKMI Jatim Dr. Djazuly Chalidyanto, SKM., MARS., dalam konferensi pers menyatakan bahwa TCSC adalah badan khusus yang bertugas melakukan advokasi dan pengendalian tembakau. Di antaranya, menggelar sosialisasi kepada masyarakat dan pendampingan penyusunan perda kawasan tanpa rokok.

漇elain itu, mengadakan audiensi dengan legislatif dan eksekutif, penelitian tentang tembakau atau rokok, workshop, serta diskusi upaya pengendalian tembakau atau rokok, ujarnya.

Menurut Dr. Djazuly, permasalahan rokok di Indonesia memerlukan penanganan yang serius dan berkelanjutan. Meski konferensi serupa telah digelar sebanyak empat kali, tema tembakau dan pengendaliannya terus memerlukan perhatian bersama.

漅okok ini termasuk zat adiktif. Sesuai dengan PP 102/2012, zat adiktif adalah bahan yang mengakibatkan adiksi atau ketergantungan yang membahayakan kesehatan. Tandanya, perilaku, kognitif, dan fenomena fisiologis. Keinginan untuk mengonsumsi bahan tersebut, jelasnya.

Menambahkan pernyataan Dr. Djazuly, Ketua Panitia ICTOH 2018 Dr. Sri Widati, S.Sos., M.Si., memaparkan bahwa ICTOH digelar karena kondisi epidemic konsumsi rokok di Indonesia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Indonesia, lanjut dia, ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai negara dengan perokok terbesar ketiga dunia dibawah China dan India.

漅emaja usia 1315 tahun, 20 persenya perokok, sebutnya. 滽arena itu, kami juga menggelar workshop berupa Youth Conference untuk anak-anak muda, yaitu diskusi dan kegiatan upaya mencegah merokok melalui kegiatan atraktif dan seru, tambahnya.

Di sisi lain, soal konferensi tersebut, Dr. Santi Martini, dr., M.Kes, menjelaskan bahwa keterlibatan UNAIR, khususnya Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), menjadi momentum penguatan komitmen. Sebab, UNAIR termasuk perguruan tinggi yang memiliki komitmen pengendalian tembakau yang cukup tinggi.

Dr. Santi menambahkan bahwa komitmen itu terlihat dalam beberapa kebijakan. Di antaranya, UNAIR melarang adanya sponsorship kegiatan internal dari perusahaan rokok. Termasuk kerja sama maupun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

滽arena ini orientasinya adalah pengendalian, dan pengendalian berhubungan dengan generasi. Institusi pendidikan menjadi penting untuk dilibatkan. Dan, UNAIR memeiliki komitmen untuk itu, ungkapnya.

滲idang kesehatan pun, kita memiliki kelebihan. Di FKM, tak sedikit penelitian dengan topik tembakau. Bahkan, ada pokja atau semacam unit kelompok peneliti di divisi kesmas FKM yang fokus pada masalah ini (Tembakau, Red), imbuhnya.

Menanggapi pelaksanaan konferensi tersebut, Dekan FKM UNAIR Prof. Dr. Tri Martiana dr., MS., menyatakan bahwa keterlibatan FKM terhadap permasalahan tembakau cukup lama. Keterlibatan itu menjadi audiensi bersama dengan pemerintahan dalam menetukan regulasi tentang masalah rokok atau tembakau.

滽ami sangat mendukung. Kolaborasi ke arah kebijakan regulasi terkait dengan tembakau memang harus didukung dengan penelitian serta diskusi yang mendalam. Ini penting agar generasi muda tidak tercemari dengan asap rokok, katanya.

滻ni penting untuk menjaga bangsa ini agar tetap sehat, imbuhnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria rifai

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT