UNAIR NEWS “ Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 51¶¯Âþ (UNAIR) melaksanakan program kerja BINA POSYANDU (Bimbingan dan Aksi Nyata Pelayanan Posyandu) sebagai wujud kontribusi langsung dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan balita. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Sidorukun, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, dengan melibatkan tujuh partisipan yaitu ibu yang memiliki balita dan belum mengikuti program Keluarga Berencana (KB).
Program BINA POSYANDU dirancang tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi kesehatan, tetapi juga menitikberatkan pada keterlibatan aktif mahasiswa dalam membantu jalannya pelayanan posyandu. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 3, yaitu Good Health and Well-being yang menekankan tentang pentingnya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak. Melalui kegiatan ini, mahasiswa bersinergi dengan kader posyandu untuk memastikan pelayanan kesehatan dasar dapat berjalan secara optimal.
Aksi Nyata di Meja Pelayanan Posyandu

Kelompok KKN-BBK 7 Sidorukun-Gresik 51¶¯Âþ (UNAIR) melaksanakan Aksi Nyata di Meja Pelayanan Posyandu di Balai RW 5-6 Sidorukun, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Rabu (14/01/2026) (Foto: Dok. Tim BBK 7)
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama kader posyandu wilayah RW 05 dan 06 guna menyesuaikan alur pelayanan dengan standar yang berlaku. Selanjutnya, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan posyandu, mulai dari pemeriksaan fisik hingga pencatatan administrasi.
Bentuk bantuan pelayanan yang diberikan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, lingkar kepala, serta pemeriksaan tekanan darah (tensi) bagi ibu. Selain itu, mahasiswa juga membantu proses administrasi posyandu, seperti pencatatan hasil pengukuran dan pendataan peserta, sehingga alur pelayanan dapat berlangsung lebih tertib dan efisien.
Aksi Nyata Mahasiswa Dampingi Ibu Balita
Kegiatan BINA POSYANDU memberikan perhatian khusus kepada ibu yang memiliki balita dan belum mengikuti program KB. Pendampingan dilakukan secara langsung dan persuasif dengan mengedepankan komunikasi yang ramah dan humanis. Melalui pendekatan tersebut, ibu balita diharapkan merasa lebih nyaman dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan posyandu, sekaligus memperoleh pelayanan kesehatan dasar secara optimal. Selain membantu pelayanan teknis, mahasiswa juga berperan dalam menciptakan suasana posyandu yang kondusif sehingga interaksi antara kader dan masyarakat dapat terjalin dengan baik. Salah satu perwakilan mahasiswa BBK 7 UNAIR menyampaikan bahwa keterlibatan langsung di lapangan menjadi pengalaman berharga dalam memahami kebutuhan kesehatan masyarakat.
œMelalui program BINA POSYANDU, kami tidak hanya belajar tentang teori pelayanan kesehatan, tetapi juga terlibat langsung membantu kader posyandu dan mendampingi ibu balita. Kami berharap kehadiran mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata serta mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak di Desa Sidorukun, ujar salah satu mahasiswa.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi warga, tetapi juga mendukung pencapaian SDGs nomor 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di Desa Sidorukun. Kehadiran mahasiswa dalam program BINA POSYANDU membantu memperlancar pelayanan posyandu dengan meringankan tugas kader di lapangan. Hal ini membuat pemeriksaan kesehatan ibu dan balita dapat dilakukan dengan lebih tertib dan menjangkau lebih banyak sasaran. Selain itu, kegiatan sosialisasi kesehatan, termasuk keluarga berencana, dapat tersampaikan dengan lebih baik kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, pelayanan posyandu menjadi lebih optimal sekaligus memperkuat kerja sama antara mahasiswa, kader posyandu, dan masyarakat sebagai upaya menjaga keberlanjutan layanan kesehatan di desa.





