UNAIR NEWS – mengadakan kegiatan seminar nasional dengan tema Manusia dalam Kemelut Sejarah: Inspirasi dari Tokoh Pejuang dan Kemanusiaan. Terdapat beberapa materi dalam seminar itu. Salah satunya terkait tokoh nasional bernama Baginda Dahlan Abdoellah.
Kegiatan berlangsung di Ruang Majapahit ASEEC Tower Lantai 5 Kampus Dharmawangsa-B 51动漫 pada Kamis (8/6/2023). Pemateri yang menyampaikan biografi tokoh nasional Baginda Dahlan Abdoellah tersebut adalah Dr Suryadi MA dari Universiteit Leiden.
Biografi Baginda Dahlan Abdoellah
Baginda Dahlan Abdoellah merupakan seorang tokoh nasional yang masih jarang masyarakat Indonesia kenal, menurut Suryadi. Dahlan lahir di Desa Pariaman pada 15 Juni 1895. Ayahnya bernama Bagindo Abdoellah dan ibunya bernama Siti Alidjah.
淭okoh ini mungkin jarang dikenal dan punya alasan karena dia orang yang low profile, tapi banyak memberikan kontribusi nasionalisme di luar negeri, ucap Suryadi.
Jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Dahlan jauh lebih unggul dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1902, dia mengikuti 榮ekolah rendah di Padang, kemudian melanjutkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) sampai tamat pada tahun 1907. Selanjutnya, Dahlan bersekolah di Kweekschool (Sekolah Raja) di Fort de Kock (Bukittinggi).
淵ang menarik, dia sekelas dengan Tan Malaka dan gadis pertama Minangkabau yang mendapatkan pendidikan sekuler, yaitu Sjarifah Nawawi, kata Suryadi.
Saat umur 18 tahun, Dahlan pergi ke Belanda untuk bersekolah di Haagsch Genootschap Kweekschool, Den Haag, pada tahun 1913 dengan bantuan beasiswa sebesar 75 gulden per tahun.
Keterlibatan Dahlan dalam Perhimpoenan Hindia
Ketika Dahlan mendapatkan sertifikat mengajar 榮ekolah rendah di Den Haag, dia mulai pindah ke Leiden dan tertarik dengan Perhimpoenan Hindia atau De Indische Vereeniging yang sudah berdiri sejak tahun 1908.
淒ahlan diundang dalam sebuah ulang tahun dari mahasiswa Indologie di Leiden, dan pada masa itu dia mewakili Perhimpoenan Hindia untuk memberi ceramah. Itu keterlibatan pertama dalam ikut Perhimpoenan Hindia, jelasnya.
Ketika Dahlan menyampaikan ceramahnya di Leiden University pada 23 November 1917, terdapat salah satu pernyataan yang membuat semua orang kaget.
Kami orang Indonesia ingin mendapatkan hak yang lebih besar untuk ikut memerintah negeri ini. Itu pernyataan paling radikal yang membuat semua orang kaget, jelas Suryadi.
Pernyataan itu membuat Dahlan terkenal sebagai figur radikal dalam Perhimpoenan Hindia. Keterlibatan Dahlan dalam organisasi tersebut adalah menjadi voorzitter atau ketua organisasi pada 1917. Secara keseluruhan, Dahlan aktif dalam berbagai kegiatan, baik secara akademik, sosial, dan politik.
Kontribusi Dahlan Lainnya
Kontribusi Dahlan lainnya selama di Belanda adalah merayakan ulang tahun pendirian Boedi Oetomo pada Mei 1918. Dahlan menerbitkan buku Soembangsih, yaitu buku yang membahas tentang catatan-catatan terkait Boedi Oetomo.
Selain itu, Dahlan menjadi orang pertama yang menerjemahkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A. Kartini, bukan Armijn Pane yang terkenal hingga saat ini.
淓disi pertama bahasa melayu surat-surat tadi itu (surat Kartini, Red) diterjemahkan oleh Dahlan atas editor J.H. Abendadon yang terbit di Semarang, G.C.T. van Dorp & Co. Dan dialah bersama tiga saudara lainnya yang menciptakan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan kemudian orang Indonesia hanya tahu Armijn yang menciptakan itu, itu salah sama sekali, Dahlan yang menciptakan itu, jelas Suryadi. (*)
Penulis: Muhammad Fachrizal Hamdani
Editor: Binti Q. Masruroh





