Kelahiran prematur, yaitu bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu, masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan gangguan kesehatan jangka panjang pada bayi di seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan bayi lahir terlalu dini dan harus menghadapi risiko gangguan pernapasan, perdarahan otak, hingga masalah tumbuh kembang yang dapat berlangsung seumur hidup. Meski berbagai upaya telah dilakukan, pilihan terapi untuk mencegah kelahiran prematur masih sangat terbatas dan sering kali hanya bersifat sementara.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak kasus kelahiran prematur memiliki akar masalah yang sama, yaitu peradangan dan stres oksidatif di dalam rahim. Kondisi ini membuat rahim dan plasenta berada dalam keadaan 渟iaga bahaya sehingga memicu kontraksi dan persalinan sebelum waktunya. Tubuh sebenarnya memiliki sistem pertahanan alami untuk melawan kondisi ini, salah satunya melalui enzim bernama Heme Oxygenase-1 (HO-1). Enzim ini berfungsi sebagai pelindung sel dengan cara menekan peradangan, menetralisir radikal bebas, dan menjaga aliran darah tetap lancar, termasuk di plasenta.
Masalahnya, pada banyak kehamilan berisiko tinggi攕eperti preeklampsia, gangguan aliran darah plasenta, dan kelahiran prematur攁ktivitas HO-1 sering kali menurun. Ketika 減elindung alami ini melemah, jaringan plasenta menjadi lebih rentan terhadap kerusakan, peradangan meningkat, dan proses persalinan bisa terpicu lebih awal.
Di sinilah muncul ide yang menarik: menggunakan kembali (repurposing) pravastatin, obat yang selama ini dikenal sebagai penurun kolesterol, untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa pravastatin tidak hanya bekerja menurunkan kolesterol, tetapi juga mampu mengaktifkan HO-1, sehingga memperkuat sistem pertahanan alami tubuh. Pada penelitian laboratorium dan hewan, pemberian pravastatin terbukti dapat menurunkan peradangan, memperbaiki fungsi pembuluh darah plasenta, dan bahkan mencegah kelahiran prematur yang dipicu oleh infeksi atau peradangan.
Selama bertahun-tahun, statin dianggap tidak aman digunakan pada kehamilan. Namun, pemahaman ini telah berubah. Pravastatin berbeda dengan sebagian besar statin lain karena bersifat lebih larut dalam air, sehingga hanya sedikit yang melewati plasenta. Berbagai penelitian besar pada manusia menunjukkan bahwa pravastatin tidak meningkatkan risiko cacat bawaan, dan pada tahun 2021, badan pengawas obat di Amerika Serikat mencabut larangan keras penggunaan statin pada kehamilan tertentu.
Uji klinis pada ibu hamil berisiko tinggi攖erutama untuk pencegahan preeklampsia攎enunjukkan bahwa pravastatin relatif aman dan mampu memperbaiki keseimbangan zat-zat penting yang mengatur fungsi pembuluh darah plasenta. Meski penelitian tersebut belum secara khusus dirancang untuk mencegah kelahiran prematur, hasilnya memberikan sinyal biologis yang menjanjikan, karena mekanisme yang diperbaiki oleh pravastatin juga berperan besar dalam proses terjadinya persalinan dini.
Kesimpulannya, penggunaan pravastatin sebagai 減enguat pelindung alami kehamilan melalui aktivasi HO-1 membuka harapan baru dalam pencegahan kelahiran prematur. Meski masih dibutuhkan uji klinis besar yang secara khusus menilai manfaatnya untuk mencegah persalinan dini, pendekatan ini menawarkan arah baru yang lebih mendasar: mencegah kelahiran prematur dengan menargetkan akar masalahnya, bukan sekadar menahan gejala. Jika terbukti efektif, obat yang murah, mudah didapat, dan sudah dikenal luas ini berpotensi menyelamatkan banyak bayi dan keluarga di masa depan.
Penulis: Ayu Dyah Primaningrum, Muhammad Ilham Aldika Akbar, As’ad Naufal
Link artikel:





