UNAIR NEWS Bulan Ramadan menjadi ladang peluang bisnis bagi UMKM. Maka, muncul banyak produk khas bulan suci tersebut. Salah satunya bisnis fashion Lebaran.
Dr Tri Siwi Agustina SE MSi, Dosen menjelaskan bahwa bisnis UMKM mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di bulan Ramadan.
淏isnis-bisnis yang mampu meraup keuntungan di bulan Ramadan adalah fashion, makanan dan minuman. Ketika lebaran, industri hiburan, wisata, dan restoran juga mendapat keuntungan, ungkapnya program Solusi Bisnis, JTV pada Rabu (5/4/2023) dengan tajuk Meraup Manisnya Bisnis Fashion Jelang Lebaran.
Momen lebaran merupakan momen silaturahmi. Pada momen tersebut orang mudik sekaligus pergi ke tempat wisata. Oleh karenanya, momen lebaran menjadi potensi mengembangkan bisnis di area wisata dan meraup keuntungan pasca Ramadan.
Bisnis Fashion Lebaran Pasca Pandemi
Menurut Dosen FEB tersebut, di masa pandemi masyarakat cenderung mengalihkan kegiatan belanja kepada produk kesehatan. Situasi pandemi juga memaksa masyarakat tidak bisa bersilaturahmi karena pembatasan sosial.
Meredanya pandemi pada tahun 2022 membuat masyarakat berangsur-angsur kembali membutuhkan produk fashion. 淢eski begitu, masih ada kehati-hatian dari masyarakat, sehingga belum kembali sepenuhnya (dalam daya beli produk fashion, Red). Perlahan-lahan belanja masyarakat terhadap kebutuhan fashion terutama menjelang Idul Fitri itu sudah mulai ada, jelasnya.
Ide Bisnis Berkembang Sejak Pandemi
Dr Siwi menuturkan bahwa ide bisnis fashion lebaran sudah berkembang sejak pandemi. 淚de seperti mukena yang couple ibu dan anak, juga berpakaian seragam ketika silaturahmi itu sudah ada. Hal tersebut ditawarkan, tetapi peminatnya sedikit, ucapnya.
Potensi bisnis fashion setelah lebaran cukup besar. Dr Siwi menilai budaya masyarakat yang berhajat setelah hari besar merupakan potensi bisnis bagi industri fashion.
淢eski masih lemah (daya beli produk fashion, Red) di Ramadan ini dan hari raya. Tetapi, banyak sekali harapan di bulan setelahnya ketika orang punya hajat dan sebagainya, tambahnya.
Tren Bisnis Pre-Order
淒ua tahun yang lalu dari sisi produsen, mereka bisa memproduksi barang yang banyak. Tetapi, sekarang dengan rupiah yang sama mereka memproduksi barang lebih sedikit. Maka muncul tren pre-order. Ini juga terkait dengan faktor resesi dan melemahnya mata uang rupiah, ujar Dosen FEB.
Kemudian, Dr Siwi memperhatikan bahwa tidak semua produsen fashion menggunakan bahan baku lokal. Penyesuaian pada ketersediaan bahan baku impor merupakan salah satu alasan produsen memproduksi barang lebih sedikit.
Tren menggunakan pre-order ini merupakan strategi untuk memutar produk fashion. 淒aripada membuat suatu produk, tapi produk itu tidak cepat berputar atau laku, pungkasnya.
Penulis: Muhammad Naufal Rabbani
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:





