Pisang merupakan salah satu komoditas buah tropis yang banyak diminati di Indonesia karena rasa, nilai gizi, dan harga yang relatif terjangkau. Pisang Cavendish, salah satu varian pisang yang dibudidayakan, yang menonjol karena daging buahnya yang empuk, manis, dan ukurannya yang lebih besar. Namun, teknik perbanyakan dengan menggunakan anakan yang langsung langsung dari tanaman induk dibatasi oleh tingkat perbanyakan yang rendah dan kecenderungan penyebaran hama dan penyakit, yang berujung pada penurunan produktivitas pisang.
Kendala-kendala dalam perbanyakan tanaman pisang Cavendish secara konvensional dapat diatasi dengan memanfaatkan teknik kultur in vitro. Mikropropagasi telah menjadi teknik yang digunakan secara luas untuk memperbanyak bibit tanaman pisang secara efektif. Investigasi berkelanjutan sedang dilakukan di bidang mikropropagasi tanaman pisang, dengan tujuan untuk mendorong kapasitas teknologi dan meningkatkan produksi tanaman pisang karena berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh komoditas ini. Selain itu bisa diarahkan untuk melindungi sumber daya genetik dan memperoleh varietas unggul yang spesifik. Integrasi pendekatan bioteknologi semakin penting untuk memahami dan mengurangi tekanan lingkungan, meningkatkan ketahanan terhadap stresor, meningkatkan ketahanan terhadap tekanan biologis dan tekanan lingkungan, meningkatkan nilai pasar, serta merumuskan prosedur perbanyakan yang sesuai untuk kultivar pisang yang beragam.
Dalam proses budidaya secara kultur in vitro, pertumbuhan tunas dan akar plantlet secara signifikan dipengaruhi oleh komposisi kultur jaringan media tumbuh. Keberhasilan mikropropagasi untuk tanaman pisang bergantung pada faktor-faktor seperti pemilihan media komposisi nutrisi, dan konsentrasi mineral. Beberapa jenis media yang mendasar, seperti Murashige dan Skoog (MS), Schenk dan Hildebrant (SH), Linsmaier dan Skoog (LS), media N6, dan B5, telah digunakan dalam perbanyakan tunas pisang. Namun, di antara pilihan-pilihan tersebut, Media MS (dengan zat pengatur tumbuh spesifik) muncul sebagai yang paling efektif untuk perbanyakan tunas.
Saat ini sudah banyak penelitian yang menggunakan media MS dengan berbagai kombinasi bahan tambahan untuk emningkatkan pertumbuhan tunas pisang secara kultur in vitro. Pencapaian berbagai upaya penelitian yang melibatkan media MS yang dimodifikasi memungkinkan pemanfaatan Media tanaman MS tanpa zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam konteks meningkatkan efisiensi dalam mikropropagasi tanaman pisang. Salah satu contoh hasil penelitian dari Nugrahani et al (2024) yang mengungkap bahwa tanpa penambahan ZPT BAP menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil-hasil penelitian pada tanaman lainnya.
Dari berbagai hasil pengembangan dan perbanyakan tanaman secara kultur in vitro ternyata memang leih banyak memberikan kemanfaatan dan keuntungan. Kelebihan kultur jaringan dibandingkan dengan perbanyakan bibit secara konvensional adalah; perbanyakan bibit dapat dilakukan dengan cepat dan dalam skala banyak, kontinuitas ketersediaan bibit akan terjaga sepanjang waktu, tanpa harus menunggu musim berbuah, bibit yang dihasilkan akan sama dengan induknya, tingkat keseragaman pertumbuhan bibit di lapangan tinggi, hemat biaya pengiriman/transportasi, dan bebas hama penyakit.

Oleh karena itu untuk menunjang berbagai keperluan nasional terkait ketersediaan bibit tumbuhan, hasil panen yang berkualitas, kesinambungan pertanian, ketersediaan bahan obat herbal dan ketahanan pangan, maka metode perbanyakan secara kultur in vitro menjadi andalan dalam sektor pertanian. Kebijakan dan keberpihakan menuju ke arah tersebut sudah selayaknya menjadi prioritas ke depan. Penggunaan dan pembanfaatan teknologi maju dalam bidang budidaya tanaman sudah tidak bisa dihindari lagi. Selain penggunaannya dalam budidaya pisang, metode ini sangat cocok juga untuk budidaya tanaman-tanaman hortikultura maupun tanaman pertanian lainnya.
Semoga di masa datang negara kita sudah maju dengan mengandalkan pertanian yang berbasiskan bioteknologi dengan memanfaatkan metode-metode budidaya yang lebih canggi dan ramah lingkungan.
Penulis: Prof. H. Hery Purnobasuki, Drs., M.Si., Ph.D.
Link:
Baca juga: Kinetika Adsorpsi Karbon Aktif Batang Pisang dalam Menurunkan Kadar Fosfat





