UNAIR NEWS – Per 23 Juli 2022 silam, World Health Organization (WHO) telah menetapkan cacar monyet (monkeypox) sebagai darurat kesehatan global (Public Health Emergency of International Concern) karena penyebarannya yang makin meluas. Merespon hal tersebut, tim redaksi mewawancarai pakar Biostatistika Epidemiologi UNAIR Dr Windhu Purnomo untuk mengetahui bagaimana Indonesia harus merespon seruan WHO tersebut. Hingga saat perilisan liputan ini, belum terkonfirmasi satupun kasus cacar monyet di Indonesia.
Windhu mengatakan bahwa seruan WHO itu dimaksudkan agar negara-negara di dunia mengantisipasi potensi menyebarnya suatu penyakit, dan hal tersebut sudah dilakukan WHO selama 7-9 kali. Meskipun demikian, Windhu menekankan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu panik merespon penetapan darurat cacar monyet ini. Hal ini dikarenakan bahwa pemerintah Indonesia sudah memiliki kesiapan dalam menghadapi endemi ini, dan pakar sudah mengetahui cara-cara penularan serta pencegahan penularannya.
淧enyebaran cacar monyet ini tidak secepat COVID-19 karena cara penularannya lewat sentuhan fisik. Gejala dari cacar monyet muncul ruam dan bintil-bintil layaknya cacar, dan virusnya ada di sana. Untuk itu, penyebaran via droplet (cipratan air liur/bersin) ini jauh lebih kecil posibilitasnya karena harus ada ruam di daerah mulut terlebih dahulu, ujar dosen FKM UNAIR itu pada Jumat (29/7).

Di level individu, Windhu mengatakan bahwa metode pencegahan cacar monyet layaknya pencegahan virus-virus lainnya, yakni PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Hal ini berarti seperti rajin cuci tangan dan memakai masker harus tetap dilakukan. Mengingat penyebarannya melalui sentuhan, maka kontak fisik pada orang yang tidak dikenal harus diminimalisir. Sederhananya perilaku seperti jangan bersentuhan hingga berhubungan seks sembarangan.
淧HBS ini kalau dalam kesehatan masyarakat merupakan bentuk primordial prevention, yakni pengurangan resiko tertular. Namun juga ada primary prevention dalam bentuk specific protection, yakni vaksin. Untungnya vaksin ini pada dasarnya sudah tersedia di dunia, karena cacar monyet ini bisa dicegah dengan vaksin cacar (smallpox) jadi kita tidak perlu penelitian vaksin terlebih dahulu seperti COVID kemarin. Produksinya jadi mudah. Ditambah lagi untuk orang yang sudah divaksin cacar seperti saya, kekebalannya seumur hidup, tuturnya.
Di level kebijakan pemerintah, Windhu menekankan bahwa Indonesia telah siap dalam pencegahan cacar monyet sejak tahun 2019, dimana kala itu terdeteksi kasus cacar monyet di Singapura. Kementerian Kesehatan RI sudah memiliki panduan terkait bagaimana pelaksanaannya, jadi menurut Windhu yang harus dilakukan oleh pemerintah kurang lebih adalah dua hal.
淧ertama, komunikasi publik yang baik supaya masyarakat paham terkait gejala-gejala cacar monyet. Sehingga, mereka bisa segera melaporkannya dan dapat dites sebagai suspek. Karena gejala cacar monyet ini mirip seperti cacar air dan campak, publik harus diberitahu untuk tidak boleh meremehkan dan segera melaporkannya ke petugas kesehatan di puskesmas atau rumah sakit. Kedua adalah menjaga pintu-pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan, dimana bilamana terdeteksi suspek harus segera tes PCR, tekan Windhu.
Satu hal lain yang Windhu tekankan dalam wawancara ini bahwa cacar monyet ini bukan penyakit LGBTQ+. Sekalipun penelitian menunjukkan bahwa penyebaran utama cacar monyet di wilayah Eropa itu pada kalangan homoseksual, harus dipahami bahwa penyebarannya tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual.
淛adi pemberitaan seperti itu harus dibetulkan, karena nanti akan menimbulkan stigma dan diskriminasi. Penyebaran cacar monyet ini melalui sentuhan, ya siapa saja bisa kena entah itu orientasinya homoseksual atau heteroseksual, tutupnya.
Penulis: Pradnya Wicaksana
Editor: Nuri Hermawan





