UNAIR NEWS Kondisi kasus campak di Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Kementerian Kesehatan melaporkan adanya penurunan kasus hingga 90 persen di beberapa wilayah. Namun, di balik capaian tersebut, masih ditemukan kasus kematian dan klaster penularan di sejumlah daerah.
Dosen Kesehatan Masyarakat 51动漫 (UNAIR), Jayanti Dian Eka Sari SKM MKes, menilai bahwa situasi ini belum sepenuhnya aman. 淧enurunan kasus memang menjadi kabar baik, tetapi ini belum menandakan masalah sudah selesai. Kondisinya masih berada pada fase pengendalian, belum eliminasi, ujarnya.
Belum Menandakan Eliminasi Campak
Menurutnya, campak saat ini tidak hanya menjadi isu penyakit menular semata, tetapi juga mencerminkan kapasitas sistem kesehatan serta perilaku masyarakat. Dari perspektif promosi kesehatan (promkes), tantangan utama bukan lagi ketersediaan vaksin, melainkan faktor perilaku.
淢asalah utamanya adalah keraguan terhadap vaksin, rendahnya persepsi risiko, serta kelelahan akses atau access fatigue. Artinya, masyarakat harus terus beradaptasi untuk mengakses layanan kesehatan, jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa program promosi kesehatan pemerintah telah meningkatkan cakupan imunisasi secara umum. Meskipun efektivitasnya belum merata di semua wilayah dan kelompok sosial.
Belum Menjangkau Kelompok Rentan
淧rogram sudah efektif secara makro, tetapi belum presisi menjangkau kelompok yang ragu, sulit akses, atau terpapar hoaks. Imunisasi bukan gagal karena kurang informasi, tetapi karena pesan belum cukup meyakinkan, tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa campak merupakan fenomena multifaktorial. Ketersediaan vaksin tidak otomatis menjamin perlindungan masyarakat jika masih terdapat kesenjangan cakupan imunisasi.
淪elama masih ada anak yang belum imunisasi lengkap, akses terbatas, dan orang tua ragu, maka penularan tetap memiliki celah, tegasnya.
Strategi Komprehensif Tingkatkan Partisipasi Imunisasi
Dalam hal ini, promosi kesehatan memiliki peran strategis karena vaksinasi merupakan perilaku sosial. Ketika masyarakat paham dan percaya, mereka akan secara sukarela mengikuti imunisasi.
Ia juga menyoroti tantangan tenaga kesehatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial, budaya, dan psikologis. Terutama di daerah terpencil dengan keterbatasan akses.
Sebagai solusi, perlu strategi komprehensif yang menggabungkan edukasi, peningkatan kepercayaan, kemudahan akses, dan keterlibatan komunitas agar partisipasi masyarakat meningkat secara berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya penguatan promosi kesehatan yang berorientasi pada perubahan perilaku jangka panjang. 淧romkes tidak boleh hanya bersifat kampanye sesaat saat kasus meningkat. Harus berbasis data, adaptif, dan dekat dengan masyarakat, tutupnya.
Penulis: Dheva Yudistira Maulana
Editor: Yulia Rohmawati





