UNAIR NEWS – Dalam rangka menumbuhkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap sesama, kini pengabdian masyarakat telah menjadi salah satu bentuk tugas mata kuliah di kampus. Hal itulah yang menghantarkan kelompok 5 PDB A-22 51动漫 dalam mata kuliah Pengantar Kolaborasi Keilmuan melaksanakan pengabdian masyarakat di Kampung Nelayan, Kenjeran, Kecamatan Bulak, Surabaya. Mahasiswa UNAIR Kenalkan Permainan Tradisional.
Kegiatan yang berlangsung pada (7/5/2023) tersebut sangat di antusias oleh warga setempat. Pasalnya, ujar Clarissa Belvana Kusuma Wardhani selaku ketua kelompok, pengabdian masyarakat tidak hanya diselenggarakan oleh organisasi atau kepanitian namun juga bisa dilakukan dalam menunjang mata kuliah pada studi mahasiswa.
Fadli Ama St MT selaku dosen fasilitator kegiatan dan Dr Hanik Endang Nihayati S Kep Ns M Kep selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) juga mendorong mahasiswanya dalam pengabdian ini. Karena pengabdian kali ini melalui Kampung PlayOn menekan tingginya angka kecanduan gawai sehingga diupayakan pelestarian kebudayaan permainan tradisional bagi penduduk disana.
Kenalkan Permainan Tradisional
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa kelompok 5 itu mengusung tema 渄engan Cara Sosialisasi Mengenai Dampak Kecanduan Gawai bagi Anak Usia Dini, dan Pengenalan Permainan Tradisional untuk Mengisi Waktu Luang. Melalui kegiatan inilah dapat berupaya dalam produktivitas warga di sana sehingga dari contoh kegiatan tersebut dapat menekan aktivitas penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
淒alam kegiatan itu, kami juga mengenalkan beberapa permainan tradisional yang dapat dimainkan secara berkelompok untuk melatih kerja sama tim. Misalnya permainan tersebut adalah mewarnai layangan secara berkelompok dan bola pipa yang harus dilakukan oleh sekelompok yang beranggota 5-6 orang. kata Clarissa.
Dampak Kecanduan Gawai
Selama kegiatan berlangsung, kelompok ini juga memberikan materi mengenai gawai, khususnya pada anak usia dini. Dan mereka juga menjelaskan dampak gawai apabila digunakan secara terus menerus.
淕awai itu dapat mengakibatkan kecanduan sehingga orang-orang dapat menghabiskan waktunya hanya untuk bermain gawai. Hal ini jugalah yang membuat seseorang akan cenderung bermalas-malasan tanpa melakukan apapun selain bermain gawai, jelasnya.
Maka dari itu dengan diadakannya kegiatan ini harapannya dapat memberikan pemahaman kepada para orang tua dalam mendidik dan menegaskan balita mereka.
淒i akhir kegiatan kami juga memberikan sesi tanya jawab untuk melatih pemahaman mereka mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya, ujarnya.

Apa Alasan Kalian Mengadakan Pengmas Ini?
Tentu saja di tengah maraknya globalisasi di dunia membuat segala hal terasa lebih mudah dilakukan melalui gawai. Akses gawai juga dapat dimiliki oleh siapapun, termasuk kebebasan akses internet dan media sosial. Namun, kemudahan akses ini tidak selamanya memberikan dampak yang baik bagi penggunanya.
Khususnya bagi anak usia 6-15 tahun yang terkategorikan di usia anak-anak dan transisi menuju remaja. Usia ini terkategorikan tidak cukup bijak dalam memilih informasi baik maupun buruk. Selain itu, ujar Clarissa, penggunaan gawai dapat ditimbulkan kemudahan akses internet secara berlebihan.
淥leh sebab itu alasan inilah yang membuat kami ingin memperkenalkan beberapa permainan tradisional yang tidak kalah seru dan dapat melatih motorik dibandingkan dengan permainan yang dapat diakses melalui gawai, jelasnya.
Dan harapannya melalui pengabdian masyarakat dan sosialisasi yang kelompok mereka lakukan dapat membantu pengawasan orang tua kepada anak. Sehingga orang tua dapat membatasi penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari dan menggantinya dengan permainan tradisional.
淧elestarian permainan tradisional termasuk salah satu bentuk kebudayaan Indonesia. Sehingga kami berharap sosialisasi ini dapat terus dilakukan untuk mengurangi kecanduan gawai pada anak, tutupnya.
Penulis: Monika Astria Br Gultom
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:
IMERCY Lakukan Pengabdian Masyarakat Dengan Program I-Camp: Pelatihan Pemrograman Mikrokontroler





