51动漫

51动漫 Official Website

CEO Wakaftani Paparkan Dua Risiko Lembaga Filantropi di Era Digital

CEO Wakaftani, Dr (Cand) Romdlon Hidayat M Soc Sc, sedang menjelaskan materi kuliah tamu secara online di Departemen ekonomi syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 51动漫. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Risiko merupakan konsekuensi yang melekat pada setiap proses. Risiko dapat menimpa siapapun baik perorangan maupun organisasi. Menurut CEO Wakaftani, Dr (Cand) Romdlon Hidayat M Soc Sc, dalam kuliah tamu di Departemen Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 51动漫 (UNAIR) pada Sabtu (18/6/2022), risiko juga dapat menimpa lembaga perusahaan atau korporasi. Oleh sebab itu, ilmu memanajemen risiko merupakan hal mutlak yang harus dipelajari.

Risk manajemen (manajemen risiko) adalah salah satu bagian keilmuan yang harus dimiliki oleh sebuah korporasi dalam menyiapkan hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan dalam rangka untuk meraih tujuan-tujuan yang diinginkan, ucapnya.

Lanjut Yayat sapaan akrab dari Romdlon Hidayat, ilmu ini juga sangat menarik untuk dipelajari oleh mahasiswa, karena banyak sekali kasus risiko korporasi yang harus dicarikan solusinya. Yayat menyebutkan setidaknya terdapat 2 risiko lembaga filantropi yang sering terjadi di era digital seperti saat ini.

Risiko Relationship

Dalam kuliah tamu bertajuk Academic and Professional Exposure Week,  yayak mengungkapkan, bahwa terdapat lembaga sosial filantropi yang sangat besar dan terkenal di era digital  namun ikut mengalami distrupsi bahkan sudah disuntik mati. Hal itu bukan disebabkan oleh Tim nya yang tidak ahli dalam beradaptasi, namun ternyata lembaga itu tidak memiliki kemampuan dalam mengukur risiko lembaga terhadap pihak yang hubungannya dengannya.

淭erkadang persoalan itu bukan dari kita tetapi dari orang lain. Nah terkadang ini yang kurang diantisipasi oleh kita, ujar Yayat yang juga sebagai pendiri PT Rekayasa Digital Network.

Lanjut Yayat, oleh sebab itu, Salah satu manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengenal lebih dalam karakter manusia terutama  pihak yang menjadi target kerja sama.  Pendekatan ini sangat penting dilakukan, mengingat lembaga sosial sangat bergantung pada figur yang konsisten dalam menjalankan program.

Risiko Kompetisi dengan Lembaga Asing

Berkat masuknya dunia digital, jelasnya, akses pasar filantropi semakin terbuka lebar. Terbukti dengan banyaknya Non Government Organization (NGO) asing ikut menggalang dana sosialnya di Indonesia. Disatu sisi, sambungnya, hal itu dapat menjadi positif karena munculnya lingkungan yang kompetitif sehingga memaksa lembaga filantropi di Indonesia untuk terus berinovasi, namun disisi lain juga menjadi ancaman besar karena lembaga asing memiliki kecakapan teknologi yang canggih sehingga mampu meraup pangsa pasar yang besar di Indonesia.

淭entunya kalau lembaga filantropi di Indonesia tidak beradaptasi maka dia akan mati (karena) keruk pasarnya diambil oleh mereka (asing red), tetapi kalau kemudian dapat beradaptasi justru kemudian dia (lembaga filantropi Indonesia, red) memperbesar size-nya di Indonesia karena kompetisi, terus yang kedua dapat berkolaborasi (dengan Asing, red), pungkasnya.

Penulis: Haryansyah Setiawan

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT