UNAIR NEWS – Avilia Ramadhani Avidar menjadi salah satu mahasiswa 51动漫 yang mengikuti program IISMA (Indonesia International Student Mobility Awards) di tahun ini. Melalui program ini, Avilia, sapaan akrabnya, akan menghabiskan satu semester untuk mengambil autumn course di University College Dublin (UCD), Irlandia.
Avilia yang merupakan mahasiswa prodi S1 Kedokteran (FK) UNAIR menjadi mahasiswa aktif di UCD Irlandia terhitung sejak September hingga akhir Desember tahun ini. UCD sendiri merupakan kampus papan atas di Irlandia dengan mahasiswa yang berasal lebih dari 150 negara di dunia.
Ambil Matkul Humaniora
Keputusan Avilia memilih UCD ia akui menjadi hal yang sedikit nekat. Pasalnya, program IISMA di UCD sendiri lebih banyak menawarkan mata kuliah dari rumpun sosial dan humaniora. Hal ini tentu membuat Avilia akan banyak belajar hal-hal baru mengingat ia merupakan mahasiswa prodi kedokteran.
淒i semester empat, aku belajar kalau jadi dokter itu bukan hanya kompeten secara teori. Tapi, juga harus kompeten secara kultur apalagi nanti kita mengabdi di negara multikultur kayak Indonesia, terang Avilia pada Senin (11/9/2023).
Beberapa mata kuliah yang ia ambil di UCD antara lain Children’s Literature, Introduction to Folklore, History of Science, dan War: Ancient and Modern. Keputusannya mengambil beberapa mata kuliah ini juga dilatarbelakangi ketertarikannya untuk membuat buku cerita sains untuk anak-anak.
淜alau aku sendiri ada rencana buat science storybook. Salah satunya aku ambil Children檚 Literature, terangnya.
Ingin Kenalkan Budaya Indonesia
Menempuh pendidikan di Irlandia juga menjadi ajang bagi Avilia untuk lebih memperkenalkan Indonesia kepada warga lokal di sana. 淚ISMA UCD sendiri berencana untuk ngadain upacara pernikahan adat di perayaan Hari Pahlawan. Ada siraman, gamelan, tari, dan sebagainya sehingga orang-orang di sana dapat merasakan bagaimana rasanya hadir di pernikahan tradisional Indonesia, tutur Avilia.
Tak hanya itu, ia pribadi juga menyatakan keinginannya bergabung dalam komunitas one health untuk mempelajari penerapannya ke isu-isu global. 淎ku juga ada rencana untuk ngenalin sinom yang udah jadi budaya untuk diminum waktu dysmenorrhea (nyeri haid) khususnya di Jawa. Selain aspek sains, ini juga bisa ditinjau dari berbagai macam aspek lainnya, tambah Avilia.
Sempat Alami Gegar Budaya
Kehidupan di Irlandia tak ayal menjadi satu tantangan tersendiri bagi Avilia. Baru tiba pada Sabtu (2/9/2023) lalu, ia menceritakan bahwa budaya Irlandia cukup berbeda dengan Indonesia, utamanya terkait aspek sosial masyarakatnya.
淜ita sering basa-basi tapi kalau di sini you mind your own business. Minusnya, di sini nggak mudah buat cari teman baru dibanding sama orang Indonesia yang sering ngobrol sama orang baru. Tapi, orang-orangnya sangat baik ketika kita mencoba ngobrol sama mereka, ujar Avilia.
Cuaca juga jadi tantangan tersendiri bagi Avilia. Irlandia sekarang sedang memasuki peralihan dari musim panas ke musim gugur. Kondisi ini menjadikannya kesulitan dalam memilih pakaian yang sesuai dengan cuaca di hari itu. Namun demikian, sejauh ini ia mengaku menikmati kesehariannya di Kota Dublin.
淒i sini biodiversitas masih sangat terjaga. Pejalan kaki di sini sangat dihormati. Ini yang bakal aku kangenin waktu nanti udah pulang ke Indonesia, pungkasnya di akhir wawancara. (*)
Penulis: Agnes Ikandani
Editor: Binti Q. Masruroh





