51动漫

51动漫 Official Website

Cerita di Balik Terbitnya Novel “Sanggarahan 1990” Karya Dosen FISIP

Novel Sanggrahan 1990 Karya Angga Prawadika Aji S IP MA (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Novel Sanggrahan, 1990 Karya Angga Prawadika Aji S IP MA (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 51动漫 (UNAIR), sukses menerbitkan Novel Sanggrahan 1990 pada Senin (23/9/2024) lalu. Angga merupakan dosen di Program Studi yang salah satu kajiannya berfokus pada bidang media dan budaya dan populer. Untuk diketahui, sebelumnya Angga juga sempat menerbitkan buku mengenai budaya selebriti yang menjadi fokus risetnya.

Melalui keterangannya, Angga menerangkan bahwa Novel Sanggrahan 1990 menceritakan sebuah ritual yang terjadi 100 tahun lalu. Dengan latar belakang tempat desa bernama Sanggrahan, dan latar waktu tahun 1990 sebagai permulaan peristiwa.

Dalam wawancaranya, Angga menjelaskan bahwa novel yang ia tulis bersifat linear dengan fokus akademiknya saat ini. Ia menegaskan bahwa banyak hal-hal relevan yang ia dapatkan selaras dengan profesinya selaku akademisi. 淎da keuntungannya dengan profesi saya selaku dosen. Karena ada mata kuliah terkait studi tentang film, script writing dan graphic design, jelasnya. 

Foto Diri Angga Prawadika Aji S IP MA (Sumber Dokumentasi Narasumber)
Foto Diri Angga Prawadika Aji S IP MA (Sumber Dokumentasi Narasumber)

Angga juga menjelaskan bahwa pihak program studi mendukung penuh eksplorasinya di bidang fiksi. Melihat respons program studi yang menyambut baik, Angga merasa tidak melakukan hal yang jauh berbeda dengan profesinya sehari-hari. 淧ada umumnya seorang dosen itu suka menulis, atau idealnya familiar dengan penulisan. Kalau saya melihat itu seperti sosok Umberto Eco. Beliau adalah seorang dosen dan penulis novel, tutur Angga.

Tertarik pada Genre Horor

Terbitnya novel ini berawal dari fokus Angga pada kisah horor di Indonesia yang terbilang masih stagnan. Di sisi lain, kisah horor hampir selalu diminati masyarakat Indonesia sehingga akan selalu ada. 淧roblemnya adalah saya melihat kisah horor di Indonesia yang selalu berkaca pada kisah-kisah yang sifatnya tradisional. Seperti contoh pocong atau kuntilanak. Di satu sisi memang bisa dikatakan sebagai keunikan kisah horor Indonesia. Namun saya melihatnya sebagai hal yang stagnan, ucap Angga.

Pada akhir, Angga berpesan khususnya terhadap eksplorasi buku atau karya-karya lain, agar terus bereksplorasi dan membuka mata agar tidak selalu stagnan dengan tren saat ini. 淎pa yang kita anggap sebagai keunikan Indonesia ini jangan-jangan sebuah penjara. Sehingga kita terlalu nyaman di dalamnya dan tidak menciptakan sesuatu yang baru. Saya harapkan pembaca atau siapapun bisa membuka horizon mereka bahwa Indonesia ini masih dan sangat luas untuk terus dikembangkan,  pungkasnya. 

Penulis: Zahwa Najiba Putri Malika

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT