51动漫

51动漫 Official Website

Cerita Mahasiswa HI jadi Tenaga Pengajar Bina Anak Prasekolah Desa di Kalimantan Timur

Naylah RA Matondang (pojok kanan) bersama guru dan siswa BAP menunjukkan hasil karya pembelajaran (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Mengisi masa liburan dengan kegiatan produktif, Naylah RA Matondang, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) (FISIP) 51动漫, memilih terjun langsung sebagai tenaga pengajar di Bina Anak Prasekolah Desa (BAP) di wilayah Manggar dan Karang Joang, Kalimantan Timur. Program tersebut berada di bawah naungan (PKBI) yang membawahi sektor pendidikan BAP.

Selama kurang lebih satu bulan, sejak Selasa (30/12/2025) hingga Minggu (8/2/2026), ia terlibat dalam kegiatan survei sekaligus mengajar 46 anak dari dua sekolah binaan. Sebelum memasuki tahap pengajaran, Naylah terlebih dahulu melakukan survei selama satu pekan untuk memetakan kebutuhan masing-masing sekolah. Dari hasil pengamatannya, wilayah Manggar, yang berada di kawasan pesisir dan berjarak sekitar 30 menit hingga satu jam dari pusat kota, lebih membutuhkan dukungan tenaga pendidik dan pendekatan khusus.

Selain keterbatasan fasilitas, kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan prasekolah juga masih menjadi tantangan. 淭ujuan survei itu untuk memetakan sekolah mana yang memang membutuhkan tenaga pendidik ekstra. Di Manggar, saya melihat kondisinya lebih membutuhkan karena secara sosial dan kesadaran pendidikan masih belum berkembang. Jadi saya memutuskan untuk lebih fokus mengajar di sana, ujarnya.

Berangkat dari pemetaan tersebut, Naylah tidak hanya mengikuti kurikulum yang telah ada, tetapi juga melakukan pengayaan metode pembelajaran. Ia mencoba mengadaptasi pendekatan Skandinavia yang menekankan nilai rasa dan kesadaran sosial, serta metode taman kanak-kanak Jepang yang berfokus pada pembentukan disiplin dan kebiasaan positif.

Naylah RA Matondang, mahasiswa HI UNAIR, mengajar Bina Anak Prasekolah (BAP) dalam program pengabdian PKBI
Naylah RA Matondang, mahasiswa HI UNAIR, mengajar Bina Anak Prasekolah (BAP) dalam program pengabdian PKBI (Foto: Istimewa)

Dalam praktiknya, pendekatan Skandinavia ia terapkan melalui pembiasaan empati dan pengelolaan emosi di kelas. Sementara itu, metode Jepang terwujud lewat pengenalan budaya secara langsung. Seperti simulasi bertamu, pembiasaan mengucapkan salam dan terima kasih dalam bahasa Jepang, hingga kegiatan eksploratif yang melatih kedisiplinan serta motorik anak.

淜alau metode Skandinavia itu menekankan pada awareness terhadap perasaan orang di sekitar. Anak-anak diajarkan untuk peka terhadap situasi. Misalnya memahami waktu bermain yang terbatas atau belajar mengelola emosi. Sedangkan metode Jepang lebih membentuk kebiasaan disiplin dan tertib. Dan setelah kami terapkan, guru-guru menyampaikan bahwa anak-anak menjadi lebih tenang dan well behaved, jelasnya.

Respons positif tersebut tidak hanya terlihat di sekolah, tetapi juga di rumah. Naylah mengungkapkan bahwa sejumlah orang tua menyampaikan perubahan perilaku anak. Mulai dari kebiasaan menyapa hingga penggunaan kosakata baru yang dipelajari di kelas.

Kendati adaptasi metode berjalan relatif lancar, Naylah mengakui tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial dan geografis. Lokasi sekolah yang berada di kawasan desa dengan akses terbatas serta jarak tempuh yang cukup jauh menjadi kendala tersendiri. Selain itu, membangun kepercayaan dengan sebagian orang tua juga membutuhkan proses.

淭antangan terbesarnya justru di lingkungan sosialnya. Anak-anak mudah beradaptasi, tetapi membangun kepercayaan dengan sebagian orang tua itu butuh waktu. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah semangat belajar anak-anak di sana. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap datang ke sekolah setiap pagi dan antusias mengikuti kegiatan, tuturnya.

Selain mengajar, Naylah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan prasekolah melalui program promosi dan dukungan pendaftaran siswa baru di salah satu sekolah binaan PKBI. Program tersebut bahkan berhasil meningkatkan jumlah pendaftar dalam waktu singkat.

Kedepannya, ia berharap pendekatan yang telah diterapkan dapat terus pihak sekolah lanjutkan. Bagi Naylah, pengabdian ini bukan sekadar pengalaman mengajar, melainkan refleksi tentang bagaimana pendidikan desa dapat berkembang melalui pendekatan yang tepat dan kepedulian yang berkelanjutan.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT