UNAIR NEWS – Mewujudkan Tri dharma perguruan tinggi dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 51 bersama civitas akademika didalamnya mendukung dunia perfilman Indonesia. Melalui film yang berjudul Soera Ing Baja, Gemuruh Revolusi 45 tersebut banyak mendapat apresiasi oleh khalayak publik.
Sehingga pada 7 November 2022 seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter Soera Ing Baja diundang ke acara ruang publik TVRI Jawa Timur. Acara tersebut juga dihadiri oleh mahasiswa FIB UNAIR yang turut memeriahkan TVRI JATIM.
Awal Mula Kolaborasi Pembuatan Film Dokumenter
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Kukuh Yudha Karnanta SS MA sebagai kritikus film dan narasumber dalam acara tersebut mengungkapkan sebelum film Soera Ing Baja, civitas akademika FIB UNAIR juga pernah terlibat dalam film yang berjudul Koesno Jati Diri Soekarno. Melalui film tersebut terdapat pesan yang tersampaikan dan apresiasi dari publik menjadi nominasi film dokumenter pendek Festival Film Indonesia (FFI) 2022.
Sebagai kota yang padat akan sejarah perjuangan bangsa, Surabaya merupakan sebuah kota dengan potensi perfilman yang luar biasa. Namun pertautan antara aktor, komunitas, dan sutradara belum berkesinambungan. Melalui pentahelix kebudayaan dan kerja sama antara media TVRI JATIM, Komunitas Begandring, pemerintah kota, dan civitas akademika dari FIB UNAIR. Maka pertemuan ini menjadi menjadi suatu model perkembangan ekosistem film di Surabaya dan tercetuslah film dokumenter sejarah yang dapat dikenang hingga generasi berikutnya.
Pada awalnya adalah riset kemudian kami bertemu dengan teman-teman begandring yang sangat giat dengan sejarah, kemudian berkenalan dengan TVRI kemudian tercetuslah ide untuk membuat film dokumenter, tuturnya.

Hadirnya Kolaborasi dengan Pemerintah
Kukuh mengatakan selama ini komunitas film belum pernah terlibat langsung dengan pemerintah Kota Surabaya. Melalui film itu, tentu saja merupakan sebuah sejarah baru yang sangat baik. Apalagi dengan hadirnya Walikota Surabaya Edi Cahyadi sebagai salah satu aktor dalam film tersebut.
Jangankan pak wali bermain, komunitas film bersentuhan dengan pemerintah kota aja ga pernah. Apalagi ini pucuk pimpinannya diminta untuk bermain, tuturnya.
Merupakan Film Dokumenter
Ada beberapa cara suatu kota untuk membranding kotanya dan menghidupkan perfilman di kota tersebut. Menurut Kukuh cara meningkatkan perfilman di Surabaya adalah dengan festival film pendek kota Surabaya.
Kalau bicara film dengan konten kebudayaan tradisi lokal, kota Yogyakarta sudah lebih kuat ekosistemnya. Kalau bicara konteks urban metropolitan, Jakarta sudah lebih lama investasi ekosistemnya. Dan menurut saya Surabaya mungkin bisa mengembangkan festival film sejarah dan kepahlawanan karena itu belum ada, tutupnya.
Maka melalui film sejarah tersebut, itu bisa menjadi peluang bagi kota Surabaya yang dapat diunggulkan hingga pasca Internasional melalui genre film War. Film perang seperti ini bisa mendatangkan turis yang nantinya dapat menghidupkan komunitas lokal Indonesia.
Saya pulang dari DPRD dan berdiskusi dengan anggota dewan membahas tentang kebudayaan dan kepahlawanan. Ternyata Julukan kota pahlawan itu hanya ada di Surabaya, jadi di seluruh dunia itu tidak ada, hanya di Surabaya, tutupnya.
Kekuatan kreativitas menciptakan ekosistem film sejarah dan Surabaya adalah Pentahelix. Artinya kolaborasi yang terjalin antar kampus dan komunitas bila terjalin semakin rekat maka akan terjadi kegerakan yang sangat dahsyat.
Penulis: Monika Astria Br Gultom
Editor: Feri Fenoria





