51动漫

51动漫 Official Website

CoE-PSQ FKM UNAIR Gelar Webinar Edukasi Keselamatan Pasien untuk Anak dan Remaja

Penyampaian Materi oleh Inge Dhamanti S KM M Kes MPH PhD (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – , , menggelar webinar membahas edukasi keselamatan pasien untuk anak dan remaja. Webinar tersebut terlaksana secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (03/02/2024). Sebanyak kurang lebih 240 peserta hadir dan aktif dalam sesi diskusi daring itu. 

Webinar tersebut mengundang pemateri dalam bidang kesehatan masyarakat, salah satunya adalah Inge Dhamanti SKM MKes MPH PhD. Ia juga merupakan Head Center of Excellence for Patient Safety and Quality (CoE-PSQ) 51动漫.

Dalam pembuka materinya, Inge menjelaskan bahwa target dari kampanye 淎nak dan Remaja Mencegah Insiden adalah anak dan remaja berusia 6-18 tahun. Salah satu karakteristiknya, lanjut Inge, yaitu terjadi pertumbuhan fisik, psikologis, dan intelektual secara pesat.

淎nak usia sekolah adalah kelompok usia 6 sampai sebelum 18 tahun, sedangkan remaja adalah kelompok usia 10-18 tahun. Pada usia tersebut anak mulai memahami peraturan yang ada, mampu mengkonseptualisasikan sesuatu yang abstrak, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, jelas Inge.

Selanjutnya, Inge juga menjelaskan pengertian insiden dengan bahasa yang sederhana agar peserta yang hadir yang merupakan anak SMP dan SMA bisa memahami hal tersebut. 淚nsiden merupakan kejadian yang mungkin terjadi pada pasien yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan pasien. Contohnya adalah pemberian obat yang salah atau kesalahan prosedur lainnya, papar Inge.

Inge lanjut membahas tentang keselamatan pasien merupakan tanggung jawab semua orang. Semua tenaga kesehatan, sambung Inge, pastinya sudah memberi pelayanan terbaik pada pasien, tetapi kadang kala kesalahan (human error) mungkin saja terjadi. 

淥leh karena itu, penting untuk fokus pada pencegahan dari terjadinya insiden dengan menjaga keselamatan pasien. Keselamatan pasien merupakan segala upaya yang dilakukan untuk membuat pelayanan dan perawatan menjadi lebih aman. Contohnya dengan memeriksa kembali obat yang sudah diresepkan, pasien memakai gelang identitas saat rawat inap, dan masih banyak lagi, terang Inge.

Inge kemudian memaparkan bahwa insiden keselamatan pasien anak sering terjadi tanpa kehadiran orang tua, sehingga penting untuk adanya intervensi yang melibatkan anak untuk mencegah terjadinya insiden. Keterlibatan tersebut, lanjutnya, dapat berupa belajar mencari tahu informasi terkait, pembuatan keputusan, dan pengambilan tindakan.

淎nak-anak cenderung untuk tidak melakukan sesuatu jika terdapat peringatan bahwa sesuatu itu berbahaya. Oleh karena itu, program edukasi mengajarkan perilaku spesifik terkait insiden keselamatan pasien dapat menjadi solusi menjanjikan, pungkas Inge.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT