UNAIR NEWS – Perang dagang yang terjadi pada 2018-2019 antara Amerika Serikat (AS) dan China memberikan dampak pada aliran dagang kedua negara. Pasalnya, AS dan China saling mengenakan tarif untuk produk impor masing-masing.
The US and China have threatened to impose new tariffs and increase existing ones, jelas Dr Muhammad Ali Nasir dari Universitas Leeds dalam kuliah tamu dengan topik Global Imbalances and Trade War secara daring via Zoom, Selasa (28/2/2023).
Perang dagang tersebut mengganggu perkembangan perekonomian beberapa negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, juga Vietnam. Dr Muhammad menengarai bahwa ketergantungan terhadap produk impor dari AS-Chinalah yang membuat beberapa negara tersebut terganggu secara pertumbuhan ekonomi. Hingga akhirnya muncul kesepakatan dagang antara AS-China pada tahun 2020.
Ekonomi Global dalam Situasi Pandemi
Pasca-perang dagang, perekonomian global terbentur pada pandemi Covid-19. Situasi tersebut memaksa negara-negara melakukan impor karena semua pekerjaan lapangan harus berhenti atau beroperasi dari rumah.
Menurut Dr Muhammad, ketika pandemi hadir, banyak negara maju yang mengira bahwa mereka dapat menarik investasinya di negara berkembang saat itu juga sebagai sumber perekonomian darurat. Tapi, hal itu tidak sesuai dengan bayangan mereka. Jadi, penarikan uang dari negara berkembang tidak bisa.
淧engaruh pandemi mengakibatkan perekonomian di hampir semua negara mengalami penurunan secara drastis. Kecuali China yang mengalami kenaikan dalam angka 6,8 persen, katanya.
Akibat Lockdown
Pengaruh pembatasan mobilitas (lockdown) menjadi indikator menurunnya perekonomian global, terlebih pada semester kedua tahun 2020. Kendati mengalami penurunan, China tetap mendapat bounce back ekonomi sebanyak 4,9 persen dibanding negara lain yang cenderung turun drastis.
Dr Muhammad menilai tidak adanya varian virus Covid-19 yang muncul melatarbelakangi kondisi China saat itu. Oleh karenanya, China bisa menjalankan ekonomi domestiknya bersamaan melakukan ekspor kepada negara-negara lain. Ia menyebut tindakan ekonomi China tersebut dengan istilah dual strategy.
Global Imbalances and Trade War menjadi seri kedua dari kuliah tamu FEB UNAIR. Dr Miguel Esquivias, Dosen FEB UNAIR, menjadi moderator dan memandu jalannya diskusi dalam kuliah tamu kali ini. Hadir dalam acara tersebut akademisi FEB UNAIR dan dari luar UNAIR. Kuliah tamu tersebut juga bersigat terbuka secara umum.
Penulis: Muhammad Naufal Rabbani
Editor: Feri Fenoria





