51动漫

51动漫 Official Website

Custom-Pillbox untuk Meningkatkan Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Diabetes Melitus

Foto oleh boatmanfurniture.co.uk

Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia. Etiopatologi pada diabetes melitus terdiri dari gangguan sekresi insulin, aksi insulin, maupun keduanya, serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Diabetes melitus tipe 2 berkontribusi sebesar 90%-95% dari seluruh diabetes melitus dengan proporsi tertinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hasil survei IDF menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia berada pada ranking ke-7 terbanyak di dunia. Prevalensi penyakit diabetes melitus di Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan hasil RISKESDAS meningkat dari tahun 2013 hingga tahun 2018.

Ketidakpatuhan terhadap terapi merupakan salah satu dari permasalahan terapi obat yang berhubungan dengan luaran terapi pada pasien diabetes melitus. Studi menunjukkan bahwa nilai kontrol glikemik akan memburuk ketika pasien tidak patuh terhadap terapinya. Ketidakpatuhan juga dapat menyebabkan risiko terjadinya komplikasi dan biaya yang tinggi. Namun, tingkat kepatuhan terhadap terapi jangka panjang di negara berkembang masih di bawah 50%. Beberapa studi mengenai gambaran kepatuhan di Indonesia menunjukkan bahwa pasien yang patuh terhadap terapi diabetes melitus masih rendah.

Ketidakpatuhan terhadap terapi dapat terjadi karena disengaja maupun karena tidak disengaja. Ketidakpatuhan yang tidak disengaja merupakan proses pasif dimana pasien memiliki keterbatasan kapasitas untuk patuh. Sedangkan ketidakpatuhan yang disengaja adalah proses aktif dimana pasien memilih untuk tidak patuh. Menurut WHO, alasan ketidakpatuhan dapat terbagi menjadi beberapa faktor, yaitu faktor sosioekonomi, sistem kesehatan, faktor penyakit, faktor terkait terapi, dan faktor pasien.

Berbagai intervensi yang diberikan untuk meningkatkan kepatuhan telah dilakukan, baik intervensi terkait treatment, klinisi, pasien, keluarga, dan diskusi grup. Intervensi yang diberikan perlu disesuaikan dengan hambatan apa saja yang dapat menyebabkan pasien tidak patuh.  Mahacita Andanalusia, mahasiswa S2 Magister Ilmu Farmasi di Fakultas Farmasi 51动漫 yang berasal dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, tertarik untuk meneliti penggunaan custompillbox sebagai sarana untuk membantu pasien yang memiliki tingkat literasi yang rendah dalam mematuhi regimen terapinya.

Mahacita menggunakan custom-pillbox dan juga memberikan edukasi yang dilengkapi dengan penggunaan piktogram untuk menjelaskan tata cara penggunaan obat. Custom-pillbox yang diberikan adalah pillbox yang telah diberikan label hari dalam bahasa dan label warna pada masing-masing obat untuk membantu pasien dengan kondisi spesifik tersebut dalam mengidentifikasi obatnya. Label warna ini juga disesuaikan dengan label di piktogram.  Sebagai hasil penelitian, pemberian edukasi dan pillbox memberikan pengaruh pada peningkatan kepatuhan terapi pasien.

Pemberian edukasi dan pillbox tersebut dipilih berdasarkan kondisi lapangan yang diamati. Beberapa pasien yang memiliki kondisi spesifik menyebabkan pemberian edukasi lebih cocok dilakukan secara face-to-face dengan alat bantu piktogram. Selain itu, bagi pasien dengan kondisi ini, dapat digunakan pillbox untuk meningkatkan kepatuhan.   

Mahacita menemukan bahwa pemberian edukasi saja tidak dapat meningkatkan kepatuhan secara signifikan. Kondisi ini dapat disebabkan karena sebagian besar pasien memiliki pendidikan rendah atau literasi yang rendah. Hal ini dapat mempersulit mereka untuk memahami informasi tambahan di luar informasi yang ada di piktogram. Piktogram ditujukan untuk memudahkan individu dalam memahami sesuatu, tetapi beberapa hal tidak bisa diekspresikan melalui pictogram, diantaranya teori tentang diabetes melitus.

Pengaruh edukasi yang tidak maksimal dapat disebabkan karena peran pasien yang pasif dan tidak dapat menggambarkan kepercayaan awam yang telah ada pada pasien yang didapatkan dari sumber lain. Edukasi yang baik membutuhkan partisipasi aktif antara praktisi dan pasien. Hal ini dapat menjadi titik kritis untuk menentukan bagaimana pasien menentukan manajemen terapinya. Piktogram yang digunakan dalam penelitian ini juga hanya penjelasan cara penggunaan obat. Konten edukasi lainnya, terutama yang melibatkan partisipasi pasien dalam berkomunikasi tidak dapat digambarkan dengan simbol.

Penggunaan kombinasi antara edukasi verbal, piktogram, dan pillbox dapat menunjukkan proses belajar yang lebih optimal sehingga kepatuhan terhadap terapi pada pasien dapat meningkat. Pemberian edukasi dan pillbox pada setting pelayanan Puskesmas dapat meningkatkan kepatuhan terapi pada pasien diabetes melitus. Model intervensi ini dapat digunakan oleh sebagai bagian dari manajemen terapi pada pasien dengan penyakit kronis.

Nama: Dr. Yunita Nita, S.Si, M.Pharm, Apt

Link Artikel Jurnal:

Judul Publikasi: The effect of pillbox use and education by pharmacist toward medication adherence in diabetes mellitus patients in a Primary Health Care Center in Mataram

AKSES CEPAT