Generasi digital merupakan kelompok individu yang tumbuh dan berkembang berdampingan dengan kecanggihan internet yang mampu mempermudah segala urusan. Sebagian besar mereka cenderung menghabiskan waktunya untuk menyelami dunia maya.
Berkembangnya internet memungkinkan generasi saat ini dengan mudah berinteraksi sosial jarak jauh, belajar, atau hanya sekedar mencari hiburan. Namun, ditengah banyaknya kemudahan akibat modernisasi teknologi ini, ada banyak dampak negatif yang ditimbulkan, salah satu yang mudah dijumpai adalah cyberbullying.
Berdasarkan data dari Microsoft yang berjudul Digital Civility Indeks 2020 Indonesia dijuluki sebagai negara dengan pengguna sosial paling tidak ramah se-Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena cyberbullying sudah membudaya pada perilaku online masyarakat kita. Jika dibiarkan, cyberbullying dapat salah satu ancaman yang dapat berdampak negatif bagi mentalitas generasi muda yang diharapkan mampu mewujudkan Indonesia Emas 2024 nanti.
Cyberbullying dan Penyebabnya
Cyberbullying merupakan tindakan selanyaknya bullying/perundungan namun dilakukan melalui dunia maya atau cyber. Tindakan yang meliputi penghinaan, pengucilan, pelecehan, pencemaran nama baik, serta mengintimidasi seseorang yang dianggap lemah. Mudahnya mengakses internet menjadikan pelaku perundungan dengan mudah menyebarkan tindakan yang merugikan dan menimbulkan dampak buruk bagi psikologis dan emosional yang serius pada korban perundungan.
Salah satu penyebab maraknya terjadi cyberbullying adalah karena adanya kebebasan dalam mengakses internet yang menjadikan para pelaku melakukan perundungan dengan mudah melalui media sosial, mereka dapat dengan mudah menulis komentar jahat dan sensitif melalui akun anonim yang tidak dapat diketahui identitas pengirimnya, sehingga mereka tidak perlu takut identitas mereka diketahui.
Seperti yang dialami oleh beberapa artis asal Korea Selatan di antaranya adalah Sulli, dan Goo Hara. Mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka karena depresi, lantaran tidak kuat menghadapi banyaknya komentar jahat yang dilayangkan pada mereka.
Sumber lainnya mengatakan bahwa gaya humor yang berlebihan bisa menjadi penyebab terjadinya cyberbullying. Gaya humor tersebut merupakan gaya humor agresif dan self-defeating yang memiliki kecenderungan bersifat negatif dan merugikan orang lain. Humor yang merugikan ini digunakan hanya untuk memenuhi kesenangan pribadi dan terkadang disertai dengan alasan iseng atau sekedar bercanda saja.
Seperti yang dialami oleh siswi kelas 1 SD bernama Yurika yang mengalami perundungan di sekolah, seperti yang dikatakan dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @yoenik.apparel.
“Aku di sekolah sering dibenci sama teman-teman dan dibully,” jelas Yurika yang saat itu memakai seragam olahraganya. “Oh, dibully kenapa?” tanya si pewawancara. “Aku lagi diam, terus teman-teman aku bilang Yurika mah bau tai,” jawabnya, melansir dari TribunJakarta.
Sontak potongan video tersebut menjadi ramai dan banyak pengguna TikTok yang memarodikan video tersebut.
Dampak Cyberbullying
Dampak dari cyberbullying bisa sangat berbahaya bagi para korban maupun pelaku. Korban dapat mengalami berbagai emosi negatif, seperti kesedihan, kemarahan, frustrasi, dan penghinaan. Mereka juga mungkin merasa terisolasi dan sendirian, seolah-olah mereka tidak memiliki siapa pun untuk dituju. Dalam beberapa kasus, korban bahkan mungkin mempertimbangkan untuk bunuh diri karena mengalami depresi yang parah.
Sedangkan bagi pelaku ini akan menimbulkan perilaku impulsif atau melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, menumpulkan empati, agresif serta selalu melihat segala sesuatu selalu menggunakan sudut pandang negatif. Perilaku tersebut dapat membuat seseorang susah diterima dalam lingkungan sosial dan justru akan dicap negatif oleh masyarakat.
Melihat damage yang dapat ditimbulkan melalui cyberbullying mengingatkan kita pada betapa pentingnya edukasi dan regulasi yang tepat untuk mengatasi dan meminimalisir dampak negatif dari kemajuan teknologi bagi generasi digital.
Be Brave to Speak up
Kebanyakan orang yang mengalami tindakan perundungan online cenderung akan memendam dan menutupi hal tersebut sendirian. Entah karena faktor malu atau merasa bahwa itu adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Padahal, ini akan memperparah kondisi apabila dibiarkan dan akan menjadi bom waktu.
Oleh karena itu bagi para korban cyberbullying, tidak perlu ragu untuk bercerita tentang apa yang dialami kepada orang terdekat. Korban harus memiliki keberanian untuk mengutarakan masalah ini jika perlu kepada pihak berwajib dengan bukti yang ada. Melaporkan tindakan cyberbullying tidak hanya membantu melindungi diri sendiri tetapi juga dapat mencegah pelaku untuk melakukan hal serupa kepada orang lain.
Selanjutnya, penting juga bagi korban untuk mencari dukungan emosional dari teman-teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental. Karena emosi negatif yang dipendam sendirian dapat berdampak buruk bagi kesehatan seperti stress dan meningkatnya penyakit degeneratif. Selain itu, dengan bercerita akan menghindarkan korban untuk berpikiran melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri.
Mengatasi cyberbullying memerlukan kombinasi tindakan pencegahan melalui penerapan norma-norma sosial yang baik dan tindakan proaktif dari korban untuk melindungi diri sendiri. Dengan melakukan langkah-langkah ini, kita dapat berkontribusi untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan mendukung bagi semua orang.
Penulis: Savira Rahmania





