UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 51动漫 (UNAIR) terus menggaungkan semangat literasi bagi mahasiswa. Melalui Kementerian Kajian Strategis, mereka mempersembahkan Literasi Kastrat bertemakan Tetaplah Bodoh Jangan Pintar. Kegiatan berlangsung pada Kamis (28/11/2024) di Ruang Tutorial Kampus Mojo. Dalam kesempatan tersebut peserta melakukan deep reading dan diskusi yang dipandu Muhammad Khoirul Anwar.
Dalami Masalah Sosial
Ketua Pelaksana, Amalia Sofi Ramadanti mengatakan mereka melakukan pembahasan novel berjudul Tetaplah Bodoh Jangan Pintar. Novel tersebut mengajarkan untuk tidak merasa puas dengan pengetahuan yang kita miliki.
Sebaliknya, sebagai manusia harus terus membuka diri untuk belajar dan mencari kebenaran. Hal tersebut sangat relevan dengan situasi terkini degan banyak permasalahan kompleks. Perlu pemikiran kritis dan solusi inovatif untuk menuntaskan permasalahan. 淢ungkin tema terdengar provokatif. Namun, buku ini membawa pesan penting tentang sikap rendah hati dan terus belajar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, katanya.

Mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA angkatan 2023 itu menyebut novel karya Tere Liye itu juga bermakna mendalam tentang kejujuran, keberanian, dan keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan. Standar kepintaran yang kerap terukur dari kesuksesan material dan status sosial seringkali menjebak manusia. Jangan sampai hal tersebut menutup rasa ingin tahu dan kerendahan hati. 淜ita tetap harus berani untuk tetap bodoh. Dalam arti tidak takut untuk belajar dan mengakui ketidaktahuan, sebutnya.
Siratkan Isu Sosial
Lia mengungkapkan novel tersebut turut mengangkat isu sosial yang relevan dengan permasalahan sosial di Banyuwangi. Salah satunya adalah kasus agraria sengketa tanah yang berada di Desa Pakel. Kepekaan hingga kesadaran isu sosial dan lingkungan menjadi bagian tanggung jawab mahasiswa. Mereka harus memahami dampak konflik agraria dan perjuangan masyarakat dapat memperkaya wawasan dan rasa empati terhadap sesama.
淪alah satu kasus yang ingin kami angkat dalam diskusi hari ini adalah sengketa tanah Pakel di Banyuwangi. Sengketa ini bukan hanya tentang hak atas tanah, tetapi juga keadilan, HAM, dan keberlanjutan lingkungan, ungkapnya.
Melalui kegiatan literasi Kastrat ini, Lia berharap dapat membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang lebih mendalam tentang isu-isu sosial dan hukum. Serta berkontribusi mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Mari terus belajar, berdiskusi, dan beraksi mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Yulia Rohmawati





