Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat besar di seluruh dunia. Lebih dari 600 jiwa penduduk di dunia terjangkit penyakit ini, dan 6 juta diantaranya meninggal. Di Indonesia, kasus pertama COVID-19 dilaporkan pada 2 Maret 2020. Hingga saat ini, lebih dari 4 juta penduduk Indonesia terjangkit penyakit ini, dimana 121 ribu penduduk diantaranya meninggal.
Besarnya dampak dari penyakit ini, membuat layanan kesehatan rutin dihentikan sementara. Hal ini untuk mencegah terjadinya penularan, dan juga untuk mengalihkan sumber daya tenaga kesehatan untuk menangani pasien yang penderita COVID-19. Salah satu layanan kesehatan rutin yang terhentikan adalah PROLANIS (Program Pengendalian Penyakit Kronis).
PROLANIS merupakan program dari pemerintah Indonesia untuk mengontrol pasien-pasien yang menderita penyakit kronis tidak menular agar tidak mengalami komplikasi. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien tersebut. Salah satu penyakit kronis yang masuk dalam fokus utama PROLANIS adalah hipertensi. Program ini telah berjalan sejak tahun 2010, namun hanya khusus untuk peserta ASKES. Di tahun 2015 setelah adanya BPJS Kesehatan, seluruh pasien yang menjadi peserta BPJS Kesehatan dapat mengikuti kegiatan ini. Kegiatan PROLANIS antara lain konsultasi medis, edukasi kelompok dan kunjungan rumah. Selain itu, peserta PROLANIS juga menjalani pemeriksaan laboratorium sebagai evaluasi kondisi kesehatannya setiap 6 bulan sekali. Pelaksanaan program ini dilakukan di seluruh puskesmas di Indonesia.
Dengan adanya pandemi COVID-19 yang membuat layanan program rutin ini dihentikan sementara, kami menduga bahwa kondisi kesehatan pasien hipertensi yang tergabung dalam PROLANIS mengalami perburukan kondisi. Untuk itu, kami melakukan penelitian awalan di 4 puskesmas di 4 daerah yang berbeda di Jawa Timur (Malang, Bojonegoro, Tuban, dan Jember). Kami mengevaluasi hasil pemeriksaan fisik (berat badan dan tekanan darah) dan laboratorium (fungsi ginjal dan kadar lemak dalam darah) sebelum terjadi COVID-19, saat awal terjadi COVID-19 dimana layanan PROLANIS dihentikan, dan setelah layanan PROLANIS kembali berlangsung. Kami menemukan bahwa berat badan, tekanan darah, fungsi ginjal, dan kolesterol peserta PROLANIS memburuk ketika layanan PROLANIS dihentikan. Setelah layanan PROLANIS kembali berlangsung, kami menemukan bahwa berat badan dan kolesterol membaik, sedangkan fungsi ginjal tidak menunjukkan perbaikan. Ketika kami mengkaji ulang berdasarkan usia, kami menemukan bahwa perburukan kondisi hanya terjadi pada pasien berusia diatas 60 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian awal ini, kami mengambil kesimpulan bahwa kondisi pasien hipertensi yang tergabung dalam PROLANIS memburuk ketika kegiatan PROLANIS dihentikan di awal COVID-19, dimana pasien berusia diatas 60 tahun yang paling terdampak. Namun karena penelitian ini merupakan penelitian awal dimana kami hanya mengambil sampel dari 4 puskesmas, sedangkan total puskesmas di Jawa Timur lebih dari 1000 puskesmas, penelitian skala besar masih perlu dilakukan untuk melihat seberapa besar dampak COVID-19 terhadap keberlangsungan PROLANIS. Setelah itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pasien-pasien hipertensi tersebut, sehingga komplikasi karena penyakit hipertensi dapat dihindari.
Penulis: dr. Sovia Salamah dan dr. Firas Farisi Alkaff
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di:
Salamah S, Khafiyya AN, Ramadhani R, et al. Outcomes of the Indonesian Chronic Disease Management Program (PROLANIS) in Patients with Hypertension During the COVID-19 Pandemic in Rural Areas: A Preliminary Evaluation Study. Med Sci Monit. 2023; 29: e939797.





