Kelainan kulit yang paling banyak menyerang lansia, salah satunya adalah xerosis cutis (kulit kering). Kondisi ini dianggap sebagai bagian dari proses penuaan fisiologis kulit. Penuaan dapat meningkatkan kejadian dan tingkat keparahan terjadinya xerosis cutis dan mempengaruhi sekitar 75% populasi. Xerosis cutis dapat menyebabkan masalah kosmetik dan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti terasa gatal, perih, dan kering pada kulit. Hal tersebut juga merupakan penyebab paling umum dari pruritus pada populasi lansia. Penyakit penyerta lain seperti gagal ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipotiroidisme, atau penyakit kronis lainnya, juga dapat menyebabkan xerosis cutis. Perubahan kondisi kulit pada lansia dengan keluhan xerosis cutis cenderung berkembang seiring bertambahnya usia. Perubahan ini dapat dikaitkan dengan penuaan kronologis dan kerusakan akibat sinar matahari (photoaging).
Kondisi kulit dengan eksoriasi kulit akibat garukan dapat berdampak pada fungsi sosial dan pola tidur, intensitas xerosis cutis dan pruritus diyakini dapat merusak atau mengganggu kualitas hidup pasien. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan korelasi yang kuat antara pruritus, xerosis cutis, dan kualitas hidup pasien, namun penelitian terhadap pasien xerosis cutis dan tingkat keparahannya masih langka, terutama pada pasien usia lanjut.
Indeks Kualitas Hidup Dermatologi atau Dermatology Life Quality Index (DLQI) adalah kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan yang akan menilai pengaruh penyakit terhadap aspek fundamental kehidupan pasien. Digunakan pada orang dewasa berusia di atas 16 tahun dan memiliki keunggulan karena mudah dipahami, cepat, dan sederhana bagi pasien
Penelitian analitik observasional cross-sectional telah dilakukan untuk menganalisis dampak keparahan xerosis cutis terhadap kualitas hidup pasien lanjut usia. Penelitian dilakukan di unit rawat jalan Departemen Dermatovenereologi, Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia. Penelitian ini melibatkan total 36 pasien lanjut usia, dan menilai tingkat keparahan Xerosis cutis menggunakan skor Xerosimeter, dan mengevaluasi kualitas hidup menggunakan Dermatology Life Quality Index.
Mayoritas pasien lanjut usia dengan xerosis cutis memiliki tingkat keparahan sedang sebanyak 22 pasien (61,10%) dan melaporkan dampak sedang terhadap kualitas hidup sebanyak 17 pasien (47,20%). Tingkat keparahan xerosis cutis juga berkorelasi signifikan dengan kualitas hidup (P<0,000). Hasil penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan berbanding lurus antara derajat keparahan xerosis cutis dengan kualitas hidup, dimana derajat keparahan mempunyai dampak yang lebih besar terhadap kualitas hidup.
Penulis : Frizka Eliza,dr.
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:





