51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Peningkatan Biaya Perawatan Pasien Infeksi yang Disebabkan oleh Bakteri Resisten Antimikroba Karbapenem

Ilustrasi by Bobo ID

Carbapenem resistant-Enterobacteriaceae (CR-E) dan carbapenem resistant Acinetobacter baumannii (CRAB) adalah ancaman mendesak yang menyebabkan infeksi terkait perawatan kesehatan (HAIs) yang parah terutama pada subjek yang sakit kritis dan immunocompromised. Hal ini terkait dengan morbiditas, mortalitas dan peningkatan biaya perawatan kesehatan. Infeksi yang disebabkan Acinetobacter baumannii, walau dengan frekuensi kecil, namun memberikan beban besar bagi rumah sakit. Hal ini berkaitan dengan mahalnya perawatan pasien akibat infeksi Acinetobacter baumannii. Biaya tahunan CR-E lebih tinggi dari berbagai penyakit akut dan kronis. Risiko kematian pasien dengan infeksi yang disebabkan  Pseudomonas aeruginosa (CRPA) yang resisten terhadap karbapenem lebih besar dibandingkan dengan Pseudomonas aeruginosa yang sensitif terhadap karbapenem (CSPA). Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli adalah termasuk dalam patogen prioritas dari WHO.

Bakteri yang resisten terhadap karbapenem, sangat berkorelasi dengan beban klinis dan ekonomi. Diperkirakan 700 ribu orang meninggal setiap tahun karena infeksi yang resistan terhadap antimikroba, lebih dari 70% kasus kematian disebabkan oleh kesulitan dalam pengobatan CR-E, dan CRAB meningkatkan total biaya pengobatan sampai 1,5 kali lebih banyak dan membebani anggaran rumah sakit. Jika tidak ditangani dengan serius, lebih dari 10 juta kematian setiap tahun dapat terjadi pada tahun 2050, dan penurunan hingga 3,8% dalam produk domestik bruto (PDB) tahunan dan peningkatan beban bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah (Low Middle Income Countries; LMICs).

Penelitian berkaitan dengan infeksi mikroba resisten dengan dampak bagi biaya perawatan rumah sakit, sangat jarang dijumpai di Indonesia. Hasil studi di RSUD Dr. Soetomo tersebut, merupakan studi awal yang menganalisis keterkaitan mikroba resisten dengan biaya perawatan di rumah sakit.

Penelitian dimulai dari Januari 2021 hingga Agustus 2021. Data diambil dari rekam medis elektronik dari Maret 2018 hingga Februari 2021. Penelitian ini melibatkan 810 kasus, dan 270 (33,3%) ditemukan mikroba resisten karbapenem. Tidak ditemukan perbedaan bermakna berkaitan dengan jenis kelamin dan kelompok usia. Spesimen yang paling umum adalah urin n = 567, 70% diikuti darah n = 188, 23%, cairan pleura n = 22, 2,7% dan CSF/cairan serebrospinal n = 15, 1,9%, dan peritoneal n = 10, 1,2% dan kemudian beberapa kasus lainnya.

Data dikelompokkan dalam dua grup yakni resisten karbapenem pada kelompok E coli dan K pneumoniae, yang disingkat CRE dan kelompok kedua adalah resisten karbapenem pada kelompok P aeruginosa dan A baumannii yang disingkat dengan CR-PA-AB. Biaya pasien yang dirawat dengan CRE rata-rata USD.1179,30 atau sekitar Rp. 17.159.000,- dan dibandingkan dengan biaya rata-rata pada pasien dengan infeksi CSE (Carbapene sensitive Enterobacteriaceae) sebesar 1061,20 Dolar Amerika atau sekitar Rp. 15.440.360,-. Perbedaan tersebut sebesar. Rp.1.718.640,- rupiah lebih tinggi untuk setiap pasien pada kelompok bakteri resisten karbapenem. Walaupun perbedaan ini tidak bermakna, namun tetap membebani anggaran rumah sakit.

Namun pada infeksi akibat CR-PA-AB sangat jauh lebih tinggi dibanding CS-PA-AB (Carbapenem Sensitive Pseudomonas aeruginosa-Acinetobacter baumannii), yakni USD. 3026,24 dibanding USD. 1299,28. Hal ini menunjukkan biaya pasien dengan infeksi CR-PA-AB adalah lebih mahal sebesar USD. 1726,96 atau Rp. 25.127.268,- (dua puluh lima juta, serratus dua puluh tujuh ribu, dua ratus enam puluh delapan rupiah) untuk setiap pasien yang dirawat.  Perbedaan ini sangat bermakna, dan juga sangat berdampak bagi anggaran perawatan pasien di rumah sakit, akibat mikroba resisten.

Tingginya pembiayaan ini, selain akibat makin banyak belanja obat dan unsur pendukung lainnya, juga akibat lama perawatan (Length of Stay=LoS) yang makin lama pada kelompok mikroba resisten, yakni 15 hari pada kelompok resisten diban ding 11 hari pada kelompok sensitif.

Untuk mengatasi keadaan tersebut di atas, sebenarnya sudah ada Permenkes no. 8/2015 yang mengharuskan semua rumah sakit untuk secara Bersama melaksanakan program PPRA (Program Penanggulangan Resistensi Antimikroba), khususnya target untuk meningkatkan penggunaan antibiotika secara bijak. Permenkes itu sendiri adalah ide dari proyek penelitian Kerjasama FK 51动漫 dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2000, yang merupakan Kerjasama dengan para peneliti Belanda, khususnya Erasmus MC Rotterdam, Leiden University Medical Centre (LUMC), Leiden dan Radboud University Nijmegen Medical Centre, Nijmegen. Proyek ini dikenal dengan nama Antimicrobial resistance in Indonesia: Prevalence and Prevention atau disingkat AMRIN.

Harapan ke depan semua rumah sakit taat dalam menjalankan program PRA, demi memperbaiki luaran penanganan pasien dan efisiensi pelayanan penyakit infeksi di rumah sakit.

Penulis: Prof. Kuntaman, FK & RS 51动漫, RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Artikel asli dengan author peserta program S3 FK UNAIR, Yasmeen Lashari, Access published paper:

AKSES CEPAT