51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Mental

FOTO Prof Dr Juliana Jalaludin B SC M SC Ph D saat menjelaskan hubungan polusi udara dengan kesehatan mental (Foto: istimewa)
FOTO Prof Dr Juliana Jalaludin B SC M SC Ph D saat menjelaskan hubungan polusi udara dengan kesehatan mental (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Kualitas udara dalam ruangan berdampak penting terhadap kesehatan mental seseorang. Topik tersebut menjadi bahasan dalam kuliah tamu yang bertajuk The Role of Indoor Air Quality in Enhancing Workplace Mental Health yang berlangsung di Aula Soemarto, FKM UNAIR. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (7/5/2025) itu menggandeng Prof Dr Juliana Jalaludin B SC M SC Ph D dari .

Dekan , Prof Dr Santi Martini dr M Kes dalam sambutannya mengatakan bahwa topik itu menjadi bahasan yang penting karena berkaitan dengan kesehatan mental. 淎ntara polusi dan kesehatan mental ternyata ada hubungannya, ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa selama ini kebanyakan topik kesehatan mental dihubungkan dengan interaksi interpersonal. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa topik kesehatan mental kini banyak menjadi prioritas apalagi semenjak pandemi Covid-19. 

淎danya Covid-19 memaksa orang untuk bekerja sendiri karena pembatasan sosial. Hal itu bisa menjadi pemicu mental kita terganggu, tuturnya. 

Melalui kuliah tamu, ia berharap dapat memperluas wawasan bahwasanya kesehatan mental tidak hanya disebabkan oleh gangguan dalam hubungan interpersonal melainkan juga karena faktor lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan. 淜uliah tamu ini menjadi upaya kita untuk mempelajari bagaimana gangguan kesehatan mental bisa diakibatkan oleh polusi udara dalam ruangan. Sehingga, kita dapat melakukan mitigasi untuk meminimalisir risiko terjadinya gangguan kesehatan mental, tegasnya.

Prof Dr Juliana Jalaludin B SC M SC Ph D menyebutkan bahwa dalam penelitian global menunjukkan lebih dari 90 persen orang menghabiskan waktunya di dalam ruangan. 淟ebih dari 90 persen tergantung pada usia. Misalnya bayi akan lebih lama menghabiskan waktunya di dalam ruangan, jelasnya. Lamanya waktu yang dihabiskan manusia di dalam ruangan menjadi salah satu alasan mengapa penting memperhatikan kualitas udara dalam ruangan.

Prof Juliana juga mengungkapkan bahwa udara dalam ruangan ternyata mengandung lebih banyak polutan dibandingkan di luar. 淧olutan dalam ruangan jumlahnya 2 hingga 5 kali lebih banyak daripada polutan di luar ruangan, tuturnya. Ia menjelaskan bahwa dampaknya manusia akan terpapar lebih banyak polutan meskipun sedang di dalam ruangan.

Polusi udara dalam ruangan, sambungnya, dapat disebabkan oleh berbagai hal salah satunya bangunan yang saling berdempet sehingga tidak memiliki ventilasi udara. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya pertukaran udara. Udara segar dari luar tidak dapat masuk ke ruangan, begitupun dengan udara kotor dari dalam ruangan tidak dapat lepas ke luar sehingga kualitas udara dalam ruangan menjadi buruk.

Prof Juliana menyebutkan beberapa contoh dampak polusi udara dalam ruangan dapat mengganggu kesehatan mental. Ia menyebut bahwa VOC (Volatile Organic Compound) yang merupakan senyawa organik yang mudah menguap di udara dapat menyebabkan stres fisiologis. VOC dapat berasal dari bahan pelapis furnitur, tiner, atau cat dinding yang uapnya dapat terhirup manusia. 

淰OC memberikan efek toksik pada tubuh manusia dan dapat menyebabkan stres fisiologis, jelasnya.

Di samping itu, udara yang tidak fresh misalnya mengandung banyak karbondioksida atau CO2 juga disebut dapat mengakibatkan brain fog. Brain fog merupakan kelelahan mental yang menyebabkan gangguan kognitif seperti tidak fokus atau kebingungan. 淜adar karbon dioksida yang tinggi dapat berdampak pada kemampuan kognitif seseorang. Sebagai mahasiswa, jangan mengerjakan tugas di ruangan yang mengandung banyak karbon dioksida, pesannya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bagaimana debu dapat berdampak pada gangguan mental. Ia menuturkan bahwa debu yang terhirup dapat mengganggu keseimbangan hormon endokrin manusia. Gangguan pada hormon endokrin dapat berefek pada munculnya depresi dan kecemasan.

淏erhati-hati dan pastikan ruangan untuk belajar dan bekerja jangan berdebu, tuturnya.

Penulis: Septy Dwi Bahari Putri

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT