Kebutaan permanen sering disebabkan oleh penyakit retina, glaukoma, dan kelainan lain yang terlambat ditangani atau akibat perawatan yang kurang memadai1). Keterlambatan penanganan kasus retinal detachment (RD) atau ablasio retina, cenderung menjadi tren di negara berkembang, yang penanganannya bukan menjadi prioritas utama2). Kurangnya pendidikan, akses, dan cakupan layanan kesehatan yang tidak memadai kemungkinan merupakan faktor penyebab utama3). Pada berbagai tahap perawatan kesehatan, banyak terjadi penundaan sejak gejala awal muncul sampai dengan tidakan bedah dilakukan, baik dari sisi dokter ataupun pasien4).
Retinal detachment diperkirakan mencapai 17.500 hingga 25.000 kasus baru setiap tahunnya di Indonesia. Namun, belum ada laporan tahunan nasional untuk jumlah operasi RD1). Di Indonesia, terdapat sekitar 1.600“2.800 dokter vitreoretina (VR) yang diharapkan dapat melayani 230 juta orang. Mengingat sedikitnya jumlah ahli bedah VR di Indonesia, yang populasinya saat ini telah mencapai 270 juta, pengobatan penyakit VR tidak hanya membutuhkan intervensi yang tepat waktu tetapi juga akses yang lebih mudah dan terjangkau ke pusat kesehatan rujukan1), 5), 6). Akses kesehatan juga dipengaruhi oleh sarana transportasi, terutama di daerah pedesaan di mana jarak tempuh jauh dan alternatif transportasi juga terbatas7), 8). Hanya sedikit penelitian yang secara langsung membahas epidemiologi dan pengaruh RD terhadap skala penyakit retina. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi RD di negara berkembang dengan keterbatasan fasilitas dan distribusi ahli bedah vitreoretina yang tidak merata. Peninjauan dilakukan secara retrospektif melalui rekam medik pasien di Unit Rawat Jalan Mata RSUD Dr. Soetomo (RSDS), Surabaya (dari tahun 2013-2017) dengan total sampling seluruh kasus RD yang didiagnosis oleh konsultan vitreoretina. Data demografi dan variable penelitian meliputi usia, jenis kelamin, jarak perjalanan ke rumah sakit rujukan (TDH), periode dari onset gejala awal hingga konsultasi (SO-C), tingkat keparahan vitreoretinopati proliferatif (PVR), dan kehadiran tindak lanjut 6 bulan (6mo-FA).
Pada penelitian ini didapatkan 387 pasien yang terdiri dari 229 (59,2%) laki-laki dan 158 (40,8%) perempuan, dengan rentang usia 7-76 tahun (rata-rata±SD: 46,3±13,9 tahun). Sebagian besar pasien (359; 92,8%) berasal dari Pulau Jawa. Dari 387 pasien tersebut, 172 (44,4%) berasal dari jarak kurang dari atau sama dengan 30 km dari RSDS dan 94 (24,3%) berasal dari jarak lebih dari 120 km. Jarak tempuh rata-rata±SD ke rumah sakit rujukan (TDH) adalah 160,9±364 km dengan median 52 (10“2819) km. Rerata periode dari onset gejala awal hingga konsultasi (SO-C)±SD adalah 183,5-456 hari dengan median 30 (2-3775) hari. Setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, dibandingkan dengan TDH kurang dari atau sama dengan 30 km, hanya TDH jarak lebih dari 120 km yang secara signifikan dikaitkan dengan SO-C yang lebih panjang (Adjusted OR 1,78 ; 95% CI 1,09-2,92). Vitreoretinopati proliferatif (PVR) sebelum operasi tercatat pada 17,6% (13,9-21,7) pasien yang terdiri dari PVR grade A-B (39; 10,1%) dan C (29; 7,5%), sedangkan sebagian besar kasus (225; 58,1%) tanpa PVR. Setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, dibandingkan dengan SO-C kurang dari atau sama dengan 7 hari, hanya SO-C 31-60 hari yang secara signifikan terkait dengan tipe PVR lanjut (Adjusted OR 4,28; 95% CI 1,47-12.51). Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara tajam penglihatan awal dan TDH.
Sebagai kesimpulan, pada penelitian ini didapatkan bahwa jarak perjalanan lebih dari 120 km secara signifikan terkait dengan periode yang lebih lama dari timbulnya gejala hingga konsultasi dan 6 bulan masa tindak lanjut. Hal tersebut di atas secara signifikan terkait dengan keparahan PVR yang dapat mengakibatkan retinal redetachment dan prognosis yang buruk. Untuk meningkatkan tajam penglihatan akhir yang baik, maka kasus RD harus dirujuk dengan tepat waktu untuk mencegah keterlambatan penatalaksanaan, terutama pada RD yang telah mengenai makula. Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan akses ke perawatan mata dan mengembangkan pendekatan baru untuk menyediakan layanan kesehatan di daerah terpencil dengan akses dan biaya yang terjangkau. Pelatihan medis berkelanjutan dan peningkatan kesadaran terkait kegawatdaruratan RD juga sangat diperlukan bagi petugas kesehatan sebagaimana pentingnya edukasi bagi pasien atau kelompok dengan risiko tinggi terjadinya ablasio retina.
Penulis: Wimbo Sasono, dr.,Sp.M(KVR)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada link:
Sauli Ari Widjaja, Yoshimune Hiratsuka, Koichi Ono, Muhammad Firmansjah, Wimbo Sasono, Akira Murakami, The Impact of Travel Distance to Delayed Presentation and Follow-up Attendance of Retinal Detachment Cases in Surabaya, Indonesia, Juntendo Medical Journal, 2022, Volume 68, Issue 1, Pages 36-43, Released on J-STAGE February 28, 2022, Advance online publication February 04, 2022, Online ISSN 2188-2126, Print ISSN 2187-9737,
Judul Jurnal:
The Impact of Travel Distance to Delayed Presentation and Follow-up Attendance of Retinal Detachment Cases in Surabaya, Indonesia
Keywords: retinal detachment, delayed presentation, symptom onset, follow-up attendance, health system and accessible





