Upaya mencapai Universal Health Coverage (UHC) telah mendorong banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mereformasi sistem pembiayaan kesehatan. Salah satu instrumen utama Indonesia adalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sebuah skema asuransi kesehatan sosial yang diluncurkan sejak 2014 dengan tujuan menjamin seluruh penduduk memperoleh akses layanan kesehatan yang adil dan berkualitas. Namun, meskipun ambisi Indonesia sangat besar攂ahkan berpotensi menjadi program single payer terbesar di dunia攃apaian kepesertaan JKN hingga kini masih menghadapi tantangan serius.
Pada tahun 2020, kepesertaan JKN baru mencapai 82,7%, dan pada awal 2023 meningkat menjadi sekitar 90,3%. Angka ini masih berada di bawah target nasional sebesar 98% pada akhir 2024. Artinya, jutaan penduduk Indonesia masih berada di luar perlindungan sistem jaminan kesehatan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: faktor apa yang menghambat partisipasi masyarakat dalam JKN, dan bagaimana strategi yang paling efektif untuk meningkatkannya?

Penelitian ini menawarkan jawaban menarik dengan menyoroti peran pendidikan dalam kepesertaan JKN, melalui studi kasus masyarakat Madura. Pulau Madura dikenal memiliki karakteristik sosial budaya yang khas, termasuk ukuran keluarga yang besar serta tantangan struktural dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Data Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat menunjukkan bahwa empat kabupaten di Madura secara konsisten menempati peringkat terbawah di Provinsi Jawa Timur, baik pada tahun 2013 maupun 2018. Fakta ini menjadikan Madura sebagai lokasi yang sangat relevan untuk mengkaji hambatan pencapaian UHC.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan sekaligus informatif. Hanya 58,2% masyarakat Madura yang terdaftar sebagai peserta JKN, jauh di bawah rata-rata nasional pada periode yang sama. Lebih jauh lagi, analisis multivariat mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan determinan yang sangat kuat terhadap kepesertaan JKN. Individu Madura dengan pendidikan dasar memiliki peluang 1,7 kali lebih besar menjadi peserta JKN dibandingkan mereka yang tidak bersekolah. Peluang ini meningkat menjadi 2,3 kali pada pendidikan menengah, dan melonjak drastis hingga 4,6 kali pada pendidikan tinggi.
Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan pengetahuan, tetapi juga sebagai pintu masuk terhadap literasi asuransi kesehatan, kesadaran risiko, dan kemampuan mengambil keputusan jangka panjang. Individu berpendidikan lebih tinggi cenderung memahami manfaat jaminan kesehatan, lebih percaya pada sistem, serta lebih mampu mengakses informasi dan prosedur administrasi JKN.
Selain pendidikan, penelitian ini juga menemukan bahwa usia, jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, tingkat kesejahteraan, serta wilayah tempat tinggal turut memengaruhi kepesertaan JKN. Perempuan, kelompok usia lebih tua, mereka yang menikah, dan penduduk perkotaan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terdaftar sebagai peserta. Namun, pendidikan tetap menjadi faktor kunci yang beririsan dengan hampir semua variabel tersebut.
Urgensi penelitian ini terletak pada implikasinya bagi kebijakan publik. Jika pendidikan terbukti berperan penting dalam meningkatkan kepesertaan JKN, maka strategi pencapaian UHC tidak bisa hanya bertumpu pada pendekatan administratif atau kewajiban hukum, tetapi juga harus melibatkan investasi jangka panjang pada pendidikan dan literasi kesehatan. Tanpa itu, kelompok berpendidikan rendah攜ang umumnya juga miskin攁kan terus berisiko keluar dari sistem dan bergantung sepenuhnya pada subsidi pemerintah.
Dengan kata lain, pendidikan bukan sekadar sektor pendukung, melainkan fondasi keberlanjutan JKN. Studi ini menunjukkan bahwa memperkuat pendidikan masyarakat, khususnya di wilayah tertinggal seperti Madura, merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa UHC di Indonesia tidak hanya tercapai di atas kertas, tetapi juga berkelanjutan dan berkeadilan dalam praktik.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari – Fakultas Kessehatan Masyarakat 51动漫
Laksono, A. D., Wulandari, R. D., Nandini, N., Santi, M., W. (2025). Can Education Increase NHI Membership? A Case Study Among Madurese in Indonesia. Indonesian Journal of Health Administration. 2025; 13(1):9-19. https://doi.org/10.47836/mjmhs.21.s7.25
DOI:





