KKN atau Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan di 51动漫 (UNAIR) yang bertujuan memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup ditengah-tengah masyarakat di luar kampus. Selain itu, KKN juga dapat meningkatkan peran serta masyarakat terhadap tuntutan kemajuan zaman melalui transformasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Sebelum UNAIR merintis KKN, tiga universitas yang terdiri atas Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanudin, dan Universitas Andalas ini lebih dulu merintis program KKN pada tahun 1971. Perintisan KKN yang dilakukan oleh ketiga kampus ini merupakan bentuk implementasi dari basic memorandum Pembinaan Pendidikan Tinggi pada tahun 1967 yang menyinggung tentang Kuliah Kerja di desa. Peristiwa tersebut menandai dimulainya program KKN di perguruan tinggi. Pada bulan Februari 1972, program yang saat itu masih dinamakan pengabdian pada masyarakat ini memperoleh dorongan dengan adanya anjuran dari Presiden Soeharto.
Perintisan KKN di UNAIR
UNAIR sendiri pada saat itu belum menyelenggarakan KKN sepenuhnya, namun pada dasarnya sudah berwujud pengabdian masyarakat yang dilakukan di setiap fakultas. Selain itu, terdapat program yang mirip dengan KKN, yaitu program Bimas. Adanya pengerahan tenaga mahasiswa dan program Bimas menjadi cikal bakal lahirnya KKN sebagai bagian dari kurikulum di perguruan tinggi.
Untuk membahas masalah KKN ini, sebuah diskusi panel diselenggarakan. Diskusi tersebut disambut dengan cukup antusias dari mahasiswa. Ketua Dema UNAIR, Drs. Med. Hadi Hartono, mengharapkan agar hasil diskusi dapat dijadikan dasar pemikiran sekaligus penentu sikap bagi Dema 51动漫 terhadap masalah KKN.
Dengan merujuk pada dinamika yang terjadi, KKN pun dirintis di beberapa fakultas di lingkungan UNAIR, terhitung mulai dari tahun ajaran 1989/1990 sampai sekarang. KKN menjadi mata kuliah wajib atau intrakurikuler berdasarkan instruksi Rektor No.3067/PT.03/H/1989 tanggal 22 April 1989, dengan bobot sks sejumlah 3 sks. Namun, terdapat pengecualian untuk fakultas tertentu sebagai akibat dari kebijakan internal fakultas.
Fokus Penilaian KKN
Adapun penilaian KKN terdiri atas beberapa aspek, meliputi pra-KKN, penerjunan, dan laporan/seminar. Pra-KKN dilakukan dalam bentuk ceramah di fakultas masing-masing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Selanjutnya, penerjunan adalah pelaksanaan di lapangan sesuai lokasi yang ditentukan untuk mengetahui situasi, kondisi, dan potensi-potensi yang bisa dijadikan orientasi bidang garapan. Terakhir, hasil aktivitas dalam kegiatan KKN akan dievaluasi dalam bentuk seminar ilmiah. Evaluasi akan diikuti oleh mahasiswa peserta KKN, masyarakat di lokasi KKN, tim pembimbing lapangan, instansi pemerintah daerah, dan pengelola KKN LPKM UNAIR.
Dari KKN-U hingga KKN-BBK
Beberapa program KKN yang tematis lahir berdasarkan kenyataan di masyarakat. Pertama, program Kuliah Kerja Nyata Usaha (KKN-U) muncul sebagai jawaban terhadap fenomena sosial yang muncul berbasis masyarakat kota, dengan keberlangsungan program selama 2 periode tahun 1999-2000. Kedua, program Kuliah Kerja Nyata Berbasis Kompetensi (KKN-BK) muncul akibat dari berbagai potensi dan problem sosial masyarakat, dimulai sejak tahun 2000 dan berakhir pada semester genap 2007-2008.
Adapun mahasiswa KKN-BK mencoba menggali potensi lokal yang memiliki nilai ekonomis dan dapat dibina. Program ini berhasil dikembangkan dengan kegiatan yang berbasis masyarakat. Dari perkembangan program tersebut, lahirlah ide program KKN ketiga, yakni Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM). Melalui KKN-BM, mahasiswa dapat belajar bersama masyarakat untuk sama-sama menemukan persoalan sekaligus merancang kegiatan dengan memadukan kompetensi masing-masing mahasiswa dan potensi masyarakat.
Saat ini, KKN-BBM UNAIR kembali berevolusi menjadi Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK). Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) menjadi program unggulan UNAIR di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Dengan kata lain, KKN-BBK menjadi pengganti nama dari KKN-BBM. Tujuan pergantian nama yaitu untuk dapat mendukung secara penuh program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek yang kini berubah menjadi Kemendiktisaintek. Melalui berbagai evolusi itu, program pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa UNAIR itu dapat membawa dampak bagi masyarakat.
厂耻尘产别谤:听叠耻办耻听
Penulis: Ahza Riga Falimbani
Editor: Yulia Rohmawati





