Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, para ilmuwan terus berpacu menemukan obat yang benar-benar efektif untuk melawan virus SARS-CoV-2. Walaupun berbagai terapi telah digunakan untuk membantu pasien, hingga kini pilihan antivirus yang benar-benar spesifik dan optimal masih sangat terbatas. Kondisi ini mendorong peneliti untuk mengeksplorasi sumber-sumber alami yang berpotensi memiliki aktivitas antivirus. Salah satu bahan yang menarik perhatian adalah Sarang Burung Walet (Edible Bird檚 Nest/EBN), produk alami yang sudah lama dikenal dalam pengobatan tradisional Asia dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh, sarang burung walet juga diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi berperan dalam sistem imun dan perlindungan sel.
Dalam penelitian ini, sarang burung walet yang berasal dari Kalimantan Timur diproses menggunakan metode ekstraksi asam untuk menarik senyawa aktifnya secara optimal. Ekstrak yang dihasilkan kemudian dikeringkan dan dianalisis menggunakan teknologi metabolomik berbasis LC-HRMS, yaitu metode canggih yang mampu mengidentifikasi komponen kimia secara detail hingga tingkat molekuler. Dari analisis tersebut ditemukan beberapa senyawa penting, seperti N-acetylneuraminic acid, N-acetyl-D-glucosamine, ketodeoxynonulosonic acid, dan N-acetyl-9-O-acetylneuraminic acid. Senyawa-senyawa ini termasuk dalam kelompok gula kompleks dan turunan asam sialat yang diketahui berperan dalam interaksi biologis, termasuk kemungkinan menghambat perlekatan virus pada sel inang.
Setelah kandungan bioaktifnya teridentifikasi, peneliti menguji keamanan dan efektivitas ekstrak tersebut pada sel Vero-E6, yaitu sel yang umum digunakan dalam penelitian virus corona. Uji keamanan menunjukkan bahwa ekstrak masih relatif aman pada konsentrasi tertentu, sehingga tidak merusak sel secara signifikan. Selanjutnya dilakukan pengujian antivirus melalui tiga pendekatan: diberikan sebelum sel terpapar virus (pre-treatment), saat virus mulai menginfeksi (co-treatment), dan setelah infeksi terjadi (post-treatment). Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak sangat efektif menghambat virus pada tahap awal, terutama pada perlakuan sebelum dan saat paparan virus. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa dalam sarang burung walet kemungkinan bekerja dengan cara mengganggu proses awal infeksi, seperti mencegah virus menempel atau masuk ke dalam sel, sehingga menghambat siklus perbanyakan virus sejak dini.
Walaupun hasil penelitian ini menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan, penting untuk dipahami bahwa seluruh pengujian masih dilakukan pada tingkat laboratorium (in vitro), bukan langsung pada manusia. Artinya, efektivitas dan keamanannya dalam tubuh manusia masih harus dibuktikan melalui penelitian lanjutan, termasuk uji pada hewan dan uji klinis. Namun demikian, temuan ini memberikan harapan baru bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi sumber inovasi terapi berbasis bahan alami. Sarang burung walet dari Kalimantan Timur tidak hanya bernilai sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari pengembangan kandidat antivirus di masa depan, khususnya untuk menghambat tahap awal infeksi virus seperti SARS-CoV-2.
Oleh: Suryo Kuncorojakti, drh., M.Vet., Ph.D. (FKH Unair)
URL Jurnal:





