UNAIR NEWS Sebelum akuntansi modern berkembang, bangsa Mesir Kuno, Mesopotamia, Babylonia, Assyria, dan Sumeria pada 7.000 tahun yang lalu telah mengenal akuntansi. Dalam perjalanan sejarahnya, akuntansi terus mengalami perkembangan.
Menurut Prof. Dr. Basuki dalam pengukuhan guru besarnya pada Sabtu (29/7), menyatakan bahwa kini akuntansi mengalami beragam pemaknaan. Khususnya dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Yakni, akuntansi sebagai seni, sebagai ideologi, sebagai bahasa, sebagai catatan historis, sebagai sistem informasi, sebagai komoditas, dan sebagai teknologi.
漇ebagai seni, akuntansi dimaknai sebagai seni pencatatan aktivitas ekonomi. Sebagai bahasa, akuntansi mengomunikasikan informasi bisnis, ujarnya dalam pidato ilmiahnya di Aula Garuda Mukti, Lantai 5, Rektorat 51动漫.
Selanjutnya, kata Prof. Basuki, akuntansi menyediakan catatan historis dari pelayanan manager atas kekayaan pemilik dan pemegang saham. Sebagai sistem informasi, akuntansi merupakan proses yang menghubungkan sumber informasi atau transmiter (biasanya akuntan), saran komunikasi, dan sekelompok receivers (pengguna eksternal).
Akuntansi dipandang sebagai komoditas karena merupakan hasil aktivitas ekonomi. Dan, terakhir sebagai teknologi, akuntan mampu menyediakan dan menghasilkan informasi yang diminta pengguna.
Pemahaman Tradisional
Meski demikian, ungkap Prof. Basuki, terdapat kecenderungan pemaknaan akuntansi secara tradisional yang tetap melekat. Yang banyak orang ketahui, akuntansi bertujuan mencatat dan melaporkan transaksi keuangan berdasar pada aturan tertentu.
漀amun, ternyata tidak semua sepakat dengan pemahaman akuntansi yang demikian, ujarnya.
Prof. Basuki meminjam pernyataan Hopwood (2007:1367) sebagaimana dikutip (Gray, 2013: 259) There were them and there are now people who think that they know what accounting.. is. How wrong these people are. Hal itu, menurutnya, tidak salah.
Sebab, secara tradisional, akuntansi memang dipandang, terutama ditujukan untuk mendukung aktivitas perusahaan, mengidentifikasi dan mencatat, serta melaporkan transaksi eksternal. Kesejahteraan pemegang saham (sharholfer檚 wealth) yang sering diproxikan dengan harga saham menjadi kata kunci utama.
滵i sisi lain, akuntansi (keuangan, Red) kehilangan kepekaanya terhadap lingkungan, tuturnya.
Prof. Basuki menyatakan, kata profit menjadi ikon. Memperoleh profit (syukur-syukur yang sebesar-besarnya) menjadi tujuan. Kadang dengan embel-embel bagaimanapun caranya, at any cost.
滾alu bagaimana dengan hal-hal lain seperti masalah sosial dan lingkungan? Bagaimana pertangungjawaban sosial para pemilik? Apakah dibahas dalam akuntansi? sebutnya.
Isu Lingkungan
Misalnya, soal isu global warming. Isu tersebut akhir-akhir ini menjadi tema hangat yang sering dibicarakan. Terutama terkait dengan aktivitas perusahaan yang berlebihan. Sebab, tidak dimungkiri soal keterlibatan perusahaan terhadap perubahan lingkungan, yang kemudian berpengaruh pada iklim.
漈udingan ini terutama mengarah kepada perusahaan yang beroperasi tanpa mempedulikan dampak operasionalnya pada lingkungan hidup. Baik alam maupun sosial, imbuhnya.
Prof. Basuki mencontohkan kasus kecelakan kapal tengker Exxon Valdez pada 2000-an di Perairan Kanada. Juga, kecelakaan di perusahaan pertambangan di New Zealand pada 2010. Sebanyak 29 pekerja tambang meninggal.
滱tau kecelakaan tambang di Chile pada 2011 di mana 33 pekerja tambang terperangkap selama 69 hari di bawah tanah, katanya.
Di lingkup terdekat, di Indonesia, kasus Lumpur Lapindo menjadi cerita pahit keteledoran perusahaan dalam aktivitas pertambangannya. Atas aktivitas berlebihan dan ketidakpekaan perusahaan, aspek lingkungan menjadi korban. Pemicunya adalah aktivitas perusahaan, baik karena proses input maupun output.
Menurut Prof. Basuki, zaman telah berubah, bukan masanya lagi akuntansi hanya berkutat pada pelayanan pemilik modal. Pelibatan unsur lain diperlukan seperti value atau nilai-nilai yang lebih manusiawi, bukan hanya hal yang mekanistik.
Hal itu, tutur Prof. Basuki sangat penting. Pemisahan nilai agama, kemanusian, dari ilmu karena adanya perbedaan pendapat para ahli ratusan tahun yang lalu menciptakan manusia menjadi 漛inatang ekonomi. Mereka akan memangsa siapa saja yang pantas atau bahkan yang tidak pantas.
Berdasar fakta tersebut, menurut Prof Basuki sudah saatnya akuntansi lebih berperan untuk mengedukasi masyarakat umum dan pebisnis untuk lebih peka pada dampak kerusakan lingkungan. Terutama memikirkan keberlanjutan lingkungan dan masyarakat umum.
滱kuntansi perlu juga menghitung dampak pasca produksi bagi lingkungan dan masyarakat, ujarnya.
Beban lingkungan oleh produk perusahaan secara tidak langsung seharusnya juga menjadi perhatian. Hasil perhitungan akuntansi itu dapat dipakai pemerintah sebagai regulator untuk menghasilkan aturan hukum yang harus dapat 漨emaksa pebisnis, juga masyarakat, lebih peduli pada lingkungan fisik dan sosial.
Pada akhirnya, penanaman value atau nilai kepada mahasiswa menjadi kunci ke depan. Khususnya sebagai upaya menjadikan akuntansi sebagai sarana menyejahterkan masyarakat.
Menurut Prof. Basuki, ada empat hal yang perlu dilakukan akuntansi. Pertama, akuntansi yang hanya mementingkan pasar laba, tetapi melupakan dampak sosial dan lingkungan harus ditinggalkan. Kedua, pendidikan mulai PAUD, dasar, menengah, dan tinggi harus sudah mengenalkan tentang kesadaran lingkungan. Ketiga, pendidikan akuntansi harus menanamkan value kepada anak didik bahwa materi bukanlah segalanya. Dan keempat, akuntansi harus menjadi salah satu sarana untuk membuat manusia lebih sejahtera sampai ke anak cucu dan tidak merusak lingkungan. (*)
Penulis: Feri Fenoria Rifa檌





