Menurut undang-undang perbankan Indonesia, bank dikategorikan sebagai bank umum atau bank perkreditan rakyat. Di Indonesia, bank rakyat biasanya disebut sebagai bank perkreditan rakyat (Amanda, 2023). Bank Perkreditan Rakyat memainkan peran penting dalam ekosistem keuangan Indonesia dengan mempromosikan inklusi keuangan, terutama untuk individu, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, dan institusi lokal (Widiyanto et al., 2023). Pada tahun 2023, Indonesia memiliki lebih dari 1.500 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dengan cabang-cabang yang tersebar di hampir semua wilayah, memastikan akses keuangan bahkan di daerah terpencil. Bank-bank ini terutama bergantung pada simpanan nasabah sebagai sumber pendanaan utama mereka, yang secara signifikan memengaruhi manajemen likuiditas, alokasi kredit, dan stabilitas perbankan secara keseluruhan.
Untuk mempercepat inklusi keuangan melalui digitalisasi, PT Komunal telah mengintegrasikan akses pendanaan dan pinjaman di lebih dari 376 bank perkreditan rakyat (BPR), yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perusahaan ini telah berhasil memfasilitasi akses keuangan bagi 11.410+ UMKM pedesaan, dengan 98% di antaranya adalah usaha mikro dan 30% UMKM milik perempuan. Peningkatan keterlibatan keuangan ini menyoroti semakin pentingnya pemantauan dan pengungkapan tren keuangan, terutama dalam kegiatan simpanan, karena hal ini merupakan indikator utama ketahanan sektor perbankan.
Selain itu, suku bunga deposito secara langsung mempengaruhi arus kas bank, yang merupakan sumber pendanaan utama bank, peramalannya sangat penting untuk aktivitas lindung nilai dan membutuhkan pemodelan dan penetapan harga yang akurat. Transparansi mengenai suku bunga simpanan dan deposito juga dapat meningkatkan disiplin pasar karena deposan dapat menghukum bank yang mengambil risiko berlebihan dengan menarik deposito atau menuntut suku bunga yang lebih tinggi (Sharma, 2024). Oleh karena itu, pemahaman yang jelas mengenai pergerakan suku bunga deposito dan faktor-faktor penentu utamanya menjadi sangat penting untuk penentuan suku bunga deposito yang tepat. Literatur sebelumnya umumnya terdiri dari pemodelan suku bunga jangka pendek dan/atau profitabilitas (Kirik et al., 2023). Meskipun penting, set data terstruktur mengenai tren deposito di berbagai jenis deposan masih langka, sehingga membatasi penelitian empiris dan pengembangan kebijakan keuangan.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, studi ini menyajikan set data terstruktur dari simpanan bank perkreditan rakyat dari tahun 2021 hingga 2024, yang diperoleh dari laporan resmi perbankan. Dataset ini mencakup 608 pengamatan mingguan di empat kategori deposan: corporate, bank perkreditan rakyat (BPR), individu dengan kekayaan bersih tinggi (high-net-worth individuals/HNWI), dan retail. Analisis grafis dari tren pertumbuhan simpanan di berbagai segmen deposan telah menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok pada tingkat simpanan, seperti yang ditunjukkan pada Figur 3. Deposan HNWI dan BPR menunjukkan volume simpanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya, dengan keduanya menunjukkan fluktuasi yang substansial dari waktu ke waktu. Terlepas dari variasi ini, tren peningkatan secara keseluruhan terlihat jelas, dengan simpanan di segmen ini melampaui Rp 100 miliar. Khususnya, deposan BPR berkontribusi sekitar 44% dari total simpanan, menyoroti peran penting mereka dalam sektor perbankan. Namun demikian, volatilitas simpanan pada segmen HNWI lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok deposan BPR, yang tercermin dari koefisien variasi sebesar 0,867.

Sebaliknya, deposan ritel dan korporasi menunjukkan tingkat simpanan yang relatif lebih rendah dan lebih stabil, dengan fluktuasi yang minimal dari waktu ke waktu. Nilai simpanan mereka cenderung berada di sekitar rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan deposan HNWI dan BPR. Stabilitas ini menunjukkan bahwa meskipun kelompok deposan ini berkontribusi secara konsisten terhadap sistem keuangan, mereka tidak menunjukkan pola pertumbuhan dinamis seperti yang terlihat pada kategori HNWI dan BPR. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya strategi perbankan yang disesuaikan untuk mengelola fluktuasi simpanan bernilai tinggi dengan tetap menjaga stabilitas di segmen deposan lainnya.
Analisis tren simpanan di BPR dari tahun 2021 hingga 2024 menyoroti peran penting deposan BPR dan partisipasi aktif kelompok usia 26-45 tahun. Temuan dataset ini sangat penting untuk menginformasikan strategi penyaluran kredit, mengoptimalkan manajemen likuiditas, dan mengembangkan produk keuangan yang tepat sasaran. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai perilaku deposan juga memberikan wawasan yang berharga bagi komite dewan, investor, dan regulator untuk memperkuat kinerja bank dan meningkatkan nilai pemegang saham.
Penulis: Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





