Kebersihan gigi tiruan (denture) merupakan hal penting bagi kesehatan rongga mulut, terutama bagi pengguna jangka panjang. Selama ini, berbagai produk pembersih gigi tiruan berbahan kimia sintetis telah banyak digunakan, namun sebagian di antaranya dapat menyebabkan iritasi atau memengaruhi warna serta kekuatan bahan gigi tiruan. Karena itu, para peneliti kini mulai melirik potensi bahan-bahan alami sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu tanaman yang menarik perhatian adalah Graptophyllum pictum, atau lebih dikenal dengan daun ungu.
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemampuan antijamur dan potensi toksisitas ekstrak daun ungu (Graptophyllum pictum leaves extract, GPLE) sebagai kandidat bahan pembersih gigi tiruan berbasis herbal. Serangkaian uji ilmiah dilakukan, mulai dari uji in silico, uji fitokimia, uji aktivitas antijamur, hingga Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) untuk melihat kemungkinan efek toksik.
Dalam tahap uji in silico, peneliti memeriksa interaksi antara senyawa aktif dalam ekstrak daun ungu dengan protein jamur Candida albicans, yaitu organisme penyebab infeksi jamur pada rongga mulut. Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa dalam ekstrak tersebut memiliki daya ikat kuat terhadap protein DHFR, hsp90, dan NMT, yang berperan penting dalam kelangsungan hidup jamur tersebut. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa ekstrak daun ungu memiliki potensi kuat sebagai antijamur alami. Analisis fitokimia selanjutnya mengungkap bahwa daun ungu mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, terpenoid, dan steroid ” semuanya dikenal memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan. Kombinasi senyawa tersebut diyakini berperan dalam menghambat pertumbuhan jamur, khususnya Candida albicans yang sering ditemukan pada permukaan gigi tiruan.
Uji aktivitas antijamur menunjukkan bahwa ekstrak daun ungu mulai bersifat fungisidal (membunuh jamur) pada konsentrasi ≥50%, dengan efektivitas yang meningkat seiring dengan peningkatan kadar ekstrak. Hal ini membuktikan potensi daun ungu sebagai bahan aktif alami dalam pembersih gigi tiruan. Keamanan bahan herbal menjadi hal penting sebelum digunakan secara luas. Untuk itu, dilakukan uji toksisitas sederhana menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak daun ungu memiliki nilai LC50 sebesar 4780,735 μg/mL, yang berarti tidak menunjukkan potensi toksik akut. Dengan demikian, bahan ini aman untuk digunakan dalam formulasi produk kebersihan mulut.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun Graptophyllum pictum memiliki aktivitas antijamur yang kuat dan aman bagi kesehatan, menjadikannya kandidat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai pembersih gigi tiruan berbasis biomaterial herbal. Penggunaan bahan alami seperti daun ungu tidak hanya memberikan solusi efektif terhadap masalah kebersihan gigi tiruan, tetapi juga mendukung tren global menuju produk kesehatan yang berkelanjutan, aman, dan ramah lingkungan.
Penulis: Ratri Maya Sitalaksmi, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.Pros(K)
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





