51动漫

51动漫 Official Website

Daya Tahan Kateter Cuci Darah Temporer Berdasarkan Lokasinya pada Pasien Cuci Darah di RSUD Soetomo Surabaya

Foto by Halodoc

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dan Cedera Ginjal Akut (CGA) merupakan masalah kesehatan nasional di Indonesia yang semakin meningkat prevalensinya. Cuci darah atau yang biasa disebut dengan hemodialisis merupakan salah satu bentuk perawatan yang diperlukan baik sebagai dukungan terhadap fungsi ginjal maupun terapi pengganti ginjal. Akses pembuluh darah pada hemodialisis yang memadai, terdiri dari akses pembuluh darah sementara dan akses pembuluh darah permanen, merupakan salah satu prasyarat penting dalam perawatan pasien hemodialisis. Salah satu jenis akses pembuluh darah untuk hemodialisis adalah kateter hemodialisis sementara (NTHC) yang dapat digunakan pada kasus CGA dan PGK.

Namun, penggunaan NTHC di Indonesia dan beberapa negara lain sering melebihi durasi yang direkomendasikan. Menurut pedoman KDOQI 2019, penggunaan NTHC sebaiknya tidak melebihi dua minggu pada leher atau bahu depan, dan tidak melebihi lima hari pada paha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan durabilitas NTHC pada tiga lokasi yang berbeda (leher, bahu, dan paha) serta faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan NTHC.

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik kohort prospektif dengan metode pengambilan sampel secara berturut-turut. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Data sensoring diterapkan untuk pengangkatan elektif NTHC. Dari 74 subjek penelitian, durabilitas NTHC pada leher, bahu, dan paha adalah masing-masing 36,29 hari, 46,91 hari, dan 33,00 hari. Analisis multivariat menunjukkan bahwa risiko kejadian empat kali lebih tinggi pada lokasi paha.

Pada penelitian ini, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam daya tahan NTHC pada tiga lokasi pemasangan. Namun, daya tahan kateter terpanjang terjadi pada bahu dengan risiko tertinggi terjadi pada paha. Faktor-faktor seperti usia, komorbiditas diabetes melitus, tingkat pendidikan, lokasi pemasangan, dan jumlah hemoglobin juga dapat mempengaruhi daya tahan kateter hemodialisis.

Penggunaan NTHC melebihi durasi yang direkomendasikan masih sering terjadi di Indonesia. Daya tahan NTHC tergantung pada lokasi pemasangan, dengan bahu memiliki durabilitas terpanjang dan paha memiliki risiko tertinggi. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan NTHC dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih baik dalam menentukan waktu yang tepat untuk menyiapkan akses pembuluh darah hemodialisis permanen. Dalam hal ini, penting bagi pembuat kebijakan di rumah sakit dan pihak terkait untuk mematuhi pedoman yang dikeluarkan oleh KDOQI guna meningkatkan kualitas perawatan hemodialisis.

Temuan penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan lokasi pemasangan NTHC dalam memaksimalkan daya tahannya. Bahu tampaknya menjadi pilihan yang lebih baik daripada paha dalam hal daya tahan NTHC. Faktor-faktor seperti usia, komorbiditas diabetes melitus, tingkat pendidikan, dan jumlah hemoglobin juga dapat mempengaruhi daya tahan kateter hemodialisis. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang faktor-faktor ini dan bagaimana mereka saling berinteraksi dalam memengaruhi daya tahan NTHC.

Dalam penggunaan jangka panjang, beberapa upaya harus dilakukan untuk meminimalkan penggunaan NTHC yang berkepanjangan dan meningkatkan penggunaan akses pembuluh darah permanen pada pasien hemodialisis. Penelitian dan pengembangan lebih lanjut di bidang ini dapat mengarah pada inovasi teknologi dan pendekatan perawatan yang lebih baik untuk meningkatkan daya tahan akses vaskular dan mengurangi komplikasi yang terkait dengan penggunaan NTHC.

Kesimpulannya, penelitian ini memberikan wawasan tentang daya tahan NTHC pada tiga lokasi berbeda dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam upaya untuk meningkatkan perawatan pasien hemodialisis, penting bagi pihak terkait untuk memperhatikan pedoman penggunaan NTHC yang direkomendasikan dan mempertimbangkan lokasi pemasangan yang paling optimal. Dengan demikian, diharapkan pasien hemodialisis bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik dan komplikasi terkait dengan akses pembuluh darah dapat dikurangi. Pentingnya penelitian ini juga tidak hanya dalam meningkatkan pemahaman tentang daya tahan NTHC pada tiga lokasi yang berbeda, tetapi juga dalam memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan perawatan hemodialisis yang lebih baik. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih luas dan pengamatan jangka panjang untuk memvalidasi temuan ini serta menyelidiki lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi durabilitas NTHC.

Penulis: Heroe Soebroto, dr.Sp.B-BTKV(K)

Jurnal:

AKSES CEPAT