51动漫

51动漫 Official Website

Delegasi Mahasiswa FKG Gali Ilmu dan Berbagi Kebaikan melalui Pengabdian di USM

Kegiatan Community Based Program Fakultas Kedokteran Gigi di Pusat Pengajian Sains Pergigian (PPSG) Universiti Sains Malaysia (Foto: Dok.Pribadi)
Kegiatan Community Based Program Fakultas Kedokteran Gigi di Pusat Pengajian Sains Pergigian (PPSG) Universiti Sains Malaysia (Foto: Dok.Pribadi)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Kedokteran Gigi 51动漫 (UNAIR) menunjukkan kiprah pengabdian di kancah Internasional. Mereka melakukan kegiatan community-based program di Pusat Pengajian Sains Pergigian (PPSG) Universiti Sains Malaysia (USM). Kegiatan ini dilaksanakan pada (12/7/2025) sampai (21/7/2025). Kegiatan community-based program ke PPSG USM ini merupakan yang pertama kalinya bagi FKG UNAIR. Delegasi pengabdian terdiri dari 10 mahasiswa FKG dengan dosen pembimbing Nadia Kartikasari, drg MKes PhD.

Community-based program bertujuan untuk melayani masyarakat dengan pemberian Dental Health Education (DHE), serta menumbuhkan rasa empati kepada masyarakat, khususnya kepada disabilitas.  Mempelajari sistem pembelajaran dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari negara lain melalui clinical attachment dan berbagai kelas seperti clinical skills lab dan plastinomy. Mereka juga memperluas sudut pandang terhadap masyarakat melalui cultural exposure mempelajari budaya Malaysia. Kegiatan community-based program ini berada di bawah supervisi Dr Nurhafizah Ghani sebagai host supervisor.

Edukasi pertama yang dilakukan yaitu cara merawat kesehatan gigi dan mulut kepada anak spesial di Pusat Transformasi Orang Kurang Untung (OKU) USM. Diikuti oleh peserta disabilitas mental yang tergabung dalam Pusat Transformasi OKU USM. Orang dengan disabilitas mental seringkali tidak mendapatkan edukasi kesehatan gigi dan mulut dengan baik karena keterbatasan penerimaan informasi yang mereka miliki. 

Kegiatan Community Based Program Fakultas Kedokteran Gigi di Pusat Pengajian Sains Pergigian (PPSG) Universiti Sains Malaysia (Foto: Dok.Pribadi)

淥rang tersebut membutuhkan pendekatan spesial dalam memberikan edukasi. Sehingga hal ini menjadi tantangan terbesar untuk mengedukasikan mereka. Padahal, orang tersebut juga perlu mengetahui cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka dengan baik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup, jelas Farel, salah satu peserta community-based program.

Mereka melakukan pendekatan edukasi kepada orang dengan disabilitas mental dengan cara khusus supaya dapat menarik atensi. Pemberian materi disampaikan melalui power point dan flipchart desain dan ice breaking berupa mini games dan menyanyikan lagu 淟ihat Gigiku untuk mencairkan suasana sehingga peserta tidak jenuh. 

Selanjutnya mereka melakukan pengamatan kasus dan tindakan klinis kedokteran gigi di Klinik Pakar Pembedahan Oral dan Maxillofacial, Hospital USM dengan Dr. Faizal (ketua Dept. Bedah Mulut dan Maksilofasial PPSG USM) dan dokter spesialis bedah mulut di klinik.

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui kasus klinis yang sesungguhnya dalam bidang oral dan maxillofacial. Mereka mengamati tindakan kasus odontektomi dan kasus integrasi antara bedah mulut ortodonsia dan kedokteran gigi anak. Dokter spesialis juga menjelaskan tentang kasus gigi molar ketiga M3 impaksi beserta prosedur pre-operasi yang harus dilakukan. Mereka juga mengamati live surgery odontektomi yang dilaksanakan oleh dokter spesialis bedah mulut di klinik, mulai dari prosedur persiapan alat, asepsis, anestesi, open access gigi impaksi, ekstraksi gigi, suturing, pemberian komunikasi, informasi, edukasi (KIE) dan peresepan obat. 

Mahasiswa FKG UNAIR memiliki kesempatan untuk mempelajari budaya Malaysia melalui cultural exposure di Kampung Kraftangan dan Pasar Siti Khadijah, Kelantan. Di Kampung Kraftangan, mahasiswa belajar membatik langsung dari pengrajin setempat. Mereka bahkan berkompetisi membuat karya batik dengan motif bunga khas Malaysia. Selain itu, mahasiswa juga berbelanja kerajinan tangan khas Kelantan.

Usai membatik, rombongan melanjutkan kunjungan ke Pasar Siti Khadijah, ikon Kota Bharu yang ramai oleh aktivitas jual beli tradisional. Mahasiswa mengamati interaksi sosial masyarakat sekaligus mencicipi kuliner lokal, termasuk makanan khas Thailand yang banyak dijajakan di pasar tersebut. Uniknya, karena berbatasan langsung dengan Thailand, banyak pengaruh budaya Thailand yang masuk ke Kelantan, termasuk kulinernya.

Salah satu peserta community based program, Aliya, menuturkan program ini memberikan pengalaman yang sangat lengkap. 淜ami tidak hanya belajar di ranah akademik melalui clinical attachment, tetapi juga bisa langsung mengabdi lewat DHE kepada disabilitas, sekaligus mengenal budaya lokal Kelantan. Semua itu membuat kami semakin peka, terbuka, dan siap menjadi dokter gigi yang bermanfaat bagi masyarakat, ujarnya.

Penulis: Arifatun Nazilah

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT