Penyakit demam babi Afrika atau African swine fever (ASF) kembali menjadi sorotan publik dan peternak babi di Asia Tenggara setelah penelitian komprehensif menyimpulkan bahwa virus ini masih menjadi ancaman besar bagi industri peternakan di kawasan tersebut. Penelitian yang mengumpulkan data epidemiologis selama lima tahun terakhir menunjukkan gambaran penuh tentang bagaimana ASF menyebar, sebarannya antar negara, serta tren yang berkembang sejak pertama kali terdeteksi di Asia Tenggara.
ASF dikenal sebagai penyakit viral yang sangat menular dan mematikan pada babi domestik dan babi hutan, menyebabkan kematian massal hewan yang terinfeksi. Virus ini tidak berbahaya bagi manusia, tetapi dampaknya terhadap industri peternakan sangat serius karena belum ada vaksin yang benar-benar efektif dan pengendalian tergantung pada langkah biosekuriti ketat dan pengawasan yang berkelanjutan.
Penelitian ini, yang dilakukan dengan cara review sistematis dan meta-analisis, menggabungkan temuan dari berbagai studi ilmiah yang dipublikasikan antara tahun 2019 hingga 2023. Metode ini memadukan data prevalensi dari berbagai negara di Asia Tenggara untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang situasi ASF di wilayah ini. Hasilnya menunjukkan bahwa wabah ASF tetap luas dan heterogen, dengan estimasi prevalensi rata-rata mencapai hampir 30 persen dari populasi babi domestik yang diperiksa. Ini menandakan bahwa hampir satu dari tiga kasus yang dilaporkan menunjukkan adanya infeksi ASF pada babi.
Sebaran geografis yang bervariasi menjadi salah satu sorotan penting penelitian. Beberapa negara seperti Vietnam dan Laos menunjukkan angka prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Sedangkan negara lain seperti Indonesia dan Malaysia memperlihatkan pola penyebaran yang lebih terfragmentasi dan tidak seragam. Faktor ini mengindikasikan perbedaan cara pengelolaan peternakan, sistem pelaporan yang tidak konsisten, serta variasi dalam kemampuan diagnostik di setiap negara.
Salah satu temuan penting adalah tren penurunan prevalensi ASF dari waktu ke waktu. Meskipun angka prevalensi tetap tinggi secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa tingkat infeksi menurun secara bertahap selama lima tahun terakhir. Ini dianggap sebagai cerminan dari upaya negara-negara di kawasan yang memperbaiki strategi deteksi, memperkuat biosekuriti, dan meningkatkan koordinasi lintas batas negara. Namun, penurunan ini tidak merata dan tidak menunjukkan bahwa wabah ASF telah sepenuhnya terkendali.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti berbagai tantangan struktural dan teknis yang masih dihadapi. Kualitas data yang tersedia dari beberapa negara dinilai belum optimal, karena banyak studi yang menggunakan metode dan sampel yang berbeda, sehingga menyulitkan perbandingan langsung antara satu negara dengan negara lain. Selain itu, keterbatasan dalam kapasitas diagnostik di sejumlah daerah memperlambat deteksi dini dan respons cepat terhadap penyebaran virus.
Para peneliti menekankan pentingnya kolaborasi regional untuk mengatasi tantangan ini. Mereka mendorong peningkatan standar pengawasan epidemiologi, harmonisasi metode diagnostik, serta investasi dalam teknologi biosekuriti yang lebih baik. Koordinasi semacam ini dinilai penting karena virus ASF tidak mengenal batas negara, dan mobilitas ternak serta produk ternak antar negara dapat menjadi jalur utama penyebaran penyakit.
Penelitian ini juga menghasilkan peta prevalensi yang memperlihatkan titik-titik konsentrasi kasus ASF di berbagai wilayah Asia Tenggara. Melalui visualisasi ini, pembuat kebijakan dan lembaga veteriner dapat mengidentifikasi area yang memerlukan intervensi lebih cepat dan efektif. Hal ini penting mengingat konstelasi peternakan di Asia Tenggara sangat beragam, dari usaha ternak kecil tradisional hingga peternakan komersial berskala besar.
Implikasi bagi masyarakat luas tidak hanya terbatas pada peternak saja. Mengingat babi merupakan sumber protein penting dan mata pencaharian bagi jutaan keluarga di kawasan ini, dampak ekonomi dan sosial dari wabah ASF bisa sangat luas. Kematian hewan dalam jumlah besar tidak hanya mengancam kesejahteraan peternak tetapi juga stabilitas harga daging di pasar lokal dan nasional.
Laporan ini mendorong kesadaran akan kebutuhan strategi yang lebih komprehensif dalam menghadapi ASF. Integrasi antara penelitian ilmiah dan kebijakan publik diharapkan dapat menghasilkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap dinamika wabah di masa depan. Ke depan, fokus tidak hanya pada pemantauan dan kontrol, tetapi juga pada pengembangan teknologi diagnostik, pendidikan peternak, dan sistem pelaporan yang lebih responsif.
Sumber: Firdausy, L. W., Fikri, F., Maslamama, S. T., & Purnama, M. T. E. (2026). Five-year evidence synthesis of African swine fever in domestic pigs in Southeast Asia: A systematic review and meta-analysis. Research in Veterinary Science, 106088.
Link:





