51动漫

51动漫 Official Website

Deteksi Covid-19 Melalui Keringat Ketiak

Foto by: Alodokter

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada 12 Maret 2020. Sejak dinyatakan sebagai pandemi, COVID-19 telah menyebabkan kehilangan banyak korban jiwa, gangguan sosial dan kemacetan perekonomian. Sampai saat ini, masa depan dari pandemi COVID-19 masih belum jelas. Diagnosis dan skrining COVID-19 sangat penting dalam mengendalikan pandemi ini.1,2 Saat ini, reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) digunakan untuk diagnosis COVID-19. Namun pemeriksaan ini berisiko tinggi karena kontak langsung dengan mulut pasien dan juga membutuhkan waktu yang lama dan biayanya mahal. Sehingga dibutuhkan suatu sistem deteksi yang cepat dengan risiko penularan rendah, dan biaya yang lebih murah. Saat ini, berbagai belahan dunia mulai membuka ekonomi sambil menoleransi risiko penyebaran COVID-19. Sehingga perlu mencari biomarker spesifik untuk COVID-19 yang dapat digunakan secara non-invasif untuk mendeteksi pasien COVID-19 dengan cepat bahkan sebelum bergejala, mengurangi penularan dan kematian.2,3

Grandjean dan tim telah melakukan penelitian terhadap anjing pelacak di 2 tempat (Paris, Prancis dan Beirut, Lebanon) untuk mendeteksi COVID-19 dari bau keringat. Asumsi ini diperkuat oleh hasil penelitian sebelumnya tentang identifikasi penciuman anjing pada individu positif COVID-19. Kemampuan anjing dalam mencium aroma unik dari keringat pasien COVID-19 berkaitan dengan kemampunnya dalam mendeteksi senyawa volatile organic compound (VOC) yang dilepaskan. Ketika diperkenalkan dengan sampel keringat, kebanyakan anjing dapat mendeteksi kasus positif dan negatif dari sampel dengan tingkat akurasi dari 76% sampai 100%.4 Ratusan volatile organic compound (VOC) dihasilkan dari tubuh manusia, dimana komponen VOC menggambarkan kondisi metabolik dari setiap individu. Oleh karena itu, terjangkit penyakit menular atau penyakit metabolik seringkali menyebabkan perubahan bau badan.5

Penelitian ini diperlukan untuk membandingkan keringat pada pasien COVID-19 dan bukan COVID-19 dengan alat e-Nose buatan ITS Surabaya (Institut Tehnologi Sepuluh November Surabaya). Alat yang serupa telah dimanfaatkan secara luas yaitu GeNose yang mendeteksi COVID-19 lewat hembusan udara yang ditiupkan ke dalam kantong khusus dan akan dideteksi dengan GeNose.

Pengambilan sampel keringat diambil pada daerah ketiak secara non invasif pada pasien COVID-19 dan subjek yang bukan COVID-19 dengan cara meletakkan slang karet kecil yang ujungnya terdapat kassa sebagai bagian dari alat i-Nose ( seperti tindakan meletakkan thermometer di bagian aksila pasien). Selanjutnya alat i-Nose akan menganalisis hasil pemeriksaan keringat tersebut. Hasil deteksi oleh alat I-Nose ini akan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan PCR COVID.

Penulis: Arief Bakhtiar, Indra P, Riyanarto, Kelly

Link Jurnal:

AKSES CEPAT