Akrilamida adalah zat yang mudah menguap, senyawa organik dengan berat molekul rendah yang terkenaluntuk kegunaannya yang luas, khususnya dalam pengolahan makanan, kertas, dan industri tekstil. Selain itu, ia memiliki peran penting dalam mineral ekstraksi dan pengolahan air limbah. Meskipun senyawa ini tidak hadir secara alami, akrilamida dapat dibentuk sebagai produk sampingan ketika makanan kaya karbohidrat atau asam amino non-esensial diproses (dipanggang atau digoreng) pada suhu tinggi.
Karena berat molekulnya yang rendah, mudah larut dalam air, dan karakteristik sistem elektrofilik jenuhnya, kaleng akrilamida dengan mudah melewati berbagai membran biologis dan mungkin mengikat secara efisien dengan biomolekul lain seperti DNA dan hemoglobin melalui ikatan kovalen. Dengan demikian, akrilamida diklasifikasikan sebagai senyawa karsinogenik dan neurotoksik berpotensi menjadi hepatotoksik.
Untuk itu senyawa akrilamida ini sangat berbahaya dan perlu adanya suatu alat/device yang dapat mendeteksi dini keberadaan akrilamida pada produk olahan makanan sebelum dikonsumsi oleh manusia. Bekerjasama dengan peneliti dari Universitas Indonesia dan juga dari Keio University, Jepang, Sensor akrilamida dikembangkan. Biosensor akrilamida dikembangkan dengan memanfaatkan basa purin, yaitu guanin dan adenin, melalui komputasi dan pendekatan elektrokimia.
Penulis: Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Eng., Ph.D. Lebih lengkap dapat dibaca melalui link berikut ini : .





