51动漫

51动漫 Official Website

Deteksi Dini untuk Mencegah Ulserasi Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2

Foto by Alodokter

Salah satu komplikasi serius yang dapat terjadi pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah neuropati perifer diabetik atau sering dikenal dengan ulkus kaki diabetikum (DFU). Frekuensi kejadian DFU pada penderita DM tipe 2 cukup tinggi terutama pada penderita DM tipe 2 selama lebih dari 10 tahun, dan 60% mengalami kecacatan bahkan sampai pada titik amputasi kaki. Komplikasi DFU dapat mengakibatkan peningkatan biaya pengobatan, peningkatan angka kecacatan, penurunan kualitas hidup, dan juga peningkatan risiko kematian. Pencegahan DFU dapat dilakukan melalui 5 elemen utama, yaitu 1) identifikasi kaki berisiko, 2) pemeriksaan rutin, 3) edukasi pasien, keluarga dan tenaga kesehatan, 4) memastikan penggunaan alas kaki yang tepat dan 5) mengobati faktor risiko. Risiko DFU dapat dicegah jika terdeteksi sejak dini, namun seringkali tidak mendapat perhatian yang cukup dari pemberi perawatan.

Pengkajian faktor risiko DFU perlu dilakukan sebagai pencegahan dini komplikasi. Beberapa permasalahan yang terjadi adalah deteksi dini risiko DFU hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, sedangkan pasien dan keluarga belum memiliki kemampuan untuk menilai secara mandiri faktor risiko tersebut. Hal ini dikarenakan media atau instrumen yang digunakan untuk deteksi dini deteksi hanya terbatas untuk digunakan oleh tenaga medis. Selain itu, pengobatan selama ini lebih difokuskan pada sistem tubuh lain yang dianggap lebih penting, seperti jantung, ginjal, otak, dan mata. Hal ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa komplikasi DFU terjadi karena keterlambatan deteksi dini dan manajemen kasus yang buruk

DFU dapat dihindari atau ditunda jika diobati secara memadai pada tahap awal. Penilaian faktor risiko DFU dilakukan oleh tenaga kesehatan khususnya dokter melalui analisis sirkulasi darah, plantar foot pressure, dan neuropati kaki. Selain itu, spesialis biasanya menilai status vaskular ekstremitas bawah menggunakan USG Doppler. Ini dianggap menghasilkan analisis yang akurat tentang kondisi dan faktor risiko DFU. Namun pasien terpaksa harus sering ke dokter untuk pemeriksaan kaki diabetik yang dianggap mengganggu aktivitas dan biaya yang mahal. Selain itu, pasien tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan mandiri karena rendahnya pengetahuan pasien tentang penyakitnya, dan belum adanya peralatan medis, oleh karena itu saat ini berkembangnya alat deteksi dini DFU berbasis teknologi yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. mulai dikembangkan. Health Belief Model (HBM) merupakan teori yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku kesehatan. Berkaitan dengan perilaku deteksi dini kaki diabetik pada pasien DM tipe 2, seseorang akan melakukan tindakan kesehatan seperti deteksi dini jika memiliki keyakinan akan kerentanan, keseriusan suatu penyakit, manfaat, hambatan dalam melakukan tindakan dan memperhitungkan diri sendiri. efikasi atau kepercayaan diri dalam melakukan suatu tindakan ditambah adanya isyarat untuk bertindak (cues to action) baik dari dalam maupun dari luar individu.

Saat ini kemajuan teknologi telah berkembang pesat, disertai dengan meningkatnya penggunaan internet dan smartphone sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penggunaan smartphone saat ini terutama berbasis Android yang juga digunakan sebagai sarana untuk mengakses informasi kesehatan dalam bentuk telemedicine atau telenursing. Pemanfaatan teknologi di bidang kesehatan juga berperan dalam beberapa intervensi untuk deteksi dini DFU pada pasien diabetes. Kombinasi teknologi berupa kamera dan komputer untuk mendeteksi adanya gangguan neuropatik pada pasien DM telah banyak dikembangkan. Selain itu intervensi langsung menggunakan alat konvensional berupa alas kaki yang dilengkapi dengan sensor, dan pin-prick test juga digunakan untuk melakukan deteksi dini DFU. Beberapa penelitian yang ada hanya membahas satu model deteksi dini DFU pada pasien DM, Namun, penelitian yang menggambarkan berbagai intervensi yang dapat dilakukan untuk deteksi dini pada pasien DM belum ditemukan. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai intervensi deteksi dini berbasis digital dan konvensional beserta kelebihan dan kekurangannya yang dapat digunakan untuk menilai faktor risiko DFU pada pasien DM.

Berdasarkan tinjauan sistematis yang telah dilakukan, diketahui bahwa ada 3 jenis utama intervensi deteksi dini yang digunakan untuk menilai risiko DFU pada pasien DM. Ketiga intervensi tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan dalam beberapa aspek. Penggunaan jenis intervensi yang dipilih harus disesuaikan dengan beberapa hal, yaitu: 1) kondisi pasien yang akan diperiksa, baik fisik maupun psikis, 2) ketersediaan sumber daya yang memadai, seperti tenaga kesehatan, biaya, waktu, dan alat yang tersedia, 3) tingkat keefektifan dan keparahan gejala yang dirasakan pasien yang diinginkan. Hal ini akan membantu untuk meningkatkan kenyamanan pasien selama pemeriksaan. Selain itu, pengembangan lebih lanjut untuk memperbaiki beberapa kekurangan dari instrumen yang ada juga perlu dilakukan.

Penulis:

I Dewa Ayu Rismayanti, Nursalam, Virgianti Nur Farida, Ni Wayan Suniya Dewi, Resti Utami, Arifal Aris, Ni Luh Putu Inca Buntari Agustini

Link Jurnal:

Link Scimago:

AKSES CEPAT