51动漫

51动漫 Official Website

Deteksi Gen pada Escherichia coli Penghasil Extended Spectrum 尾-laktamase yang Diisolasi dari Usus Halus Itik

Permintaan pangan yang berasal dari hewan semakin meningkat setiap tahunnya karena pertumbuhan populasi manusia. Unggas memberikan kontribusi terbesar bagi negara pasokan daging. Dibandingkan dengan hewan lain, bebek biasanya memiliki tingkat ketahanan terhadap penyakit yang lebih tinggi, sehingga mampu mempertahankannya sederhana dan bebas risiko. Karena bebek dapat berproduksi juga, itik sedang dikembangkan untuk produksi yang tinggi dan cepat guna memenuhi permintaan konsumen.

Bakteri Escherichia coli telah dikaitkan dengan penyakit yang dibawa oleh infeksi bakteri pada bebek. Bakteri ini selalu ada di saluran pencernaan hewan, karena secara alami E. coli merupakan salah satu penghuni saluran pencernaan. Lingkungan sekitar dan tanah dapat memudahkan keberadaan E. coli. Semua jenis unggas, termasuk kalkun dan bebek, rentan terhadap penyakit dan rentan terhadap infeksi E. coli. Kotoran bebek mengandung persentase E. coli tertinggi, yaitu 87,93%, disusul oleh usus sebesar 81,25%.

Kemampuan mikroorganisme untuk menggagalkan efek antimikroba seperti antibiotik, antivirus, dan antimalaria dikenal sebagai resistensi antimikroba.. Resistensi antimikroba bisa berkembang karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat, pengobatan tidak efektif. Selain itu, resistensi antimikroba dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan kerugian finansial. Resistensi antibiotik sebagian besar disebabkan oleh enzim beta-laktamase, khususnya pada bakteri E. coli. Selain E. coli, Salmonella dan Klebsiella pneumoniae juga dapat memproduksi enzim extended spectrum beta-laktamase (ESBL).

Kotoran hewan yang mengandung bakteri yang dapat menyebar ke peternakan terdekat, rumah potong hewan, air yang terkontaminasi, dan bahkan melalui udara dari mengangkut hewan. Flora usus juga bisa berperan sebagai reservoir dengan mentransfer gen resistensi ke bakteri lainnya.

Resistensi terhadap sefalosporin generasi ketiga umumnya dapat terjadi pada bakteri Gram-negatif dengan memproduksi Extended Spectrum Enzim 尾-laktamase (ESBL). Selain itu,  bakteri penghasil ESBL juga terdapat pada hewan dan lingkungan. Gen TEM dan gen CTX-M adalah dua gen pengkode ESBL utama. Kedua gen tersebut bersama-sama bertugas memproduksi ESBL, yang mampu memecah antibiotik 尾-laktam. Mayoritas bakteri penghasil ESBL menunjukkan fenotipik yaitu resisten terhadap berbagai antibiotik. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam praktik manajemen pengendalian infeksi ternak.

Penggunaan antibiotik sebagai salah satu bentuk pengobatan pada ternak masih diperbolehkan, namun harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat karena banyaknya risiko yang terkait dengan residu antibiotik di dalamnya produk pangan yang berasal dari hewan. Yang paling sering ditemukan residu antibiotik pada produk pangan asal unggas adalah yang berasal dari tetrasiklin, oksitetrasiklin, sulfametazin, ciprofloxacin, dan amoksisilin.

Residu antibiotik dalam jumlah berlebihan dapat mempengaruhi mikroflora di usus, yang mengarah pada perkembangan resistensi antibiotik serta reaksi hipersensitivitas. Residu antimikroba ditemukan dalam makanan hewan dan limbah serta akan mencemari tanah, air, dan lingkungan serta membantu terbentuknya strain resistensi baru muncul dan menyebar ke lingkungan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang berfokus pada keberadaan gen penghasil ESBL di E. coli diisolasi dari usus halus bebek secara tradisional pasar di Surabaya, karena masih sedikit informasi mengenai dari kasus E. coli penghasil ESBL pada itik di Indonesia.

Pada penelitian ini isolat E. coli yang berasal dari pasar Pucang dan Pahing mengandung 20% (2/10) isolat E. coli penghasil ESBL. Produksi ESBL dalam pemeriksaan fenotipik mungkin diproduksi oleh gen beta-laktamase lain. Hasil negatif mungkin disebabkan oleh fakta bahwa isolat E. coli tidak menghasilkan enzim ESBL. Genotipe adalah tes berbeda yang dapat dilakukan. Teknik PCR digunakan dalam pemeriksaan ini untuk menentukan tipe ESBL isolat tersebut. Dengan menggunakan amplifikasi DNA, metode ini bisa temukan gen pengkode ESBL.

Penelitian ini mengarah pada identifikasi gen TEM dan gen CTX-M yang berasal dari usus halus bebek dan. Menurut sebuah penelitian, sebaran epidemiologi gen CTX-M sebanding antara hewan dan manusia di Cina. Gen ESBL sering ditemukan plasmid yang mudah ditularkan di dalam atau di antara yang berbeda spesies bakteri, dan temuan penting mengenai penularan gen dari manusia ke hewan atau sebaliknya telah dibuat dari waktu ke waktu. Bahkan ada klaim kesamaan genetik dan identifikasi plasmid pada manusia dan hewan. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa plasmid menyebar secara horizontal antar spesies, menyebabkan manusia yang bersentuhan dengan hewan memiliki strain yang sama atau strain yang memiliki plasmid yang sama.

Di usus halus bebek di beberapa pasar tradisional di Surabaya, 100 sampel feses mencakup dua isolat E. coli bakteri penghasil ESBL dan satu isolat mengandung gen TEM dan gen CTX-M. Diperlukan peningkatan kesadaran dari peternak unggas dan kepedulian masyarakat terhadap keamanan pangan yang berasal dari hewan, begitu pula penggunaan antibiotik pada unggas harus di bawah pengawasan dokter hewan.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Sasqia K.A. Prayudi, Mustofa H. Effendi, Bambang S. Lukiswanto, Reichan L. Az Zahra, Moses I. Benjamin, Shendy C. Kurniawan, Aswin R. Khairullah, Otto S.M. Silaen, Ertika F. Lisnanti, Zein A. Baihaqi, Agus Widodo, Katty H.P. Riwu. 2023. Detection of Genes on Escherichia coli Producing Extended Spectrum 尾-lactamase Isolated from the Small Intestine of Ducks in Traditional Markets Surabaya City, Indonesia. Journal of Advanced Veterinary Research (2023) Volume 13, Issue 8, 1600-1608

AKSES CEPAT