Keamanan pangan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang utama, karena mikroba berbahaya dalam makanan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Telur merupakan salah satu komponen pangan yang sering terkontaminasi, meskipun telur merupakan sumber nutrisi penting yang menyediakan protein berkualitas tinggi, asam amino esensial, vitamin, dan mineral, dan dapat diperoleh di pasar tradisional dan supermarket. Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu bakteri yang dapat menginfeksi telur. Kontaminasi telur ayam oleh K. pneumoniae di pasar tradisional dapat disebabkan oleh penularan vertikal maupun horizontal. Penelitian tambahan telah menunjukkan bahwa lingkungan pertanian, usapan pekerja peternakan, dan sampel usapan telur terkontaminasi bakteri K. pneumoniae.
Prevalensi resistensi terkait K. pneumoniae telah meningkat hingga 70% di seluruh dunia, dan angka kematian akibat infeksi juga meningkat hingga 40%“70%. Menurut studi terbaru, isolat K. Pneumoniae telah diidentifikasi sebagai resistan obat secara ekstensif (XDR) dan menghasilkan extended spectrum β-laktamase (ESBL) dan karbapenemase. Meskipun jarang dikenali sebagai penyebab penyakit bawaan makanan, keberadaan K. pneumoniae yang resisten dan berpotensi virulen dalam makanan dapat menimbulkan risiko kesehatan. Salah satu perhatian paling mendesak bagi kesehatan masyarakat global di abad ke-21 adalah resistensi antimikroba (AMR).
AMR merupakan hasil dari proses evolusi di mana bakteri, jamur, virus, dan parasit mengembangkan resistensi terhadap obat antimikroba, seperti antibiotik, yang sering digunakan untuk mengobati infeksi. Kontaminasi produk pangan dengan bakteri resisten terjadi karena hewan dan tumbuhan yang berfungsi sebagai sumber makanan bagi manusia dapat berperan sebagai vektor untuk transfer bakteri resisten antimikroba dan gen AMR ke manusia. Selain itu, kontak langsung antara manusia dan hewan atau lingkungan yang terinfeksi, atau dengan zat biologis yang mereka hasilkan, seperti darah, urin, feses, air liur, dan semen, dapat berkontribusi pada peningkatan AMR.
Penelitian ini difokuskan pada keberadaan K. pneumoniae sebagai bakteri penghasil ESBL utama yang memiliki sifat multidrug resistance (MDR) pada usap telur ayam di pasar tradisional, sehingga karakteristik resistensinya terhadap antibiotik yang berdampak pada kesehatan masyarakat dapat diketahui. Selain itu, sedikit data mengenai penemuan gen blaSHV pada K. pneumoniae penghasil ESBL yang diisolasi dari usap telur ayam merupakan pendorong utama penelitian ini. Lebih lanjut, deteksi gen ini dalam produk pangan, seperti telur ayam, menunjukkan potensi jalur penularan bakteri MDR ke manusia, yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Hasil isolasi dan identifikasi menunjukkan bahwa 41 sampel positif (25,62%) teridentifikasi sebagai bakteri K. pneumoniae. Sampel positif terdiri dari 28 swab cangkang telur ayam petelur (68,29%) dan 13 swab telur ayam kampung (31,70%). Tingginya insiden resistensi antibiotik dalam penelitian ini menunjukkan tingginya penyebaran resistensi antibiotik pada kulit telur yang dijual di pasar tradisional di Surabaya.
Peningkatan resistensi terhadap antibiotik sebagian besar disebabkan oleh penggunaan agen antimikroba yang tidak terkontrol untuk mengobati penyakit dan mendorong pertumbuhan ternak; kemudian, residu antibiotik dapat menyebar ke lingkungan, seperti tanah, air, dan udara. Mekanisme resistensi antibiotik pada bakteri melibatkan berbagai faktor, termasuk mutasi genetik, pertukaran genetik horizontal melalui konjugasi, transformasi, dan transduksi, serta tekanan selektif yang dihasilkan oleh paparan antibiotik yang berulang.
Data dari penelitian ini menunjukkan bahwa isolat K. pneumoniae yang diisolasi dari telur ayam petelur cenderung lebih resisten terhadap antibiotik dibandingkan telur ayam kampung. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ayam petelur sering diberi antibiotik untuk mencegah penyakit atau meningkatkan produktivitasnya, yang dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat-obatan tersebut. Kedua, ayam petelur dipelihara dalam jumlah yang lebih besar di dalam kandang, sehingga penyebaran bakteri lebih cepat dan penggunaan antibiotik lebih tinggi, sehingga transmisi gen resistensi menjadi tinggi.
Selain itu, proses pembersihan dan sanitasi di peternakan ayam petelur seringkali tidak sempurna, sehingga memungkinkan perkembangan bakteri resisten. Di sisi lain, ayam petelur dipelihara dengan cara yang lebih alami dan jarang diberi antibiotik, sehingga kemungkinan kontaminasi bakteri resisten pada telur ayam petelur lebih rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 14 isolat mengalami MDR dari 41 isolat K. pneumoniae (34,14%) yang diisolasi dari usapan kulit telur ayam petelur dan ayam kampung. MDR sering dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi, penyakit yang berkepanjangan, penurunan efektivitas pengobatan, dan peningkatan biaya medis yang sangat tinggi.
Resistensi antibiotik dipengaruhi oleh gen penghasil ESBL, yang dikode oleh plasmid pada K. pneumoniae dan meliputi SHV, TEM, dan CTX-M. Isolat K. pneumoniae yang resistan terhadap berbagai obat kemudian dilanjutkan dengan mendeteksi keberadaan gen penghasil ESBL, yaitu blaSHV. Uji PCR menunjukkan bahwa terdapat 10 dari 14 isolat bakteri K. pneumoniae dari usapan kulit telur dengan persentase 71,42%. Hasil ini mengidentifikasi 10 dari 14 isolat K. pneumoniae yang menghasilkan ESBL berdasarkan deteksi gen blaSHV. Satu isolat K. pneumoniae tidak mengandung gen blaSHV atau mungkin mengandung jenis gen ESBL lainnya.
Pada K. pneumoniae sebagai penghasil enzim ESBL yang sangat prevalen dan menyumbang 20% dari resistensi golongan penisilin yang dimediasi plasmid. Gen pengkode ESBL dengan cepat ditransfer dari hewan ke manusia atau sebaliknya oleh elemen genetik bergerak seperti transposon, urutan segmen DNA, dan integron pada bakteri. Faktor genetik ini juga dapat menyebarkan sifat resistensi ke bakteri lain di saluran pencernaan hewan, bakteri kemudian menginfeksi tanah dan air di sekitar peternakan saat mereka bergerak melalui limbah yang dimungkinkan oleh sanitasi dan kebersihan yang tidak memadai.
Bakteri penghasil ESBL telah ditemukan di produk pertanian, tanah, dan air di dekat peternakan dan pasar, selain di peternakan itu sendiri Kontaminasi pada produk telur dan bahan makanan lainnya dapat terjadi jika pengolahannya tidak dilakukan dengan kebersihan yang baik. Hasil ini menunjukkan bahwa bakteri penghasil ESBL menyebabkan penyakit bawaan makanan dan infeksi komunitas, selain infeksi nosokomial.
Penulis: Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., Mkes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Molecular detection of blaSHV gene in multidrug resistance of Klebsiella pneumoniae isolated from chicken egg shell swab from a traditional market in Surabaya. Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(5): 2193-2205. https://doi.org/10.5455/OVJ.2025.v15.i5.37





