51动漫

51动漫 Official Website

Determinan Kematian Bayi di Indonesia

Foto oleh radarlombok.co.id

Seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa krusial dalam siklus hidup manusia. Masih ditemukannya angka kematian bayi di berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa manajemen kesehatan di Indonesia masih perlu dibenahi. Angka kematian bayi merupakan hasil akhir dari berbagai faktor lingkungan, seperti komplikasi ibu, kondisi social-ekonomi, perilaku, maupun akses kesehatan. Berbagai negara, termasuk Indonesia memiliki komitmen global untuk menurunkan angka kematian bayi hingga 10 per 1000 kelahiran hidup. Sayangnya, pada tahun 2017, angka kematian bayi di Indonesia masih belum mencapai target ini.

Untuk menganalisis penyebab masih tingginya angka kematian bayi di Indonesia, Deviany, dkk (2022) melakukan penelitian di dua wilayah di Indonesia, yaitu Kabupaten Serang dan Kabupaten Jember. Penelitian yang dilakukan pada 2018 ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyebab kematian bayi yang terjadi di kedua wilayah tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebanyak 259 kasus kematian neonatal di kedua wilayah penelitian. Sebagian besar kematian terjadi pada periode 0-6 hari setelah dilahirkan. Berdasarkan faktor sosio-ekonomi, sepertiga kematian bayi ditemukan pada ibu yang berusia kurang dari 25 tahun; tidak pernah sekolah atau mengenyam pendidikan Sekolah Dasar; atau tidak memiliki asuransi atau bantuan kesehatan dari pemerintah. Hampir sebagian kasus kematian bayi juga ditemukan pada ibu yang menikah di usia kurang dari 19 tahun.

Wawancara mendalam dengan Teknik verbal autopsi dilakukan untuk menggali pola pencarian perawatan dan penyebab kematian pada bayi. Diketahui sebagian besar kasus kematian disebabkan oleh prematuritas maupun komplikasi persalinan. Rendahnya kemampuan orang tua atau keluarga dalam mengenali penyakit menyebabkan terlambatnya upaya pencarian perawatan karena sebagian besar kegawatan terjadi sejak di rumah. Sepertiga kasus bahkan telah ditemukan dalam kondisi sakit sedang atau parah sebelum keputusan  untuk mencari perawatan kesehatan dibuat. Beberapa bayi meninggal Ketika berada di fasilitas kesehatan maupun dalam proses rujukan. Di samping itu, sebagian besar bayi yang meninggal juga belum memiliki asuransi kesehatan.

Studi ini menunjukkan pentingnya pemberian edukasi kepada ibu hamil dan masyarakat luas untuk dapat mengenali gejala gangguan kehamilan sedini mungkin, serta jalur pencarian pelayanan kesehatan apabila terjadi kegawatan kehamilan maupun persalinan. Selain itu, penyediaan fasilitas kesehatan untuk menangani kasus kegawatan pada bayi dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan juga perlu dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi yang terjadi di fasilitas kesehatan. 

Penulis: Stefania Widya Setyaningtyas, S.Gz., M.P.H.

Link:

AKSES CEPAT