51动漫

51动漫 Official Website

Determinan yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap kekerasan berbasis gender

Ilustrasi Kasus Kekerasan yang Menimpa Korban. (Foto: Istockphoto).
Ilustrasi Kasus Kekerasan yang Menimpa Korban. (Foto: Istockphoto).

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah serius di seluruh dunia, baik bagi hak asasi manusia maupun kesehatan masyarakat, yang mengakibatkan dampak sosial, perkembangan, dan kesehatan yang berkelanjutan bagi perempuan dan anak-anak mereka. Meskipun terjadi penurunan global yang signifikan selama 30 tahun terakhir, kekerasan terhadap remaja perempuan terus berlanjut. Pada tahun 2023, Indonesia melaporkan 401.975 kasus kekerasan terhadap perempuan, yang menunjukkan bahwa perempuan adalah korban utama kekerasan. Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia secara tidak proporsional memengaruhi remaja perempuan. Pada tahun 2023, Jawa Timur muncul sebagai salah satu dari tiga provinsi teratas di Indonesia dengan kasus kekerasan berbasis gender tertinggi yang dilaporkan. Prevalensi kekerasan, khususnya terhadap remaja perempuan dan anak-anak, di Indonesia masih relatif tinggi.

Kekerasan terhadap perempuan memiliki konsekuensi fisik, seperti cedera, cacat, dan nyeri kronis, dan konsekuensi psikologis, seperti gejala depresi, gangguan sindrom pascatrauma (PTSD), stres, kecemasan, dan gangguan mental lainnya, dan konsekuensi sosial. Lingkungan yang tidak sehat atau tidak bersahabat dapat berkontribusi pada peningkatan perilaku kekerasan di masyarakat. Sikap, tradisi, dan adat istiadat yang mengurangi otonomi perempuan dapat memicu kekerasan berbasis gender dan memengaruhi status dan peran perempuan dalam rumah tangga dan masyarakat. Ketika orang terpapar pada norma sosial melalui sosialisasi, mereka sering kali mengintegrasikannya ke dalam sistem nilai mereka.

Jumlah anak-anak dan remaja yang terpapar kekerasan di lingkungan rumah, komunitas, sekolah, dan teman sebaya, baik sebagai saksi maupun korban terus meningkat. Paparan kekerasan pada anak-anak dan remaja berdampak negatif pada prestasi akademik dan berkontribusi pada masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, PTSD, agresi, dan penyalahgunaan zat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan pada kekerasan berbasis gender.

Studi ini menemukan bahwa tingkat pendidikan orang tua berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap kekerasan berbasis gender, sedangkan pekerjaan orang tua tidak berhubungan. Individu yang menganggur tidak berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan dalam rumah tangga dibandingkan dengan individu yang bekerja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dalam keluarga dengan konflik minimal, kesejahteraan dan kepuasan anggota lebih erat kaitannya dengan sikap mereka terhadap kekerasan berbasis gender daripada dengan status pekerjaan orang tua.

Pendidikan orangtua berkaitan dengan kemampuan individu dalam memahami informasi, kemudahan mengakses media, dan lembaga pendidikan yang membina perkembangan nilai-nilai dunia 渕odern. Orangtua memegang peranan penting dalam memberikan pemahaman awal tentang kesetaraan gender kepada anak; semakin baik peran orangtua dalam mendidik anak tentang isu gender, maka akan semakin baik pula pemahaman anak tentang gender. Peran orangtua juga dapat meningkatkan kemampuan penyesuaian diri anak terkait dengan sikap peran gender. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan orangtua tentang sikap terhadap kekerasan berbasis gender perlu dilakukan sejak dini; misalnya perlu diterapkan kepada pasangan yang hendak menikah, seperti pendidikan pranikah untuk memberikan wawasan tentang cara pandang terhadap peran gender dan pelatihan bagi keluarga untuk mengatasi konflik dan meningkatkan keterampilan mengasuh anak, yang secara khusus dirancang bagi orangtua yang memiliki anak remaja.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja perempuan juga mengatakan bahwa mereka memiliki konflik keluarga yang rendah dan perilaku menjadi korban yang rendah. Stereotip gender dapat menyebabkan pandangan yang terlalu disederhanakan dan tidak akurat tentang kelompok gender. Stereotip ini dapat membesar-besarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan diskriminasi terhadap kelompok tertentu, menyebabkan individu kehilangan individualitasnya dan berkontribusi pada kekerasan berbasis gender.

Iklim sekolah dan konflik keluarga berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap kekerasan berbasis gender. Keluarga adalah tempat anak-anak tumbuh dewasa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika anak-anak mengalami kekerasan saat tumbuh dewasa, hal itu terkait dengan sikap yang mendukung kekerasan terhadap pasangan dan secara tidak langsung memengaruhi perilaku kekerasan. Sekolah adalah bagian dari masyarakat dan mencerminkan tradisi dan nilai-nilai, yang merupakan norma interaksi dan aturan serta kode eksplisit dan implisit; pada saat yang sama, sekolah memainkan peran penting dalam perubahan sosial. Meskipun sekolah diakui sebagai tempat belajar, pengembangan pribadi, dan pemberdayaan, sekolah terkadang sering menjadi tempat diskriminasi dan kekerasan, terutama terhadap siswa perempuan.

Lingkungan keluarga dan sekolah adalah lingkungan tempat sebagian besar remaja menghabiskan waktu mereka. Perilaku yang dipelajari di sekolah dan di keluarga membentuk sikap dan perilaku remaja putri, yang berarti bahwa kedua lingkungan ini merupakan tempat yang perlu mendapatkan informasi tentang kekerasan berbasis gender. Di Indonesia, banyak yang masih menganut budaya patriarki, sebagaimana dibuktikan oleh sikap remaja perempuan yang percaya bahwa perempuan dan laki-laki tidak setara dalam hal pendidikan, perilaku, peran keluarga, dan peran masyarakat.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja perempuan memiliki sikap positif terhadap kekerasan berbasis gender, mengalami lingkungan sekolah yang positif, dan memiliki tingkat konflik keluarga dan perilaku viktimisasi yang rendah. Namun, hampir setengah dari remaja perempuan yang disurvei tidak setuju bahwa perempuan dapat menunjukkan perilaku yang sama dengan laki-laki, seperti berbicara tegas, memiliki hak pengambilan keputusan yang sama dalam keluarga, menduduki posisi kepemimpinan, dan mengejar karier. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa perilaku dianggap dapat diterima oleh perempuan, masih ada batasan dan harapan terhadap peran dan perilaku mereka. Misalnya, remaja perempuan dalam penelitian ini mendukung gagasan bahwa perempuan dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang secara tradisional dikaitkan dengan laki-laki, seperti bermain sepak bola atau menikmati kebebasan yang sama. Namun, mereka cenderung tidak setuju bahwa perempuan dapat memegang kekuasaan pengambilan keputusan yang sama dalam keluarga atau mengambil peran kepemimpinan.

Penelitian ini menekankan dampak signifikan dari keluarga, sekolah, norma sosial, media, dan citra politik dalam membentuk sikap remaja perempuan terhadap kekerasan berbasis gender. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa iklim sekolah dan konflik keluarga sangat memengaruhi sikap remaja perempuan terhadap kekerasan berbasis gender. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang pernah mengalami kekerasan mungkin ragu-ragu untuk mengungkapkan sepenuhnya pengalaman mereka karena faktor-faktor pribadi ini. Penelitian lebih lanjut harus mengeksplorasi karakteristik orang tua dan keluarga, termasuk pola pengasuhan, sikap terhadap kesetaraan gender, dan sikap terhadap perilaku kekerasan berbasis gender. Selain itu, diperlukan pemeriksaan yang lebih mendalam terhadap lingkungan yang lebih luas di sekitar gadis remaja yang terkait dengan perilaku kekerasan terhadap perempuan. Program yang efektif juga harus dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan remaja perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender di berbagai domain.

Penulis: Rr Dian Tristiana, Ika Nur Pratiwi, Ah Yusuf, R Endro Sulistyono

DOI:

AKSES CEPAT