Ketika kita mendengar kata diabetes, umumnya pikiran langsung tertuju pada gula darah tinggi, luka yang sulit sembuh, atau risiko penyakit jantung dan stroke. Namun, ada satu komplikasi lain yang sering terabaikan, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup pria, yaitu disfungsi ereksi (DE). Nyatanya, fakta data penelitian terakhir menunjukkan hampir 84 persen pria dengan diabetes tipe-2 yang memeriksakan diri ke Puskesmas mengalami masalah ini. Ironisnya, meskipun prevalensinya sangat tinggi, isu ini masih jarang sekali muncul ke permukaan, terlebih dalam percakapan antara tenaga kesehatan dan pasien.
Dalam sebuah penelitian, diskusi bersama 19 orang dokter dan perawat Puskesmas, kami menemukan beberapa alasan yang saling terkait. Pertama, topik seputar seksual masih dianggap tabu, sehingga baik pasien maupun tenaga kesehatan cenderung menghindarinya. Selain itu, faktor gender juga berpengaruh, rasa canggung yang dirasakan oleh tenaga kesehatan professional untuk membicarakan hal ini dengan pasien diabetes. Situasi semakin sulit karena ruang pelayanan di Puskesmas saat ini belum memberikan kecukupan privasi yang dapat menampung topik diskusi yang sensitif, sementara waktu konsultasi rata-rata hanya sepuluh hingga lima belas menit per pasien. Tidak mengherankan jika banyak tenaga kesehatan akhirnya memilih fokus pada komplikasi diabetes lain yang dianggap lebih serius, seperti jantung, stroke, atau luka kronis, sementara DE terlewat begitu saja.
Padahal, dampak dari disfungsi ereksi tidak bisa diremehkan. Lebih dari sekadar urusan ranjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri pria, merusak keharmonisan rumah tangga, bahkan membuat pasien kehilangan semangat untuk mengendalikan gula darah. Banyak pasien merasa frustrasi, berhenti minum obat, dan membiarkan kondisi mereka memburuk. Lebih jauh lagi, DE sebenarnya bisa menjadi tanda awal adanya penyakit jantung. Hal ini karena pembuluh darah di penis jauh lebih sensitif terhadap kerusakan dibandingkan arteri jantung, sehingga DE dapat menjadi peringatan dini masalah kardiovaskular yang lebih serius di masa depan.
Meski tantangan besar dihadapi, penelitian ini juga mencatat berbagai usulan solusi dari tenaga kesehatan. Ada yang menekankan pentingnya kampanye kesehatan publik untuk meningkatkan kesadaran bahwa DE bisa terkait dengan diabetes. Ada pula yang mendorong adanya pelatihan khusus bagi tenaga medis agar lebih percaya diri membicarakan topik sensitif ini. Beberapa menyarankan perlunya ruang privat di puskesmas atau setidaknya bilik dengan tirai untuk mendukung percakapan yang lebih terbuka. Selain itu, tenaga kesehatan berharap adanya formulir skrining standar yang mencantumkan pertanyaan seputar fungsi seksual, sehingga isu ini dapat lebih mudah diangkat tanpa menunggu pasien berinisiatif.
Sebuah pesan yang dapat diambil sebagai pelajaran, 淒E adalah bagian dari kebutuhan dasar kesehatan pria. Mengabaikannya berarti kita melewatkan peluang penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan diabetes. Hal ini menegaskan bahwa kesehatan seksual bukanlah hal sepele atau aib, melainkan bagian dari hak dasar setiap orang untuk hidup sehat dan sejahtera.
Kini saatnya kita berhenti menganggap pembicaraan mengenai disfungsi ereksi sebagai sesuatu yang tabu. Bagi pria dengan diabetes, keberanian untuk membuka diri kepada tenaga kesehatan adalah langkah awal menuju kualitas hidup yang lebih baik. Sementara itu, bagi tenaga kesehatan, kesediaan untuk mendengar dan memberikan ruang diskusi adalah wujud nyata pelayanan yang holistik.
Penulis: Setho Hadisuyatmana, S.Kep., Ns., M.Ns.
Informasi detail terkait detail ini dapat dilihat pada:





